
Jef dan Kimmy tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta pagi hari. Usai perjalanan pesawat yang memakan waktu cukup lama. Ketika mereka tengah menunggu kopernya, seseorang berdiri tidak jauh darinya berjalan mendekat.
"Tuan Jef.." sapa pria bertubuh besar itu.
Jef dan Kimmy pun menoleh, namun reaksi pria itu berubah seketika melihat gadis yang tengah berdiri di samping Jef tengah bergandengan tangan.
Pria bernama tuan Zicko itu menunjuk ke arah Kimmy, wajahnya seperti orang yang tengah menuntut penjelasan sesuatu terhadap Jef.
Jef tidak tahu harus mengatakan apa pada teman kalangan tertinggi perusahaan tersebut. Beruntungnya, koper miliknya sudah tiba. Jadi ia ada alasan untuk menghindar dari pria itu.
"Tuan Zicko, saya permisi!" pamit Jef seraya menarik kedua kopernya.
Begitupun dengan Kimmy yang menganggukan kepalanya sopan, sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat.
Tuan Zicko mematung, kedua matanya terpaku pada kedua orang yang berjalan meninggalkannya. Ia menatap mereka terheran sekaligus di kungkung oleh rasa penasaran yang besar. Sampai akhirnya, ia mengalihkan perhatian ketika koper miliknya pun tiba. Ia mengambil koper tersebut kemudian berlalu dari sana.
"Nyonya Mirabelle. Sepertinya bukan itu. Yang tadi kelihatan lebih muda dan segar. Apa jangan-jangan..." tuan Zicko menerka-nerka, namun pemikiran tersebut segera ia tepis dengan kasar.
"Tuan Jef kan terkenal dengan kesetiaannya. Mana mungkin beliau melenceng. Mungkin yang tadi memang nyonya Mirabelle, dan mereka pulang dari negara lain untuk operasi plastik. Secara nyonya Mirabelle kan seorang aktris besar," ucap pria seraya sambil berjalan menuju pintu keluar bandara.
Tepat jam tujuh pagi, taksi yang di tumpangi Jef dan Kimmy berhenti di depan gerbang yang menjulang tinggi. Satpam rumah tersebut lari terbirit-birit ketika melihat siapa yang turun dari dari taksi tersebut.
"Selamat datang kembali tuan Jef, nyonya muda," sapa satpam tersebut dengan senyum yang sumringah.
Jef membalas dengan senyuman. Begitupula dengan Kimmy. Satpam tersebut menawarkan diri untuk membantu membawakan koper mereka, dan di setujui oleh pemilik koper.
"Apa aku bisa minta tolong padamu?" ucap Jef pada satpam yang berjalan mengekor di belakangnya.
"Tentu saja, tuan. Apa yang bisa saya bantu?" ujar satpam tersebut dengan sukarela.
"Tolong panggilkan mamaku. Bilang kalau ada tamu yang memaksa ingin bertemu dengannya. Ingat, jangan sampai mengatakan jika kami telah kembali," pesan Jef di akhir kalimat.
Satpam itupun mengangguk paham. Ia tinggalkan koper lalu bergegas masuk ke dalam rumah tersebut. Ia menanyakan keberadaan tuan rumah pada salah satu pelayan yang tengah menyapu di ruang tengah, dan katanya tuan rumah tengah sarapan di ruang makan.
Satpam itupun melanjutkan langkahnya ke sana. Dan benar, Abellard beserta istrinya baru saja akan memulai sarapannya.
__ADS_1
"Permisi, tuan besar, nyonya besar. Di luar ada tamu yang memaksa ingin bertemu dengan tuan dan nyonya besar," ucapnya dengan napas yang sedikit tersengal.
Anelis maupun Abellard menghentikan sejenak aktivitasnya. Keningnya seketika berkerut mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh satpam rumahnya.
"Siapa?" tanya Abellard.
"Tidak kenal, tuan," jawab satpam tersebut.
Untuk beberapa saat mereka terdiam, siapa yang berani bertamu sepagi ini di rumah mereka. Maksa, lagi.
"Orang asing lagi?" tanya Anelis, mengingat beberapa waktu lalu satpam itu mengatakan bahwa ada orang asing yang datang ke rumahnya.
