Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Ada Rasa Bersalah


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, usai makan malam. Kimmy kembali ke kamarnya, masih di tempat kediaman Abellard. Ia duduk di lantai dengan punggung yang menyandar ke sisi ranjang tempat tidur. Kedua lututnya sengaja ia lipat, kedua tangannya memeluk kedua kakinya tersebut. Tatapannya tampak kosong, dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


Air matanya seketika luruh membasahi kedua pipinya. Entah apa yang saat ini ia pikirkan, sulit sekali untuk di tebak. Memilih menyendiri dan meluapkan segala keluh kesahnya sendiri.


"Jujur aku ini layak di bilang egois! Egois karena ingin mendapatkan sebuah kebahagiaan di tengah-tengah kebahagiaan pernikahan suamiku dengan kak Belle," ujar gadis itu di antara isak tangisnya.


"Aku tidak sekuat yang kalian pikir. Aku melakukan semua ini demi mendapat sepercik kebahagiaan yang selama ini tidak ku milikki. Mereka terlalu sempurna untuk aku yang tidak pernah merasakan kehangatan keluarga. Pelukan seorang ibu, dan kasih sayang seorang ayah," imbuhnya, kemudian menyeka air mata yang kian menderas.


"Aku sangat bersyukur memiliki bibi Azuma yang merawat juga menyayangiku seperti anaknya sendiri. Tapi tidak bisa ku bohongi, hati kecilku tetap merindukan sosok keluarga. Aku ingin mempertahankan pernikahanku, karena aku ingin hidup di antara sebuah keluarga, mengharapkan sebuah kebahagiaan yang sudah tampak di depan mata. Apa aku juga berdosa sebab harus bahagia di antara penderitaan kak Belle?"


"Meski sikap kak Belle demikian, beliau tetap wanita yang sangat berjasa. Memberi aku uang walau berupa mas kawinku untuk menebus rumah bibi Azuma. Tapi apa aku salah jika memperjuangkan kebahagiaan yanh selama ini aku korbankan?"


Kimmy menangis sesenggukan. Ia selalu terlihat tegar dan pemberani, tapi sebagai seorang perempuan ia tetap memiliki fase dimana hati sangatlah rapuh.


"Pertanyaan Jef kala itu yang telah membuat pikiranku terbuka. Pernikahan yang awalnya kita sepakati hanya sekedar saling menguntungkan, ternyata akulah pihak yang di rugikan. Jef benar, apa aku rela memberikan darah dagingku pada mereka? Itulah sebabnya aku mulai berpikir untuk memperjuangkan kebahagiaanku."


Kimmy menyeka air matanya menggunakan punggung tangan, ia mulai menguatkan diri agar tidak lemah. Sebab lemah bukanlah jati dirinya. Lelah boleh, tapi jangan sampai ia menyerah.


"Tidak, Kimmy! Kau tidak boleh seperti ini! Kau harus kuat, kau harus semangat memperjuangkan hidupmu, bahagiamu! Apapun yang terjadi pada pernikahan antara Jef dan kak Belle, itu murni kesalahan kak Belle. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri, Kimmy!" ujar gadis itu menguatkan diri sendiri.

__ADS_1


Suara knop pintu yang bergerak mendorong pintu terbuka membuat Kimmy menoleh. Seorang pria bertubuh tinggi gagah muncul di balik pintu, kemudian masuk ke kamar tersebut.


"Aku pikir kau sudah tidur," ujar Jef ketika ia menutup pintu kamar tersebut. Lalu berjalan ke arah tempat tidur menghampiri Kimmy.


Beruntung Kimmy sudah menyeka air matanya dan segera duduk di tepi ranjang begitu tahu akan ada seseorang yang datang ke kamarnya.


"Aku tidak bisa tidur jika kau belum ikut membaringkan tubuh di sampingku," jawab Kimmy di sambut ulasan senyum dari bibir pria itu.


"Tidak ada petir maupun gemuruh guntur. Kau tidak perlu takut! Aku ada di sini," ucap Jef berusaha menenangkan Kimmy yang akhir-akhir ini selalu ketakutan lantaran cuaca sudah memasuki musim hujan.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan tidur."


Kimmy menoleh dan mengernyit. "Ada apa?"


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya yang membuat Kimmy bertanya-tanya.


"Apa itu?" tanya Kimmy dengan tidak sabar.


"Tiket pesawat ke Barcelona," jawab pria itu.

__ADS_1


"Untukku?"


"Untuk kita," ralat Jef.


Kimmy benar-benar terharu, ia pikir Jef bercanda akan rencana jalan-jalan ke luar negeri, tapi ternyata pria itu sungguh-sungguh mengajaknya jalan-jalan ke sana.


"Lusa kita akan pergi, jadi besok kau packing apa saja keperluan yang harus di bawa!"


Kimmy mengangguk antusias. "Berapa lama di sana? Satu hari? Dua hari? Tiga hari?"


"Satu minggu," pungkas Jef.


Kimmy tampak begitu senang. Entah kenapa hal itu terasa menyalur pada Jef. Ia merasa senang jika Kimmy pun merasa demikian.


"Oh, ya, kak Belle ikut?" tanya Kimmy setelah beberapa saat saling diam.


Jef bergeming. "Tidurlah! Jangan pikirkan hal lain!" pinta pria itu dengan nada bicara yang terdengar datar.


Kimmy mengangguk menurut. Bagus juga jika Belle tidak ikut, sebab ia ke sana akan bersenang-senang. Menikmati liburan dan menghabiskan waktu berdua. Jika Belle ikut, yang ada hanya kekacauan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2