
Pagi ini Kimmy berangkat pagi-pagi sekali. Ia tidak ingin terlambat hari kedua kerjanya. Tangannya sibuk menenteng tas berisi kotak bekal sarapan untuk Jef. Dan kini ia sudah tiba di tujuan.
"Selamat pagi, nona," sapa seorang security di gedung tersebut.
"Pagi," balas Kimmy, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung.
Kimmy masuk ke dalam lift yang membawanya ke lantai tempat dirinya bekerja. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati seorang pria bertubuh besar nan tinggi berdiri ketika pintu lift terbuka.
"J-, tuan Jef?"
Meskipun pria itu suaminya, tetapi ia harus menempatkan posisi sebagai karyawan Jef di kantor. Ia tidak percaya jika suaminya itu sudah berada di kantor sepagi ini.
"Ikut aku!" pinta Jef pada gadis yang masih melongo melihatnya, kebetulan gedung masih sepi, jadi masih bisa di pastikan aman jika dirinya membawa Kimmy ke ruangannya.
Akhirnya Kimmy berjalan mengekor di belakang Jef. Pandangannya terfokus pada punggung pria di hadapannya yang tampak lebar dan gagah.
"Masuk!" Jef membuka pintu ruangannya, Kimmy pun mengangguk menurut.
Begitu masuk ke dalam ruangan tersebut, Kimmy di buat takjub lantaran ruangan itu cukup luas. Terdapat sofa panjang, meja kerja, dan yang lainnya.
"Taruh bekal sarapanku di sana," Jef menunjuk meja kaca yang berada di antara sofa. "Setelah itu kembali ke tempat kerjamu!"
Kimmy sedikit terkejut sekaligus lega mendengarkan apa yang di katakan suaminya. Ia pikir Jef akan melakukan ataupun mengatakan sesuatu yang lain padanya.
__ADS_1
"Baik," jawab Kimmy lirih.
"Jangan sampai ada yang tahu jika kau istri gelapku!" pinta Jef lirih begitu Kimmy melewati dirinya.
"Iya."
Kimmy pun bergegas melangkahkan kaki keluar dari ruangan Jef. Untuk kedua kalinya, ia melihat pria berkacamata menatap dirinya aneh begitu berpapasan. Ia menundukkan kepalanya sopan pada pria itu, lalu pergi dari sana.
***
Siang ini Belle di undang makan siang bersama oleh pihak rumah produksi Maxjaya Pictures. Bersama Rasson-managernya ia pergi ke sana.
"Selamat siang nona Mirabelle, senang bertemu denganmu," ucap salah satu dari mereka menyambut kedatangan Belle.
Mereka terdiri dari lima orang, di tambah Belle dan Rasson jadi jumlahnya tujuh orang. Sambil menunggu pesanan makanan datang, mereka berbincang-bincang mengenai film yang akan di garap.
"Syuting akan di mulai minggu depan, dan ini naskah serta kerangka cerita film tersebut," pria bertubuh pendek itu menyerahkan beberapa lembar pada Belle.
Belle terperangah membaca pembukaan film tersebut dengan adegan ranjang panas.
"Apa adegan ini tidak bisa di skip?" tanya Belle menawar.
"Tidak bisa, nona," jawab pria itu.
__ADS_1
Belle menoleh pada Rasson yang duduk di sampingnya, pria itu begitu terlihat sedikit mengkhawatirkan nasib Belle ke depan. Namanya kini sudah melambung dan di kenal baik oleh banyak orang, bahkan sampai ke luar negeri, dengan memerankan karakter yang bertolak belakang apakah wanita itu semakin di agungkan atau justru sebaliknya?
"Aku kurang yakin bisa memerankan karakter tokoh di cerita ini. Bagaimana jika aku membatalkan saja kontraknya?"
Mereka terlihat saling menatap satu sama lain, waktunya sudah sangat sempit, lagipula Belle juga sudah menanda tangani kontrak kerja samanya.
"Oh jelas tidak bisa, nona Belle. Kalau kau tidak yakin dengan film yang akan kami garap, kenapa kau menanda tangani kontraknya? Kau meragukan tim kami?" pria yang duduk di seberang Belle tampak marah.
"Bukan begitu, tapi suamiku tidak mengizinkan aku beradegan ini. Aku akan tetap melanjutkan kontraknya jika adegan seperti ini di hilangkan," protes Belle.
"Itu masalahmu, bukan masalah kami, nona. Kami harap kau bisa bekerja secara profesional. Apa kau tahu, film luar negeri bahkan lebih parah dari ini, dan mereka biasa saja bahkan menikmatinya. Tenang saja, nona Belle, film ini pasti akan meledak bahkan bisa melebihi film-mu yang lama itu," tegas mereka meyakinkan.
"Tapi aku tetap akan mundur dari film ini," seru Belle kukuh, ia tidak mau hubungan rumah tangganya dengan Jef rusak gara-gara ini.
"Baiklah jika itu maumu, tapi jangan salahkan kami jika kau tidak akan mendapat job dari rumah produksi manapun karena cara kerjamu tidak profesional," ancamnya.
"Dan satu lagi, namamu akan hancur dan redup," imbuh mereka.
"Tapi-" baru saja akan memprotes, tapi mereka sudah pergi meninggalkan meja, membatalkan makan siangnya.
"Tunggu... Kita bisa bicarakan ini lagi baik-baik..." Teriak Belle, tetapi hal itu tidak bisa mencegah kepergian mereka.
"Rasson.. Bagaimana ini?" tanya Belle panik, sedang Rasson sendiri pun terlihat bingung.
__ADS_1
Bersambung...