
Sudah hampir pukul tujuh malam, tetapi hujan belum juga reda. Begitupun dengan suara gemuruh petir yang terus bergemuruh, di sertai angin kencang yang meniup pepohonan.
Semenjak gemuruh petir tadi, Kimmy belum juga melepaskan pelukannya dari Jef. Gadis itu justru semakin mempererat pegangan tangannya, begitu juga dengan Jef yang semakin mempererat dekapannya.
Gadis itu sampai tertidur di bahu suaminya. Sesekali Jef memandangi wajah istri gelapnya yang sedang terlelap. Aroma rambut Kimmy yang tercium khas membuatnya betah mendekap.
Jef ingin membangunkan Kimmy karena hujan dan petirnya sudah berhenti, tapi ia merasa tidak tega. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama duduk di sofa dengan posisi Kimmy yang tertidur di bahunya, tapi sepertinya memindahkan gadis itu ke kamar jauh lebih baik.
Pria itu lekas membopong tubuh Kimmy secara perlahan, dengan sekuat tenaga Jef berjalan menuju kamar dan membaringkan Kimmy di atas tempat tidur. Ia mengambil selimut yang tidak jauh dari jangkauan tangannya, lalu di gunakan untuk menyelimuti Kimmy.
Di alihkannya anak sulur rambut yang menutupi wajah. Tanpa sadar tangannya sudah bergerak mengusap puncak kepala Kimmy. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyum tipis.
Setelah itu, Jef keluar dari kamar Kimmy.
***
Di rumah Belle, wanita itu tampak gelisah sekali. Ponsel di tangannya di genggam begitu erat, kakinya terus melangkah bolak-balik seperti setrikaan.
"Jef kemana, ya? Kenapa dia belum pulang juga, aku telepon juga tidak bisa di hubungi."
__ADS_1
Belle tampak gelisah sekali, padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. Mungkin karena kehadiran Kimmy di antara mereka yang berpengaruh besar.
Cklek..
Suara pintu kamar terbuka, terdapat seorang laki-laki di baliknya.
"Jef..." seru Belle, ia langsung menghampiri pria itu. "Kenapa kau sulit aku hubungi?" cecarnya.
Jef tidak menghiraukan pertanyaan istrinya, ia melipir melewati Belle begitu saja menuju tempat tidur.
Belle mengikuti langkah suaminya dan ikut duduk di tepi ranjang. Ia baru menyadari pakaian yang di kenakan Jef yang tampak berbeda dengan yang tadi pagi.
Jef menoleh sebentar, lalu mengalihkan perhatiannya lagi pada lengan baju yang tengah di gulung.
"Jika aku mengatakan dari rumah Kimmy, apa kau akan menamparnya lagi?"
Belle terbelalak.
"Apa maksudmu, sayang?" sergah Belle.
Jef menoleh dan menatap Belle lekat-lekat. "Jangan mengambil tindakan yang gegabah, Belle! Jika kau sampai melakukan itu lagi, maka bukan hanya reputasimu yang akan hancur, aku juga. Ingat itu!"
__ADS_1
Jef lekas berdiri hendak beranjak, tetapi di cegah oleh Belle.
"Jadi kau pergi ke sana untuk menemuinya lagi? Untuk apa?"
Jef menghembuskan napas panjang. "Berhenti menjadi pecemburu, Belle! Jadilah Mirabelle Loislyn yang percaya pada kesetiaan suamimu!"
Belle kembali menghadang langkah Jef.
"Jika kau tidak mengkhianati apa yang sudah kita sepakati, maka aku tidak akan bersikap menjadi Belle yang meragukan kesetiaan sorang Jef Abellard!" balas wanita itu.
"Tanpa kau sadari, kau yang memaksa aku untuk mengkhianatimu!"
Jef keluar pergi dari ruang kamarnya, meninggalkan Belle yang berteriak memanggil namanya.
"Aaaaargh... Sialaaaan!!!" Belle menghentakan kakinya ke lantai, berusaha meluapkan emosi yang membakar dirinya.
Sementara di sofa ruang tengah, Jef tampak sedang mengusap wajahnya sedikit kasar. Kehidupannya saat ini seperti sesuatu yang tidak ia inginkan. Dimana seharusnya ia berbahagia bersama istri dan anak sebagai pelengkap, justru bertolak belakang. Ia harus hidup di antara dua wanita yang masing-masing merupakan istri sahnya.
Tiba-tiba saja bayangan wajah Kimmy melintas di pikirannya. Tidak dapat Jef pungkiri, jika dia sudah mulai merasa betah berada di rumah sederhana itu. Apalagi masakan dan kopi buatan Kimmy membuatnya enggan untuk pergi lama-lama dari sana. Beruntungnya, besok merupakan jatahnya untuk bermalam di rumah Kimmy. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera memulai hari esok.
Bersambung....
__ADS_1