
Keesokan harinya.
Belle hendak pergi ke tempat rumah produksi film nya yang akan tayang esok. Begitu ia membuka pintu, ia mendapati beberapa buket bunga mawar yang sangat cantik. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sumber yang mengirimi buket bunga tersebut. Tapi tidak ada siapapun disana.
Belle mengambil buket bunga tersebut, lalu menciumnya. Sebelah sudut bibirnya terangkat mengulas senyum. Pikirannya menerka-nerka.
"Pasti Jef yang mengirim bunga ini untukku," pikirnya.
"Jef.. Aku tahu kau begitu mencintaiku, dan tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisiku di hatimu."
Belle memeluk buket berukuran besar itu dengan senyuman yang merekah sama seperti bunga mawar yang berada dalam dekapannya. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam mobil guna menghadiri rapat mengenai tayangnya film perdana di bioskop.
Security rumahnya segera membukakan gerbang begitu majikannya akan pergi, dan menutup kembali pintu gerbang tersebut ketika mobil sudah melesat dari sana.
Sebuah mobil terparkir tidak terlalu jauh dari pintu gerbang rumah tersebut. Seseorang dari dalam keluar dari mobil itu dan berjalan menghampiri security. Ia mengambil sejumlah uang dari kantong celana dan memberikannya pada security Belle.
"Ini upah untukmu, pak. Kalau Belle tanya-tanya soal bunga itu, jawab saja tidak tahu."
"Baik. Terima kasih banyak," ucap security seraya menerima uang tersebut.
__ADS_1
Seseorang itu beranjak dari sana dan kembali ke mobilnya. Ia menghela napas panjang kemudian tersenyum.
"Aku harap jika kau benar-benar hengkang dari film itu, kita masih bisa berhubungan di luar pekerjaan, Belle," ujar orang itu yang tak tak lain merupakan Lim.
***
Di perjalanan, Belle tak henti-hentinya mengulas senyum. Buket bunga mawar tadi ia letakan di jok yang berada di sampingnya, menemaninya sepanjang jalan.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia merogoh ponsel yang ada di tas, tertera nama Rasson di sana.
Selamat pagi, Belle. Maaf aku telat mengabarimu, hari ini kau di minta datang ke lokasi rumah produksi film yang akan tayang besok di bioskop.
Tepat pukul satu siang, rapat itu sudah selesai. Besok semua pemain dan sebagian tim akan menghadiri tayang perdana film itu di bioskop.
"Belle..!" teriak Key ketika Belle hendak memasuki mobilnya, ia menghentikan langkah dan menoleh.
"Setelah ini kau mau kemana?" tanya Key saat ia sudah berdiri di hadapan Belle.
"Pulang. Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita mampir ke kafe sebentar? Bukankah kau sudah janji akan cerita padaku mengenai tidak syutingnya kau hari ini?"
Belle terdiam. Semalam ia memang mengatakan akan menceritakan hal tersebut pada Key, tapi ia harus segera pergi ke rumah mama Anelis guna menemui Jef.
"Belle..?" Key melambaikan tangannya di wajah Belle, menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
"Hem?"
"Kenapa melamun? Ayolah, kita ke kafe sebentar, ya. Sudah lama juga kita kita ngobrol santai," ajak pria itu sedikit memaksa.
Akhirnya Belle pun mengangguk. Lagipula, ini sudah waktunya jam makan siang. Sekalian jalan.
"Ok. Tapi kita ke restoran terdekat sini saja, ya. Aku lapar."
"Ok."
Mereka pun masuk ke dalam mobil masing-masing. Menghidupkan mesin dan pergi dari sana guna pergi ke sebuah resto terdekat.
Bersambung...
__ADS_1