Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Pencabutan Kontrak Kerja


__ADS_3

Azuma baru saja merapikan piring kotor bekas makan malam bersama putra putrinya. Ia tertegun, memikirkan nasib kehidupannya kedepannya. Kebutuhan semakin banyak sementara keuangannya semakin menipis. Hal tersebut terjadi lantaran dirinya tidak bekerja, uang yang ia milikki itupun pemberian dari Kimmy terakhir gadis itu berkunjung ke rumahnya.


"Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan. Tidak mungkin aku terus bergantung pada Kimmy, aku juga harus menghasilkan uang. Tahun ini Lexa sudah harus sekolah," keluhnya.


Mulai besok, Azuma berniat untuk mencari lowongan pekerjaa. Mulai dari tanya-tanya pada tetangganya, sampai melihat poster lowongan kerja di sisi jalan seperti di tiang listrik.


Sementara di tempat kediaman Belle. Wanita itu tengah jalan mondar-mandir di kamarnya. Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh Imel padanya. Wanita itu sungguh terobsesi pada Jef, sehingga melakukan cara apapun demi kepentingan pribadinya.


Kini Belle teringat Jef di sana sedang apa, dan yang membuatnya kesal nama Kimmy ikut muncul di kepalanya.


"Barcelona itu bukan negara kecil. Andai aku tahu mereka pergi ke tempat mana, sudah pasti aku susul Jef sekarang juga," ujarnya.


Ding dooong...


Suara bel yang di tekan oleh seseorang menandakan ada tamu. Hal tersebut mengalihkan perhatian Belle. Alih-alih beranjak guna menyambut sang tamu, ia justru terdiam sejenak di tempat.


"Siapa yang bertamu malam-malam?" pikirnya.


Ia ragu untuk turun ke lantai bawah. Tetapi keraguan itu seakan di tepis ketika ia berpikir mungkin itu tamu yang memiliki kepentingan dengannya. Sehingga satpam rumahnya membukakan pintu gerbang dan membiarkan tamunya untuk masuk ke area pelaratan rumahnya.


Belle melangkahkan kaki keluar kamar. Menuruni anak tangga dan berhenti tepat di depan pintu depan rumah. Ia meraih gagang pintu kemudian membukakan pintunya.


"Rasson..?" pekik Belle, ternyata manager-nya yang datang. "Ada apa kau ke rumahku?" tanya Belle kemudian.


"Boleh aku masuk? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu," pinta pria itu.

__ADS_1


Belle sedikit ragu memasukan pria ke dalam rumahnya dalam posisi tidak ada siapa-siapa di rumahnya selain asisten rumah dan satpamnya. Tetapi ketika ia melihat beberapa lembar map di tangan pria itu, ia pun mempersilahkan Rasson untuk masuk.


"Ya sudah, masuk!"


"Terima kasih, Belle," ucapnya.


Belle mempersilahkan Rasson untuk duduk di sofa single, sementara dirinya duduk di sofa panjang.


"Mau minum apa? Aku minta asisten rumahku untuk membuatkannya," tawar Belle namun di tolak oleh pria itu.


"Tidak usah, Belle. Lagipula aku tidak akan lama," sahutnya.


Belle mengangguk-anggukan kepalanya. Rasson mulai menaruh kertas yang ia bawa ke atas meja. Wajahnya pun kini tampak serius.


"Sebelumnya aku mau minta maaf padamu, Belle. Sebab aku tidak memberi tahumu jika suaminya akan datang ke lokasi syuting pada saat itu. Dia yang memintaku untuk tidak memberi tahumu," ucap Rasson merasa bersalah.


"Iya, tidak apa-apa. Lagipula semua sudah terjadi. Tidak akan mengubah apapun juga, bukan?"


Ucapan Belle membuat pria itu semakin merasa bersalah. Mengingat bagaimana suami Belle marah-marah di lokasi syuting sampai harus berdebat dengan tim kru juga menghajar Lim, bahkan kontrak Belle di cabut.


"Maaf, Belle. Saat itu posisiku sangat bingung, jika aku tidak memberi tahu lokasinya pada suamimu, dia pasti akan berpikiran yang mcam-macam. Aku bisa terlibat jika demikian."


"Iya, aku paham. Aku bilang kan tidak apa-apa. Sudah, jangan di bahas lagi!"


Rasson pun merasa sedikit lega. Setidaknya ia sudah meminta maaf pada Belle, dan ia tidak akan lagi di hantui rasa bersalah atas kejadian itu.

__ADS_1


"Oh ya, aku datang kemari untuk mengantarkan ini." Rasson memberikan salah satu map pada Belle, wanita itu menerima map tersebut dari tangannya.


"Apa ini?"


"Surat pencabutan kontrak kerjamu dengan Maxjaya Pictures. Di sana tertulis jika kau tidak akan mendapat royalti, dan harus membayar denda sebanyak satu milyar," jelas Rasson, Belle refleks membulatkan matanya.


"Denda satu milyar?" ulangnya kaget, kemudian melihat ke tulisan yang tertera di kertas tersebut. "Gilaaa.. Ini namanya pemerasan!"


"Jika kau tidak membayar denda tersebut, maka mereka siap menghancurkan karirmu, Belle," ucap pria itu.


Belle memegang sisi kepalanya, menandakan jika dirinya tengah di landa pusing lantaran hidupnya di timpa masalah yang bertubi-tubi.


"Dan ini surat pengunduran kerjaku sebagai managermu, Belle." Rasson memberikan satu map lainnya. "Mulai hari ini aku berhenti menjadi managermu," sambung pria itu membuat Belle terperangah.


"Apa maksudmu, Rasson?" tanya Belle di buat lebih terkejut oleh apa yang di sampaikan pria itu.


"Maaf, Belle. Aku sudah tidak bisa lagi kerja denganmu, aku sudah mendapat aktris baru yang akan aku manageri."


Belle sangat marah sekarang. Ia merasa seperti berada di ambang kehancuran.


"Benar-benar brengsek kau, Son! Kau meninggalkan aku sebelum karirku benar-benar jatuh. Aku pastikan kau akan menyesal karena sudah mengambil keputusan bodoh!"


"Sekali lagi aku minta maaf, Belle. Terima kasih selama ini telah menjadikan aku sebagai managermu. Semoga kau bisa lebih sukses. Permisi!" pamitnya, meninggalkan Belle yang di kungngkung emosi.


"Brengseeeekkk....!" makinya, kemudian merobek kertas di dalam map tersebut sampai berkeping-keping. Ia melemparnya ke udara sehingga kertas tersebut terbang dan jatuh berserakan.

__ADS_1


Bersambung...


...Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa. Jadilah pembaca yang budiman, meninggalkan jejak like, komen, vote, dan juga hadiah sebagai bentuk dukungan kalian. Jangan jadi pembaca gelap meski cerita ini menceritakan seorang istri gelap. ...


__ADS_2