Satpam itu menggeleng. "Tidak tahu, nyonya besar. Ia maksa ingin bertemu dengan tuan dan juga nyonya besar."
Sepasang mata Abellard dan Anelis bertemu, memberi sebuah kode yang entah apa artinya. Tapi sedetik kemudian mereka berdiri dari duduknya, beranjak dari sana untuk menemui tamu yang satpam itu maksud.
Abellard beserta Anelis melangkah dengan aura yang sedikit menakutkan. Sebab siapa orang yang sudah berani menggganggu waktu sarapannya. Jika orang itu berani membuat kekacauan, maka ia tidak akan segan-segan menghajarnya.
Begitu sampai ambang pintu keluar rumah, Abellard menghentikan langkah. Kemudian yang ia dapati bukanlah manusia, melainkan dua koper. Alisnya kembali menyatu, memikirkam siapa yang tengah bermain-main dengannya. Mengusik ketenangan rumah di pagi hari.
Kedua matanya memperhatikan kedua koper di hadapannya, rasanya koper itu tidak asing baginya. Sampai akhirnya Anelis berkata.
"Milik kami," pungkas Jef dan Kimmy secara bersamaan.
Anelis terkejut melihat keberadaan mereka di hadapannya. Ia menutup mulutnya yang spontan menganga.
"Jef... Kimmy..."
Anelis langsung menghambur memeluk keduanya. Melepas kerinduan lantaran beberapa hari ini mereka tidak bertemu.
Anelis melepaskan pelukannya. Memegang sisi kedua bahu Kimmy seraya menatap gadis itu dengan binar kebahagiaan.
"Kenapa pulang tidak bilang-bilang?" tanya wanita paruh baya itu, menatap Kimmy dan Jef secara bergantian.
"Maaf..!" ucap Kimmy lirih.
__ADS_1
"Papa pikir siapa tamunya, ternyata kalian," timpal Abellard juga ikut terharu mendapat kejutan dari putra dan menantunya.
Jef tersenyum. Kemudian Anelis mengajak mereka untuk masuk dan ikut sarapan.
"Ayo sarapan!"
Anelis mempersilahkan putra dan menantunya untuk segera menyantap menu sarapan mereka yang tampak berbeda dengan menu sarapan yang biasa. Kimmy yang sebelumya tidak mau makan pun kini mulai berselera.
"Kenapa cuma di lihat, ayo makan!" ucap wanita paruh baya itu.
Melihat menu sarapannya sedikit, Anelis memamggil juru masaknya untuk menambah porsinya.
"Ummaaaaa..." panggil Anelis setengah berteriak.
Seseorang ia panggil pun muncul dan berdiri tidak jauh dari meja makan.
"Iya, nyonya?" tanya orang itu.
Kimmy seketika membulatkan matanya mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Ia langsung mendongak, melihat siapa pemilik suara tersebut. Seketika dirinya tercekat.
"Bibi Azuma..?" ucap Kimmy lirih,
"Kimmy..." ucap orang itu juga tak kalah terkejutnya.
Anelis menatap Kimmy dan wanita yang baru saja ia panggil namanya secara bergantian. Ia terheran melihat mereka saling kenal.
"Kimmy, ini juru masak yang baru di rumah mama. Dan kau Azuma, ini Kimmy menantuku!"
Ucapan Anelis seolah menjadi jawaban atas pertanyaan yang muncul di kepala mereka merdua. Tetapi Azuma masih tidak percaya dengan ucapan yang baru saja masuk ke dalam telinganya. Terasa begitu menusuk dan menyakitkan.
"Me-menantu?" tanya Azuma terbata dengan bibir yang gemetar, Anelis mengangguk membenarkan.
Sorot mata Azuma tak terlepas dari wajah Kimmy. Sorot mata itu kini berubah menjadi tatapan yang sulit di artikan. Sampai akhirnya, tatapannya kabur kemudian menghitam. Ia terkulai lemas dan jatuh ke lantai dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Bersambung....
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa. Like, komen, vote, dan kumpulkan koin sebanyak-banyaknya untuk kasih hadiah. ...
...Selamat hari SENIN, saatnya memberi VOTE! ...