
"A aawww...!" Belle memekik kesakitan ketika Kimmy tengah mengobati luka di tangannya.
"Pelan-pelan, Kimmy!" pinta Jef tidak tega melihat Belle kesakitan.
"Iya.." jawab Kimmy tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Lain kali lebih hati-hati kalau sedang berada di dapur, Belle! Kalau tidak, bukan hanya tanganmu yang terluka, tapi rumahnya," ujar Anelis yang juga berada di sana.
Semua orang seakan bingung akan maksud ucapan wanita itu.
"Belle kan tidak mengerti pekerjaan rumah terutama di dapur. Kalau dia memaksakan diri lalu menyalakan kompor, yang ada bisa kebakaran rumah ini," imbuh wanita itu, terdengar lembut tapi begitu menghujam perasaan Belle. Sebab di balik kata tersebut terdapat makna sindiran keras.
"Sudah selesai," ucap Kimmy usai mengolesi luka Belle dengan obat krim.
Belle segera menjauhkan tangannya dari Kimmy, ia merasa tidak sudi gadis itu menyentuh bagian tubuhnya.
"Ucapkan terima kasih padanya, Belle!" titah Jef pada istrinya.
"Aku tidak minta di obati olehnya," jawab wanita itu.
"Tidak apa-apa, Jef! Lagipula aku bukan orang yang gila akan hormat," sahut Kimmy di iringi senyum yang membuat Belle ingin mencakar wajahnya.
__ADS_1
"Ya sudah, terima kasih, Kimmy!" ucap Jef mewakili.
"Sama-sama," balas Kimmy.
Seorang ketua juru masak bernama Rami menghampiri mereka.
"Tuan Abellard, nyonya Anelis, makanannya sudah siap," lapor Rami kepada majikannya.
"Terima kasih banyak!"
"Iya, nyonya. Kalau begitu, saya kembali ke dapur," pamit wanita itu.
"Iya, ma."
Semuanya bergegas pergi menuju ruang makan dengan meja panjang yang terdapat 8 kursi. Aroma kuah soto tercium begitu menggugah selera makan mereka kali ini. Abellard tidak sabar untuk segera mencicipi makanan yang menjadi menu favoritnya.
"Kok, agak beda, ya? Rasanya lebih enak dan segar," ujar Abellard begitu mencicipi kuah sotonya.
"Saran dari Kimmy, pa. Kata Kimmy harus di tambahin perasan jeruk nipis, biar rasanya lebih sedap," jawab Anelis membuat Abellard melemparkan senyum kagum pada wanita yang duduk di hadapan putranya.
"Kau anak chef, ya?" tebak pria paruh baya itu.
__ADS_1
"Bukan. Aku anak manusia," jawab Kimmy menciptakan gelak tawa dari mulut Abellard dan Anelis tertawa, Jef hanya tersenyum sedangkan Belle mencebikkan bibirnya.
Semua yang ada di meja makan mulai menyantap hidangan soto yang masih mengepul. Abellard tak henti-hentinya memuji Kimmy karena rasa soto yang tengah di santapnya.
"Tangan aku sakit, sayang. Suapin aku, ya!" pinta Belle sesikit merengek.
"Iya, sayang."
Kimmy yang semula tertunduk pada mangkuknya kini sedikit mendongakan kepalanya. Kedua bola matanya di suguhkan oleh pemandangan Belle yang tengah bermanja-manjaan pada Jef.
"Berantakan, Jef," rengek Belle lagi ketika kuah sotonya menetes ke bagian dagu.
Pria itu segera mengambil tisu untuk menyeka mulut Belle. Pemandangan tersebut pun menarik perhatian Anelis, wanita paruh baya itu melirik gadis yang duduk di sampingnya. Ia tahu bagaimana perasaan Kimmy sekarang.
"Nambah lagi, Kimmy," tawar Anelis untuk mengalihkan perhatian Kimmy.
"I-iya, ma," jawab Kimmy sedikit gugup.
Kimmy kembali menyantap soto yang masih tersisa di dalam mangkuknya. Sambil sesekali melirik dua orang yang ada di sebrang hadapannya yang tampak begitu mesra. Aneh, entah kenapa Kimmy tidak menyukai hal itu.
Bersambung...
__ADS_1