
Sebuah mobil memasuki pelataran rumah kecil yang terdapat pohon besar di sana. Jef dan Kimmy turun dari mobilnya, mereka berdiri memandang ke arah rumah yang saat ini berada di depannya.
Rumah kecil itu sudah lama ia tinggalkan, tetapi rumah itu sama sskali tidak kotor atau sengaja ada orang yang membersihkan. Sedikit aneh, tapi dari sana keduanya dapat menyimpulkan jika seseorang tinggal di rumah tersebut.
"Mungkin kak Belle tinggal di sini," tebak Kimmy.
Jef menoleh, setelah mencari kemana-mana, mulai dari apartemen, villa, bahkan rumah peninggalan orang tua, apakah iya Belle bersembunyi di rumah kecil ini?
"Kita cek saja," ajak pria itu setelah beberapa saat terdiam.
Kimmy berjalan di belakang Jef, pria itu berniat untuk mengetuk pintu, tapi seketika urung pada saat seseorang keluar dan muncul dari balik pintu.
"Jef.." ucapnya lirih.
Meski menggunakan masker dan kacamata sebagai penutup wajah, Jef dan Kimmy masih bisa mengenali jika itu adalah Belle.
"Kak Belle, kau mau kemana?" tanya Kimmy saat bola matanya tertuju pada koper yang di bawa oleh wanita itu.
Alih-alih menjawa, wanita itu justru malah bergeming.
"Puas kalian melihatku hancur seperti ini, hah?" ucap Belle lirih namun penuh penekanan.
"PUAS KALIAN MELIHATKU HANCUR???" ulangnya dengan nada tinggi.
"Minggir..!!"
__ADS_1
Belle hendak menerobos mereka, namun Kimmy menghadang dan tidak membiarkan wanita itu pergi.
"Jangan pergi sebelum kau mendengarkan apa yang akan aku sampaikan padamu, kak Belle!" pinta Kimmy.
Belle berdecih. "Memangnya kau siapa berani mengatur hidupku?"
"Aku bukan siapa-siapa dalam hidupmu, tapi kau sangat berjasa dalam hidupku. Maka dari itu, biarkan aku bicara denganmu. Sebentar saja," tutur dan pinta Kimmy.
Setelah membujuk Belle dengan berbagai cara, akhirnya wanita itu mau di ajak bicara juga. Mereka kini duduk di kursi sederhana ruang tamu rumah tersebut.
"Kak Belle, sebelumnya aku berterima kasih sekali padamu. Karena kau, aku bisa menebus rumah bibiku yang di sita rentenir," ucap Kimmy, ia menghela napas guna melanjutkan kalimatnya.
"Sebenarnya jika pada saat itu kau memberiku syarat lain pun pasti akan aku lakukan. Tapi kaulah yang memintaku untuk menikah dengan suamimu, aku hanya berusaha melakukan apa yang kau minta pada saat itu," sambung wanita itu.
"Aku-"
Kimmy dan Jef memandang wanita itu dengan perasaan bingung.
"Andai aku tidak memintamu untuk menggantikan peran istri Jef agar bisa mendapatkan sebuah keturunan, mungkin yang saat ini tengah berbahagia adalah aku. Kami. Katakanlah aku wanita terbodoh, karena menolak hamil demi sebuah karir yang pada akhirnya, lalu karena karir aku hamil," lanjut wanita itu.
"Aku terlalu mementingkan karirku, tapi karir justru menghancurkanku. Itu semua karena aku bodoh, aku tidak bisa membedakan mana pekerjaan yang harus aku kerjakan dan tidaknya. Sampai akhirnya aku jatuh dalam pekerjaan yang salah yang membuat aku tenggelam dalam lubang kesengsaraan."
Belle mulai menitikan air matanya, ia merasa sesak ketika menceritakan apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini.
"Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaanku, justru menjadi hari yang teramat buruk. Semesta memberi aku sebuah kejutan yang tak terduga. Aku hamil dan seharusnya itu menjadi kabar baik, justru sebaliknya. Bahkan ayah dari calon bayiku tidak mau mengakui jika ini anaknya. Lim, dia tidak mau bertanggung jawab atas semua ini."
__ADS_1
Belle mengusap air matanya yang mulai deras, betapa malang nasibnya.
Kimmy yang mendengarnya ikut simpati, begitupun dengan Jef. Ia tidak menyangka jika mantan istrinya itu semenderita itu. Tentunya hal tersebut tidak terlepas dari keegoisannya selama ini.
Belle mendongakan wajahnya, kemudian meraih buah tangan Kimmy. "Kebahagiaan telah berpihak padamu, kaulah yang beruntung mendapatkannya. Tolong jangan sia-siakan suamimu seperti aku menyia-nyiakannya!" pinta wanita itu dengan tulus.
"Dan untukmu, Jef. Maaf jika selama aku menjadi istrimu, aku tidak menjalankan tugasku sebagai istri. Aku benar-benar minta maaf!" ucapnya.
Kelihatannya Belle tulus meminta maaf pada mereka, tidak ada kemunafikan juga di sana. Akhirnya, Kimmy dan Jef mau memaafkan Belle.
"Tapi bagaimanapun, Lim harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku hanya kasihan pada calon bayimu," ucap Jef setelah sekian lama memilih untuk diam.
"Biarkan saja, Jef. Ini akan menjadi pelajaran berharga untukku kedepannya. Lagipula aku akan pergi ke luar negeri untuk beberapa bulan ke depan sampai melahirkan anakku," sahut Belle.
Sebagai sesama orang yang sedang hamil Kimmy paham, Belle sedang mengandung dan tentunya berita yang saat ini sedang genpar di media sosial akan berakibat buruk jika itu membuat Belle stress berat, akan berprngaruh besar terhadap bayi yang ada dalam kandungan.
Dering ponsel milik Jef mendominasi, ia merogoh benda pipih tersebut dari saku celananya. Begitu di lihat, tertera nama Jay di sana.
"Halo.." ucap Jef begitu menjawab tersebut.
"Halo, tuan Jef. Saya hanya ingin memberi kabar jika pria atas nama Lim itu mengalami sebuah kecelakaan tragis."
Jef langsung menoleh ke arah Belle, Kimmy yang melihat itu merasa penasaran sekali.
"Lim mengalami kecelakan, Belle," ucap Jef lirih berusaha memberi tahu.
__ADS_1
Kedua bola mata Belle membulat sempurna.
Bersambung...