
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Key dan Belle mengisi waktunya dengan mengobrol ringan.
"Jadi bagaimana, Belle, kenapa kau tidak syuting hari ini?" tanya Key memulai percakapan.
Belle menghela napas berat. Sebenarnya ia masih ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada pria di hadapannya. Tapi, saat ini ia sedang butuh sekali teman curhat.
"Suamiku memutuskan kontrak kerjaku dengan mereka," jawab Belle membuat Key masih tampak tidak paham.
"Why?"
"Ya... Memang pada awalnya aku sempat ragu untuk memainkan karakter di film itu. Tapi kau bilang itu hanya adegan biasa dan kita harus bekerja secara profesional. Namun pada kenyataannya, adegan itu sangat berlebihan untukku. Sehingga suamiku marah besar padaku," jelasnya.
"Lantas, bagaimana nasib karir dan rumah tanggamu sekarang?" tanya Key lagi, seakan tidak puas akan cerita Belle.
"Entahlah. Pihak mereka mengancamku tidak akan pernah mendapatkan job lagi. Rumah tanggaku sempat goyah, tapi setelah kejadian tadi pagi, aku rasa hubungan antara aku dan suamku sudah lebih membaik." Belle mengulas senyum ketika mengingat buket mawar yang ia temukan di depan rumah.
"Benarkah?" tanya Key ragu.
"Iya. Suamiku memberi aku bunga kesukaanku. Hal yang merupakan lambang bahwa dia begitu mencintaiku," ujar Belle dengan rasa penuh percaya diri.
"Syukurlah jika demikian. Aku ikut senang dengarnya."
"Terima kasih, Key!"
"Sama-sama."
Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka, sampai akhirnya seorang pelayan resto datang mengantar menu pesanan dan menaruhnya di atas meja. Keduanya saling mengucapkan terima kasih pada sang pelayan.
__ADS_1
"Oh, ya, omong-omong, kenapa suamimu bisa marah besar padamu. Apa beliau tidak tahu jika kau main film dengan adegan yang sensitif?" tanya Key lagi di sela-sela makan siang mereka.
Belle mengunyah makanan di dalam mulutnya lalu menelannya setelah lembut.
"Itu dia, Key. Itu yang menjadi penyebab utamanya. Aku memang tidak pernah cerita soal film tersebut dari awal. Saat aku di desak untuk membuat keputusan menerima tawaran film itu atau tidak, aku belum mempertimbangkan semuanya dengan suamiku. Begitu aku sudah menanda tangani kontrak kerjanya, aku baru meminta izin padanya. Oleh sebab itu suamiku marah dan meminta aku untuk membatalkan kontrak kerjanya," terang Belle, kemudian menyendok kembali makanan di piringnya.
"Lalu kenapa kau tetap melanjutkan kontrak kerjanya? Apa permintaan suamimu sama sekali tidak berpengaruh dalam hidupmu?"
"Tentu saja aku menuruti permintaan suamiku, Key. Tetapi semua itu sirna ketika mereka mengancamku dengan berbagai hal. Seperti akan mengumumkan bahwa aku bukanlah seorang aktris yang profesional, juga aku akan kehilangan banyak job untuk itu."
Key menyunggingkan bibirnya. "Kenapa kau tidak ancam balik saja mereka? Jika kau memang benar-benar ingin memutus kontrak kerja samanya, suamimu pasti akan mendukung penuh sebab itu permintaannya. Toh, suamimu juga bukan orang sembarangan, Belle!" tutur pria itu.
Belle terdiam sejenak. Kenapa ia tidak pernah kepikiran akan hal itu. Mungkin saat itu ia di penuhi oleh rasa takut, sehingga mudah sekali untuk di pengaruhi.
"Tapi kan kau juga yang mengatakan aku harus profesional, Key!" sergah Belle.
"Begini, Belle. Aku hanya mengatakan jika adegan vulgar itu hal yang lumrah dan kita sebagai seorang aktor atau aktris harus profesional. Tapi jika itu hal tersebut sudah kelewat wajar, bukan profesional lagi namanya, melainkan menjatuhkan harga diri sendiri," imbuh pria itu.
Belle tertegun. Sejak awal memang ia yang salah. Menanda tangani kontrak kerja sama itu langsung tanpa mencari tahu dirinya akan seperti apa nantinya.
"Tidak usah terlalu di pikirkan, Belle. Masih banyak rumah produksi yang menginginkan kau menjadi pemeran utama film mereka. Dan besok, film kita akan tayang. Aku yakin, namamu pasti akan semakin besar," tutur Key lagi.
Belle hanya menanggapinya dengan senyum. Mungkin namanya akan semakin besar berkat filmnya akan akan tayang besok, tapi apa jadinya jika film-nya dengan Lim itu di tayangkan? Apakah pepatah di terbangkan lalu di jatuhkan itu benar adanya? Belle mencemaskan akan hal itu.
Seketika, Belle teringat video yang Jef maksud. Rasa keingin tahuannya tentang siapa orang yang mengirim video itu semakin besar.
"Key, selain acara tayang perdananya film kita besok, apa kau memiliki aktivitas dan kesibukan lain?"
__ADS_1
Belle menarap pria itu sambil berharap jika Key memiliki banyak waktu luang.
"Tidak ada. Aku belum mendapat job main film baru. Ada, sih, tapi masih lama."
Belle menghela napas lega mendengar jawaban Key.
"Kenapa memangnya?" tanya Key penasaran.
"Aku butuh bantuanmu, Key. Apa kau bersedia membantuku?"
"Bantuan apa?"
Kemudian Belle mengatakan apa yang menjadi tujuannya. Pria itu mengangguk-anggukan kepalanya paham seiring rencana yang di katakan oleh Belle.
"Bagaimana, apa kau bersedia membantuku, Key?" tanya Belle memastikan dan mendapat anggukan dari pria itu.
"Ok, tentu saja. Sepertinya akan seru juga main detektif-detektifan," sahut pria itu di sambut tawa oleh Belle.
"Hahaha... Tapi ingat, harus hati-hati!"
"Ok, siap."
Belle sedikit merasa lega, akhirnya Key mau membantunya untuk mencari tahu siapa orang yang selama ini mengiriminya video itu pada Jef dan mama Anelis. Sebab Belle yakin, jika orang itu pasti mengawasi gerak-geriknya. Ia harus waspada, jika perlu siaga.
Sebuah layar ponsel dari kejauhan memotret meja yang terdapat Belle dan Key. Seseorang itu tersenyum menyeringai lalu mengirim foto tersebut pada nomer tujuan.
Bersambung...
__ADS_1