
"Dimana dia, lama sekali!" ucap Jef lirih, pesan yang ia kirim juga tak kunjung mendapat balasan.
Akhirnya Jef memutuskan untuk menelpon gadis itu, tapi anehnya nomernya tidak aktif. Padahal beberapa menit lalu pesannya sudah berubah centang biru. Itu artinya ponsel Kimmy aktif.
Setelah menunggu sekitar 5 menit lagi, ia tidak mendapat tanda-tanda Kimmy akan datang atau sekedar memberinya pesan singkat. Kini Jef memutuskan untuk masuk ke dalam gedungnya lagi, guna mengecek Kimmy masih ada di sana atau pulang duluan.
Lift membawanya naik ke lantai atas ruang Kimmy bekerja. Sudah tidak ada siapapun di sana karena karyawannya sudah pada pulang. Lagipula jam sudah hampir menunjukkan pukul 6 petang.
"Apa Kimmy pulang lebih dulu?" pikirnya.
Jef menghembuskan napas. Seharusnya Kimmy menghubunginya jika akan pulang lebih dulu, jadi ia tidak menunggunya selama ini. Padahal sebelumnya ia sudah mengajaknya pulang bersama, mungkin Kimmy enggan lantaran takut ada yang melihat kebersamaan mereka.
Ketika hendak melangkahkan kaki pergi dari ruangan tersebut, perhatian Jef tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di bawah meja kubikel Kimmy. Jef melangkah lalu menunduk untuk mengambilnya.
Pria itu membuka lipatan kertas dan begitu di baca, menciptakan kerutan dalam di keningnya.
"Siapa yang mengirim ini pada Kimmy?"
Jef tertegun sejenak, apakah Kimmy pergi ke tempat yang ada di tulisn tersebut dan menganggap jika dirinya yang mengirimi secarik kertas itu? Pikiran Jef kini sudah kemana, mana. Memikirkan jika sesuatu buruk akan terjadi pada Kimmy.
__ADS_1
Jef meremas secarik kertas itu dan bergegas melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa. Ia takut jika seseorang telah menjebak Kimmy. Ia harus segera pergi ke tempat itu secepatnya. Harus.
Mobilnya kini sudah ia kemudikan dan melesat jauh dari pelataran gedung. Seorang security di sana bahkan terheran melihat Jef yang mengemudikan mobil secepat itu.
***
Di kamar hotel no 119, tampak gadis tengah di kungkung kepanikan namun berusaha memilih tenang.
"Kau-" Kimmy menunjuk pria yang berjalan semakin mendekatinya.
"Halo, nona Kimmy," sapanya begitu lembut, namun terdengar mengerikan.
"Mari bersenang-senang denganku, nona," pintanya seraya meraih lengan Kimmy.
"Jangan kurang ajar!" bentak Kimmy seraya menepis tangan itu cukup kasar.
Pria itu merasa tertantang oleh penolakan Kimmy, gairrahnya semakin menjadi.
"Tenang saja, Kimmy. Aku tidak akan melukaimu, aku akan memberimu kesenangan yang membuat dirimu ingin terus melakukannya."
__ADS_1
Pria tanpa nama itu kembali meraih tangan Kimmy, tapi lagi-lagi mendapat tepisan. Dengan cepat Kimmy membalikan tubuhnya berusaha untuk keluar, tapi sayangnya pria itu lebih cepat menarik tubuhnya.
"Mau kemana, baby? Di sini saja, temani aku main," bisiknya tepat di telinga Kimmy.
"Brengsekkk..!!" seru Kimmy, ia memberontak dan berhasil terlepas dari dekapan kurang ajar.
"Kau siapa, hah? Apa maumu?" seru Kimmy dengan wajah masih terlihat santai, meski dalam hati ia begitu takut sekali.
"Tidak perlu tahu aku siapa, yang terpenting malam ini kau milikku!"
Pria itu menarik tubuh Kimmg kemudian di dorong sampai terjatuh ke tempat tidur. Ia merangkak naik ke atas tubuh Kimmy dengan cara menindih.
"Penolakanmu membuatku kian bersemangat, baby!" ucapnya kembali berbisik.
"Tapi pemaksaanmu membuatku semakin memberontak, sialaaan...!!" balas Kimmy.
Tatapan itu begitu mengerikan. Bibirnya menyungging menatap nakal bagian tubuh Kimmy, binar hassraatnya semakin menggila.
"Aaaarrgghh...!!"
__ADS_1
Bersambung...