
Jam makan siang hari ini Kimmy gunakan untuk makan di salah satu restoran terdekat. Bersama Moza, Lena, dan juga Neta. Ternyata teman satu kubikel nya ini asik-asik semua.
"Kimmy, apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Moza, wanita yang tengah memperebutkan aktor negara sebelah yang sedang naik daun dengan Lena.
"Hah?" Kimmy menatap mereka gugup, beruntungnya dia gadis yang pandai sekali mengubah ekspresi di setiap situasi.
"Sudah," jawabnya kemudian, ia kembali melanjutkan gerakan makannya.
"Sungguh? Tampan kah?" tanya Neta heboh, membuat beberapa pasang mata menatap tertuju pada mereka.
Kimmy hanya tersenyum, semua teman-temannya penasaran sekali seperti apa wajah kekasih Kimmy. Sampai akhirnya Kimmy memilih untuk pergi lebih dulu, sebelum teman-temannya bertanya semakin jauh.
Begitu ia bangkit dari duduknya, seseorang tidak sengaja menabrak dan air yang di bawa orang itu tumpah ke bajunya. Orang itu hendak membantu mengelap pakaian Kimmy terutama bagian dadanya. Dengan reflek Kimmy menjauh dan menepis tangan itu cukup kasar.
"Jangan meyentuh!" seru Kimmy pada orang itu, dan begitu di lihat ternyata pria yang sama dengan pria yang berpapasan dengannya tadi pagi.
Pria yang tidak ia ketahui namanya itu segera mengucapkan kata maaf dengan menelungkupkan kedua tangan, setelah itu pergi begitu saja dari hadapannya.
"Kau tidak apa-apa, Kimmy?" tanya Moza, melihat pakaian temannya yang basah.
Kimmy menggeleng. "Tidak apa-apa! Hanya basah sedikit. Kalau begitu, aku duluan, ya," pamitnya.
Kimmy melangkahkan kakinya lebar berjalan cepat menuju gedung usai membersihkan pakaiannya. Meski masih basah, setidaknya tidak sekuyup tadi.
"Bajumu kenapa?"
Kimmy menghentikan langkah dan mendongakan wajah, ia mendapati suaminya sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Tersiram minuman," jawabnya jujur.
"Mau ganti?" tawar pria itu.
"Pakai baju siapa?"
"Aku bisa minta seseorang untuk membelikan pakaian baru untukmu."
"Tidak usah! Itu terlalu merepotkan," tolak Kimmy segan.
Tidak tega melihat baju Kimmy yang basah, serta baju itu terlalu mencetak jelas gunung kembarnya, membuat Jef melepas jas hitam yang di kenakannya.
"Pakai ini," Jef menyerahkan jas miliknya pada Kimmy.
"Untuk apa?"
Kimmy menundukkan wajahnya sekilas, buah dadanya tercetak jelas karena bajunya yang basah. Mungkin itu yang di maksud oleh Jef.
"Lalu bagaimana dengan karyawan di sini?" tanya Kimmy cemas, mereka pasti akan mengira jika dirinya memang ada apa-apa dengan Jef.
"Tidak usah di pikirkan, pikirkan saja dirimu sendiri!" tutur pria itu.
Dengan ragu-ragu Kimmy mengambil jas tersebut dari tangan Jef, ia lekas memakai jas tersebut guna menutupi bagian buah dadanya.
"Terima kasih!" ucapnya.
Jef kemudian pergi dari hadapan Kimmy sebelum ada yang melihat perbincangan di anatara mereka.
__ADS_1
Kini Kimmy menjadi pusat perhatian para karyawan yang ada di sana. Semua orang melihatnya tampak bisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan sinis.
"Kimmy, kau pakai jas siapa?" tanya Lena begitu dia sudah berada di kubikelnya.
"Mirip jas tuan Jef. Apa memang itu miliknya?" tambah Neta.
"Iya, Kimmy. Kau ada hubungan apa dengan tuan Jef?" Moza memicingkan matanya menyelidik Kimmy.
"Hubungan antara majikan yang tidak mau melihat karyawannya jadi bahan tontonan para pria karena bajunya yang basah membuat dadaku tercetak jelas," jawab Kimmy dengan santai, tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Sejak kapan tuan Jef peduli dengan masalah karyawannya?" sahut Neta.
"Mungkin sejak hari ini."
"Kimmy, apa kau wanita simpanannya?" bisik Moza dengan suara yang sangat lirih.
"Jangan menerka-nerka, kau kan jauh lebih lama bekerja di sini. Pasti kau tahu kan tentang seberapa besarnya kesetiaan seorang tuan Jef Abellard pada istrinya?" tanya balik Kimmy.
"Hem, iya juga, ya. Maaf, ya, sudah mencurigaimu, mungkin kalau terjadi sesuatu buruk pada karyawannya, misalkan semacam pelecehan, bisa berpengaruh besar juga pada pimpinan perusahaan ini," ucap Moza merasa bersalah.
"Benar juga," sahut Lena dan Neta.
"Ya sudah, kalau begitu kita kembali kerja, yuk!" ajak Kimmy dan di angguki oleh mereka bertiga.
Kimmy menghela napas lega.
Syukurlah mereka tidak curiga terlalu jauh. Batinnya.
__ADS_1
Bersambung...