Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
Meledak


__ADS_3

Kimmy menghampiri suaminya yang saat ini tengah dudukndi bangku taman bersama ponsel di genggaman tangannya.


"Tujuanmu berhasil."


Jef menoleh ke sumber suara dan terdapat Kimmy sedang berdiri di sampingnya. Ia mengulas senyum, menarik lengan istrinya untuk duduk di bangku yang muat untuk dua orang saja itu.


"Itu semua atas dukunganmu, Kimmy," balas Jef.


"Tapi teman kepercayaanmu sungguh hebat, dia berani melakukan sesuatu dengan resiko yang tinggi."


"Dia sudah biasa melakukan hal-hal seperti itu," timpal pria itu.


Jef merengkuh bahu Kimmy dan menyandarkan kepala wanita itu ke bahunya.


"Pria itu pantas mendapatkan balasan setimpal, dia harus jera agar tidak mengulangi kesalahannya," tutur Jef.


Kimmy mendongak, bibirnya mengulas senyum mendengar penuturan bijak suaminya. Perlahan senyum itu memudar, saat ada sesuatu yang terlintas dalam pikirannya.


"Jef.." panggil Kimmy lirih.


"Hm.."


"Aku ingin bertemu dengan kak Belle."


Jef menatap istrinya dengan terheran, kenapa Kimmy tiba-tiba ingin bertemu dengan wanita itu.


***


Seorang wanita terlihat seperti orang gila, ia duduk di sudut ruangan sembari berjongkok. Rambutnya berantakan dan serpihan kaca kini berserakan di lantai.

__ADS_1


"Oh Tuhaaaan.. Apa lagi ini?" teriak Belle.


Baru saja ia membaca berita tentang dirinya dan Lim yang sedang viral di media sosial. Makian dan hujatan netizen lontarkan padanya. Belle tidak kuat berada di posisi sekarang. Rasanya ia ingin mati atau menenggelamkan dirinya di rawa-rawa.


"Kenapa hidupku jadi seperti ini Tuhaaaaan... Kenapa? Kenapa kau begitu tega mengambil semuanya dariku, hah? Kenapa?" teriak Belle lagi, ia merasa tidak terima dengan takdir yang telah di tetapakan untuknya.


Wanita itu menggosok-gosokan kakinya di lantai, ia memukul tembok berulang kali, bahkan melemparkan apapun yang ada di sana kecuali ponselnya.


Ia menekuk kakinya, membenakan wajahnya di antara kedua kaki seraya memeluk lututnya. Belle menumpahkan tangis dan rasa penyesalan yang teramat dalam.


Ia sadar, jika ini semua terjadi akibat ulahnya sendiri. Ia mengabaikan betapa berharga sebuah keluarga. Dan malah memilih karirnya yang justru membuat dirinya hancur seperti ini.


Orang-orang yang dulu iri padanya, lantaran ia memiliki segalanya, memiliki wajah cantik, karir bagus, suami yang setia, pasti sekarang sedang mentertawakannya. Ia memang bodoh dan membiarkan semua itu hilang begitu saja. Ia memberikan posisi yang seharusnya menjadi porsi hidupnya pada Kimmy, wanita itu pasti tengah berbahagi sekarang.


Belle mendongakan kembali wajahnya ketika ia merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam perutnya. Dengan sekejap hal itu menyita seluruh perhatiannya. Ia memegang perut dan merasakan sesuatu yang bergerak di dalam sana. Seketika sudut bibirnya terangkat, entah kenapa ia seperti orang yang baru saja menemukan kebahagiaan baru.


Senyum itu tak berlangsung lama, air matanya kembali luruh saat ingatannya kembali pada beberapa bulan terakhir. Ia menolak untuk hamil dan lagi-lagi memilih Kimmy yang menggantikan hal tersebut.


Wajahnya kembali memunculkan ekspresi kemarahan, ia menyambar ponsel yang tidak jauh dari jangkauan tangannya, kemudian mencari nomer seseorang dengan tergesa.


Sementara di tempat lain, Lim tengah mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi guna mengejar ketertinggalan mobil yang di kendarai oleh Imel. Wanita itu tidak boleh lepas begitu saja, sebab hanya Imel-lah sekarang yang bisa membantu dirinya.


Ponselnya berdering, awalnya Lim mengabaikan panggilan tersebut. Tapi ponselnya terus menerus bunyi, ia menyambar ponsel tersebut tanpa melihat panggilan masuk di layar.


"BRENGSEK SIALAN ANJ.. KAU HARUS TANGGUNG JAWAB! AKU SEDANG MENGANDUNG ANAKMU!" seruan dan makian si penelpon lontarkan, Lim sampai menjauhkan ponselnya dan melihat layar ponselnya.


Ia mengernyit mendapati telepon dari Belle, apa wanita itu tidak salah bicara?


"Kau hamil anakku?" Lim bertanya balik.

__ADS_1


"Ya, aku hamil olehmu, sialan! Aku ingin kau bertanggung jawab!"


Lim menyunggingkan bibirnya. "Tidak mungkin, itu bukan anakku. Lagipula jika itu benar, bukankah kau memintaku untuk pergi dari kehidupanmu? Dan sekarang, terima saja nasibmu dan nikmati penderitaannmu!"


"ANJ.. Ini anakmu, sialan!" maki Belle dari sebrang sana.


"Sudah, ya. Aku tidak punya waktu untuk membahas hal tidak penting dengan orang yang tidak penting sepertimu."


Lim menutup sambungan telepon. Ia menghembuskan napas kasar dan menaruh ponselnya kembali ke dalam kotak yang ada di samping joknya.


Begitu matanya kembali melihat jalan, ia melotot sempurna saat ada sebuah mobil truk kontainer sedang ugal-ugalan di karenakan remnya blong.


"Ya Tuhan.."


Lim reflek membanting setirnya ke arah kiri guna menghindari truk besar tersebut.


Kiiiiiiiittt.... Buuuugg...


Kini mobilnya terjungkal dan keluar percikan api. Semua orang pengguna jalan langsung berkerumun untuk melihat kejadian.


Lim yang masih berada di dalam mobilnya dan masih dalam kedaan sadar berteriak minta tolong. Keaadaan mobilnya terbalik dan semua orang yang berada di sana tidak berani mendekat lantaran sepertinya mobil akan meledak.


"To.. Tolong.. Hhh.." Ia berusaha menyelamatkan diri, namun sulit.


Kedua manik mata Lim memantulkan api yang keluar dari mobilnya. Ia terdiam, mulutnya seakan terkunci. Ia merasa sangat takut sekali, apakah riwayatnya akan berakhir kali ini.


Tidak, aku tidak boleh mati. Ya Tuhan, selamatkan, aku. Ucap Lim dalam hatinya.


DUAAAARRRR..

__ADS_1


Mobil tersebut pun meledak dan kobaran api seakan memakan mobil tersebut.


Bersambung...


__ADS_2