
Jef menarik tangan Belle sampai ke pelataran lokasi syuting tersebut. Wanita itu menghentakan pergelangannya merasa sakit lantaran Jef menariknya lumayan kasar.
"Lepaskan, Jef!" pinta Belle sedikit berterika, ia mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Cepat masuk!" Jef membukakan pintu mobil, untuk membawa Belle pergi dari sana.
Alih-alih menuruti perintah suaminya, Belle malah mematung di tempat seraya menatap suaminya senang.
"Ternyata kau masih perduli padaku, Jef! Aku pikir kau hanya memperdulikan dark wife mu itu," cetus Belle.
Tidak ada sahutan yang keluar dari mulut pria itu, ia hanya memberi kode agar Belle cepat masuk ke dalam mobilnya. Kali ini, Belle menurut. Jef berjalan mengitari mobil usai menutup pintu tersebut, lalu ikut masuk ke bagian jok kemudi. Mobil pun di lajukan melesat dengan kecepatan gila.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya selama perjalanan. Meski Belle selalu bicara, meminta maaf, dan yang lainnya, Jef tetap membisu. Garis rahangnya tampak mengeras menahan sebuah gejolak amarah.
Sampai di rumah, Jef turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah lebih dulu. Tidak memperdulikan panggilan Belle yang berjalan mengikutinya dari belakang.
"Jef.. Tunggu..!" Belle menghadang langkah Jef yang sudah berdiri di ambang pintu kamar.
Jef membuang wajah dan hendak menerobos, lagi-lagi di halangi oleh Belle.
"Aku tahu aku salah, Jef. Tapi ku mohon, mohon dengan sangat, sayang, mengertilah! Saat itu aku juga benar-benar bingung, kau dengar sendiri kan jika mereka mengancamku tidak akan pernah mendapat job main film lagi?"
Jef yang semula menatap ke sembarang arah kini menghunuskan tatapannya pada Belle. "Itu yang membuat aku muak padamu, Belle. Kau lebih takut ancaman mereka di banding larangan suamimu sendiri!" sergah pria itu.
__ADS_1
"Apa kau tidak memiliki sedikit saja rasa bersalah padaku ketika kau beradu akting dengan pria itu?" imbuh Jef.
"Tentu saja, Jef. Jika saja mereka tidak mengancam aku seperti itu, aku pasti sudah membatalkan kontrak kerjanya sejak awal. Kau juga tidak pernah membantu atau setidaknya membebaskanku dari ancaman mereka. Justru kau mengambil kesempatan itu, selama aku syuting, kau menghabiskan waktumu dengan gadis itu. Benarkan? Apa kau juga mengingatku saat kau sedang bersamanya? Tidak kan?" seru balik Belle.
Jef bergeming. "Kenapa kau malah menyalahkan aku? Kau memang sudah salah dari awal, menanda tangani kontrak itu tanpa meminta izin terlebih dahulu padaku. Kau berjanji untuk membatalkan kontrak kerjanya, tapi apa? Kau tetap syuting di film itu."
"Seharusnya kau membebaskanku saat aku mengatakan aku di ancam oleh mereka!"
"Aku mungkin bisa saja membebaskanmu jika kau tidak menuruti kemauan mereka," balas Jef tak kalah sengitnya, ia melipir masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Belle ikut duduk di sana. "Lalu apa kabar denganmu ketika sedang bersama Kimmy? Bahkan aku rasa kau sangat perduli padanya. Kau memanggilnya dengan sebutan yang seharusnya hanya kau berikan untukku. Kau tertarik dengannya? Apa itu juga bukan sebuah bentuk pengkhianatanmu terhadap diriku? Jawab, Jef! Kenapa kau diam saja, hah?"
Jef menyulat sebatang rokok yang baru saja ia ambil dari saku kemejanya. Menyesap rokok itu dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke udara.
"Aku tidak pernah mengkhianatimu dengan siapapun. Hanya saja, mulai hari ini kau tidak usah mengharapkan lagi kesetiaanku."
Belle hendak beranjak dari sana. Ia merasa sangat lelah berdebat dengan Jef.
"Minggu depan aku akan ke Barcelona bersama Kimmy."
Kalimat Jef membuat Belle mengurungkan niat untuk pergi dari sana. Ia membalikan tubuhnya dan tersenyum getir.
"Kau tidak bisa pergi selama bukan denganku."
__ADS_1
"Dengan aku masih mempertahankan hubungan ini seharusnya kau bersyukur."
Belle membulatkan kedua matanya. "Apa maksudmu?"
"Sekali lagi kau berulah, maka aku tidak akan pernah memberimu kesempatan lagi."
Jef mematikan rokoknya ke asbak, kemudian beranjak dari sana.
"Tidak, Jef! Pernikahan kita tidak akan pernah berakhir. Kalaupun pernikanmu berakhir, itu dengan Kimmy, bukan denganku! "
Belle mengejar langkah Jef yang tengah menuruni anak tangga. "Kau hanya milikku dan hanya aku satu-satunya wanita yang kau cintai."
Jef tidak mengacuhkan ucapan Belle. Ia tetap berjalan menuju pelataran rumah. Kemudian masuk ke dalam mobil.
"Jef, kau mau kemana?" Belle menggedor kaca jendela mobil.
Jef membuka kaca jendela pintu mobilnnya. "Mama Anelis sudah tahu cara kerja profesionalmu seperti apa dari video yang di kirim seseorang yang sama dengan yang mengirim videomu padaku. Sekarang aku akan pergi ke sana, apa kau mau ikut?"
Mengirimi videoku? Siapa dia? pikir Belle dalam hati.
"Je-"
Baru saja ia akan menanyakan siapa pengirim video yang Jef maksud, pria itu sudah melesat bersama mobilnya.
__ADS_1
"Siapa yang telah mengirimi Jef dan orang tuanya video itu? Siapapun dia, aku tidak akan mengampuninya."
Bersambung...