
Anelis menunggu kedatangan putranya di sofa ruang tamu. Beruntung Kimmy sudah berhenti mual dan muntah-muntah, gadis itu kini sudah bisa tidur. Kekhawatiran Anelis terhadap menantunya sedikit berkurang.
Begitu melihat orang yang ia tunggu datang, Anelis segera bangun dari duduknya. Tanpa ia duga, Jef langsung menghambur ke dalam pelukannya kemudian bersimpuh di kakinya. Tentu saja hal itu membuat Anelis bertanya-tanya.
"Mama..." Jef memeluk kaki Anelis dengan sangat erat.
"Jef.. Ada apa? Kenapa kau seperti ini?" tanya Anelis khawatir, sebelumnya pria itu pergi dengan keadaan baik-baik saja.
Kekhawatiran Anelis semakin menjadi, ketika Jef menangis sesenggukan di bawah kakinya. Hal itu mengundang perhatian Abellard yang baru saja berniat untuk menemani sang istri.
"Ada apa ini..?" tanya pria paruh baya itu, wajahnya di penuhi oleh rasa penasaran aya yang terjadi sebenarnya.
Anelis menggeleng, sebab ia pun tidak tahu apa yang terjadi pada putra mereka.
Bukan hanya Abellard, sikap Jef pun mengundang perhatian para pelayan di sana. Mereka berdiri di balik tembok, rasa penasaran yang kian membesar membuat mereka terpaksa untuk menguping.
"Tuan Jef kenapa, ya?" tanya salah satu dari mereka.
"Entahlah, mungkin tuan Jef melakukan dosa besar," jawab yang satunya.
__ADS_1
"Hustt.. Jangan sembarangan bicara! Dosa besar apa maksudmu?" sahut yang lain.
"Dosa poligami mungkin."
Mereka mencoba menerka-nerka dan berspekulasi sendiri. Sampai akhirnya mereka kembali fokus menguping ketika nyonya besarnya membangkitkan Jef untuk berdiri.
"Jangan seperti ini, Jef! Coba ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi pada kami!" pinta Anelis seraya memegang kedua bahu kekar milik putranya itu.
"Benar. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" sambung Abellard.
Jef menatap mama dan papanya secara bergantian. Cairan bening kembali memupuk matanya.
"Terima kasih untuk apa, Jef? Katakan, apa yang sebenarnya terjadi?!" pinta Anelis dengan tidak sabar.
"Terima kasih karena mama dan papa sudah memberi kami pilihan yang teramat sulit. Karena itulah, aku bisa mendapatkan istri yang lebih baik dan Tuhan menunjukan keburukan Belle," jelas pria itu.
Anelis dan Abellard saling menatap satu sama lain.
"Keburukan Belle?" ulang Anelis dan mendapat anggukan dari Jef. "Apa lagi yang di lakukannya sampai membuatmu seperti ini?"
__ADS_1
"Belle bukan hanya tidak bisa mempertahankan harga dirinya, dia juga tidak bisa menjaga kehormatannya. Belle mengkhianati aku dengan lawan mainnya di rumahku sendiri, ma, pa. Dia baru saja melakukannya."
"Astagfirullaahal'adziim.." ucap Anelis dan Abellard secara bersamaan, ia benar-benar tidak menyangka akan hal itu.
"Dasar wanita jallang!" maki Anelis di antara emosinya.
"Lantas apa kau sudah mengambil tindakan akan hal itu?" tanya Abellard yang ikut marah mendengarnya.
"Tentu saja, pa. Aku sudah menalak Belle dan akan segera mengurus perceraian kami."
"Bagus," ucap Abellard setuju.
"Selain itu, aku juga akan mengajukan itsbat nikah ke pengadilan. Agar pernikahanku dengan Kimmy secara sah tercatat dalam hukum negara."
"Lakukan saja apa yang menurutmu itu terbaik!" tutur Abellard.
Jef mengangguk, kedua orang tuanya memeluk dirinya menyalurkan sebuah semangat hidup. Ia beruntung memiliki orang tua yang begitu peduli padanya. Bahkan ia sangat bersyukur di beri pilihan yang awalnya ia pikir orang tuanya akan mendorongnya ke sebuah kehancuran rumah tangga, justru ia mendapatkan rumah tangga yang ia impikan selama ini bersama Kimmy. Takdir Allah ternyata begitu indah.
Bersambung...
__ADS_1