
Belle mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika sinar mentari menyelusup masuk ke celah jendela kamarnya yang menusuk ke kornea mata. Ia bangun, duduk menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Ingatan semalam tentang Lim membuatnya kembali tersulut emosi. Takut, cemas, akan ancaman pria muda itu menjadi hal yang membuatnya was-was.
"Kenapa Lim harus tahu semua ini? Sial! Bagaimana jika dia benar-benar membocorkan rahasia rumah tanggaku? Aaaarrghh..."
Belle melempar bantal ke sembarang arah. Harus dengan cara apa agar ia bisa mencegah Lim.
Ponselnya yang tergeletak di atas nakas mendapati sebuah notifikasi pesan masuk. Ia meraih ponsel tersebut dan membaca pesan yang baru saja seseorang kirimkan.
Selamat pagi, Mirabelle. Selamat mengawali kehidupan barumu.
Pesan tersebut di kirim oleh Lim. Pesan singkat sederhana yang berhasil membuat Belle kembali naik darah. Ia mencoba mengatur deru napasnya yang memburu, membendung emosi yang nyaris meluap. Setelah merasa sedikit tenang dan membaik, pikirannya kini tertuju pada suaminya yang katanya akan pergi ke luar negeri bersama Kimmy.
"Jef tidak boleh pergi tanpa aku! Tidak boleh!"
Belle menyingraikan selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Ia bergegas pergi ke kamar mandi, membersihkan badan, bersiap-siap pergi ke tempat kediaman Abellard guna mencegah kepergian Jef dan Kimmy. Ia tidak memperdulikan jika hari ini ia masih harus ke bioskop guna menyapa para penonton.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian, ia keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah tampak rapi. Kakinya dengan cepat menuruni anak tangga tanpa takut terjatuh. Melangkah tergesa-gesa menuju mobil. Secepat kilatan api, mobil itu sudah ia kemudikan melewati gerbang yang baru saja satpam rumahnya bukakan. Satpam tersebut masih aman, sebab Belle tidak punya waktu untuk mengintrogasi satpam tersebut.
***
Tiiiiddd.. Tiiiddd....
Belle menekan klakson mobilnya, saat satpam rumah keluarga Abellard tak kunjung membukakan pintu gerbang. Ia lekas turun dari mobil, meneriaki nama Jef di sela-sela gerbang.
"Jeeeefff... Sayaaang... Jeeeff..." teriaknya membuat satpam rumah itu lari menghampirinya.
"Ini bukan pasar, nyonya. Jangan teriak-teriak membuat kegaduhan di rumah yang penuh ketenangan ini," ujar satpam itu.
"Suami nyonya siapa, ya?" tanya satpam itu membuat Belle geram.
"Berhenti bermain-main denganku! Kau hanya pelayan di rumah ini. Sekarang bukakan pintu gerbangnya!"
__ADS_1
"Saya tidak main-main, nyonya Mirabelle. Kalau benar nyonya masih istri tuan Jef, kenapa nyonya tidak tahu keberadaan suaminya? Hayoooo.. Pasti gak di kasih kabar, yaaa?" ujar satpam itu dengan nada meledek.
Belle bergeming. Ucapan satpam itu membuatnya berpikir jika Jef sepertinya sudah tidak ada di rumah ini. Apa Jef sudah berangkat?
"Jadi Jef sudah berangkat?" tanya Belle memastikan.
"Benar, nyonya. Tuan Jef sedang bulan madu dengan nyonya Kimmy. Pasti sekarang mereka sedang bersenang-senang. Andai saja saya bisa ikut, mungkin saya juga sedang bersenang-senang di sana. Tapi, tuan Jef tidak menginginkan kehadiran siapapun selain nyonya Kimmy. Termasuk..." satpam itu menggantung kalimatnya, kemudian tersenyum meledek.
"Tutup mulutmu dan jangan bicara kurang ajar!" sentak Belle.
Wanita itu beranjak dari sana, pergi meninggalkan satpam yang membuatnya geram.
"Siapa yang datang?" tanya Anelis begitu mobil Belle sudah undur dari sana.
Satpam tersebut menoleh. "Biasa, nyonya. Orang iseng," jawabnya.
__ADS_1
"Oohh.." ucap wanita paruh baya itu, kemudian menoleh ke arah perginya mobil Belle. Perasaan tadi ia mendengar suara seseorang yang tidak asing di telinganya. Tapi, mungkin ia salah dengar.
Bersambung...