
"Jadi ini yang namanya Lexa dan Ziel?"
Pertanyaan yang keluar dari Anelis barusan membuat semua pasang mata kini tertuju pada wanita paruh baya itu. Lexa membisikam sesuatu di telinga bibinya.
"Bibi, dia siapa?" tanyanya lirih sekali, sehingga tidak ada orang yang mampu mendengar suara Lexa kecuali Kimmy.
Kimmy tersenyum. "Itu mamanya paman Jef, sayang," jawab Kimmy segera di sahut oleh Anelis.
"Panggil saja oma, Lexa. Dan ini opa," Anelis menunjuk ke arah Abellard yang berdiri di sampingnya.
"Halo anak cantik dan tampan," sapa Abellard pada dua anak kecil di hadapannya.
"Halo opa.." sahut mereka sembari membalas lambaian tangannya.
Tak hanya itu, Lexa mencium punggung tangan Abellard dan Anelis secara bergantian. Di susul oleh Ziel si paling menggemaskan.
"Terima kasih sudah memberi kami kesempatan untuk tinggal di istana sebesar ini, oma, opa," ucap Lexa di sambut senyum hangat oleh Anelis juga Abellard.
Azuma tak menyangka jika putri kecilnya mampu bersikap sopan melebihi orang dewasa.
Anelis membungkukan badannya agar bisa sejajar dengan kedua bocah di hadapannya. Ia menangkup masing-masing pipi Lexa dan Ziel.
__ADS_1
"Sama-sama, sayang. Tinggalah bersama kami, anggaplah ini rumah kalian," balas Anelis di akhiri dengan mencium kening Lexa dan Ziel secara bergantian.
Jef mengulas senyum melihat kedua orang tuanya begitu bahagia dengan kehadiran dua anak kecil itu. Mungkin karena kedua orang tuanya begitu mengharapkan kehadiran seorang cucu, makanya mereka bisa bersikap demikian pada Lexa dan Ziel.
"Terima kasih banyak atas kebaikan nyonya Anelis, tuan Abellard," ucap Azuma merasa haru.
"Sama-sama, Uma. Panggil saja kami nama, tidak usah menyertakan lagi sebutan tuan maupun nyonya. Sebab kami keluarga," pinta wanita paruh baya itu.
"Iya. Tapi rasanya saya segan jika harus memanggil nama," ujarnya.
"Kalau begitu kau bisa memanggil kami besan. Bagaimana?" sahut Abellard.
Azuma mengangguk. Itu lebih baik daripada memanggil mereka dengan nama, rasanya kurang sopan.
"Baik, ma," Jef mengangguk kemudian pergi untuk memanggil salah satu pelayan di rumahanya.
Tidak berapa lama kemudian, pelayan itu datang lalu mengantar Azuma ke kamar. Kimmy ikut mengantar bibinya, sementara kedua bocah itu ikut dengan Jef untuk bermain di taman belakang rumah.
Sampai di kamar, Azuma duduk di tepi ranjang besar dengan kasur berukuran besar. Di susul oleh Kimmy yang baru saja menutup pintu kmar tersebut rapat-rapat.
"Aku senang bisa tinggal serumah lagi dengan bibi, meski di rumah yang berbeda," ucap Kimmy, ia duduk di depan bibinya yang kini sudah memupuk cairan bening di pelupuk matanya.
__ADS_1
Azuma meraih buah tangan Kimmy, kemudian menggenggamnya.
"Meski kau tidak seberuntung anak lain yang memiliki keluarga harmonis, tapi Tuhan telah menggantikannya dengan memberimu keluarga lain yang begitu baik, Kimmy. Kau sangat beruntung, nak," tutur Azuma seraya membelai lembut rambut gadis di hadapannya.
"Itu semua berkat darimu, bibi. Meski aku tidak di beri kesempatan untuk mengenal kedua orang tuaku, tapi Tuhan mengenalkan aku pada wanita semulia bibi. Aku juga berterima kasih pada mereka karena sudah menitipkan aku pada bibi. Bagiku, bibi sudah cukup bahkan lebih dari segalanya. Terima kasih sudah mau merawat dan menjagaku dengan tulus," balas Kimmy.
Setetes air mata kini luruh dari pelupuk mata Azuma.
"Kebaikan yang kita dapatkan saat ini tentunya menjadi sebuah hadiah terindah Tuhan karena bibi pun begitu baik serta tulus menyayagiku," imbuh Kimmy.
Azuma menarik tubuh Kimmy, membawanya ke dalam dekapannya. Ia tak bisa berkata-kata lagi, hanya air mata yang mampu bicara. Air mata wanita itu menumpah ruah di bahu Kimmy, sehingga ia bisa merasakan sesuatu yang lembab dan basah di sana.
Setelah merasa puas menangis, Azuma melepaskan pelukannya pelan. Kimmy membantu menghapus air mata yang menggenang di kedua pipi bibinya.
"Semoga bahagia selalu menyertaimu, sayang," ucap Azuma dengan suara yang sedikit sumbang.
"Iya, bi. Terima kasih selalu menyertakan do'amu di setiap langkah hidupku. Aku sayang bibi."
"Bibi juga, nak."
Azuma mencium kening Kimmy dalam dan cukup lama. Tampak jelas jika Azuma menyayangi Kimmy seperti anak kandungnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...