
Lexa dan Ziel tengah memperhatikan Kimmy dan pria yang tidak ia kenal. Keduanya masih bertanya-tanya siapakah orang itu. Azuma berjalan menghampiri mereka yang mengintip di balik kaca jendela.
"Sedang apa anak-anak ibu?"
Keduanya menutup gorden dengan refleks lalu membalikan badan.
"Ti-tidak, ibu," jawab Lexa gugup.
"Ibu kenal paman itu?" tanya Ziel, dan yang ia maksud adalah Jef.
Azuma tersenyum. Ia merangkul kedua anaknya dengan penuh cinta dan kasih. Tergambar kesedihan juga di wajahnya sebab ia menerima tawaran Anelis untuk tinggal di rumah bak istana itu.
"Itu paman Jef, sayang. Paman kalian," jawab wanita itu.
Lexa mengerutkan keningnya. "Paman kami, bu?" tanya Lexa mendapat anggukan dari ibunya.
"Iya, sayang."
"Aku punya paman, bu?" sahut Ziel.
"Iyaaa..."
"Asyiiiiikkkk..." sorak keduanya senang.
Melihat kedua anaknya senang sudah menjadi kebahagiaan untuk Azuma. Beruntungnya putra-putrinya tidak bertanya lebih jauh mengenai Jef, jadi ia tidak perlu mencari kata yang pas untuk menjelaskan pada kedua anaknya yang masih kecil.
Sementara Kimmy sedang menikmati mangga muda yang di coel pada sambal petis buatan bibinya.
__ADS_1
"Mmmm... Enak banget! Kau mau coba?" tawar Kimmy pada suaminya. Mereka duduk di ranjang bambu yang tidak jauh dari pohon mangga. Kebetulan teduh.
Dengan cepat Jef menggeleng. "Tidak, buat kau saja," tolak pria itu.
Melihatnya saja sudah membuat air liur beningnya banjir di dalam mulut. Apalagi jika mencobanya.
"Coba saja sedikit, ya!" Kimmy mengambilkan sepotong mangga tanpa di kupas kulitnya.
"Buat kau saja," tolak Jef.
"Sedikiiiit.. saja. Ya?!"
Kimmy hendak menyuapi Jef, tetapi pria itu tetap saja menolaknya.
"Kau mau anak kita ngences nantinya?"
"Ini bukan permintaanku. Ini bawaan anak kita. Jika kau menurutinya, maka anak kita akan ngences nanti," jelas Kimmy.
Jef terdiam dan menganggap itu hanya sebuah mitos belaka. Apa hubungannya tidak mau makan mangga muda itu dengan ngencesnya sang anak. Bukankah setiap bayi selalu ngences karena belum bisa meludah?
"Coba, ya..?!" pinta Kimmy sedikit memohon.
Jef menatap wajah Kimmy lekat. Gadis itu berharap jika dirinya mau memakan mangga muda tersebut. Kimmy sudah menyodorkan di depan wajahnya. Perlahan, ia membuka mulut dan mau memakan mangga tersebut dari tangan istrinya.
Kimmy mengembangkan senyumnya lebar. Kemudian terkekeh melihat Jef yang merem melek mengunyah mangga muda tersebut saking masamnya.
"Mau lagi?" tawar Kimmy dengan cepat di tolak.
__ADS_1
"Sudah cukup!" jawab pria itu seraya menutup mulutnya.
Padahal Kimmy hanya bercanda. Tapi ia merasa senang, sebab Jef mau memenuhi permintaannya yang aneh-aneh. Semoga Jef tidak akan pernah lelah mendengar permintaannya yang bisa jadi lebih aneh lagi. Sebab bawaan bayi tidak bisa kita kontrol.
"Bibi Kimmy.." panggil Ziel tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. "Ini paman aku?" tanya bocah itu kemudian.
"Hm?" Kimmy sedikit terkejut, kemudian berusaha tersenyum. Mungkin bibinya sudah menceritakan pada bocah itu. "Iya, El sayang. Ini pamanmu."
"Hai, paman. Nama aku Ziel, panggil saja aku El."
Ziel mengulurkan tangan mungilnya pada pria yang kini menatapnya gemas.
"Hai, El," Jef menjabat tangan mungil milik Ziel, kemudian memeluk bocah itu, mengacak rambutnya dengan gemas.
"Bagaimana jika kita bermain bersama?" tawar bocah itu ketika Jef sudah melepaskan pelukannya.
Jef memandang ke arah Kimmy dan mendapat anggukan. Kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke bocah yang sedang menanti jawabannya.
"Iya, ayo!"
"Yeyeyeeeeee..." Ziel pun bersorak girang.
Ia berlari kecil dari sana. Meminta Jef untuk menangkapnya.
"Tangkap aku, pamaaaan..!" teriak bocah itu sambil berlari.
Jef pun turun dari ranjang. Mengejar bocah itu dengan berlari kecil. Setelah berhasil menangkap Ziel, ia mengelitiki perut bocah itu sehingga menciptakan tawa yang membuat Kimmy maupun Azuma yang melihatnya ikut bahagia.
__ADS_1
Bersambung...