
Siang ini Kimmy sudah bisa di bawa pulang. Jef membawanya pulang ke rumah orang tuanya. Betapa terkejutnya Anelis dan Abellard ketika mengetahui Kimmy dalam keadaan seperti itu. Anelis berusaha bertanya, tapi Jef belum kunjung memberinya penjelasan.
Tiga hari berikutnya, jahitan di pelipis Kimmy sudah bisa di buka. Mereka kembali ke Rumah Sakit untuk beberapa saat dan kembali pulang ke tempat kediaman Abellard.
"Jef, jelaskan pada mama, apa yang sebenarnya terjadi pada Kimmy?!" desak Anelis, ia sudah tidak bisa sabar lagi menunggu penjelasan sang putra.
Wanita paruh baya itu sangat terkejut ketika Jef menceritakan semua kejadiannya seperti apa. Ia tampak geram sekali. Lagi-lagi Belle.
"Lalu apa kau akan tetap mempertahankan Belle sebagai istrimu?" tanya wanita itu lagi.
Jef bergeming. Sejujurnya ia pun masih bingung. Tapi sebagai seorang pria, ia tidak bisa diam begitu saja, harus bersikap tegas dan mengambil tindakan.
"Aku akan membicarakan perihal ini dengan Belle, ma."
"Bagus. Ambil keputusan apapun yang menurutmu tepat, Jef!"
"Iya, ma. Kalau begitu, aku pamit ke kamar. Kasihan Kimmy sendiri." Jef bangun dari tempat duduknya dan beranjak dari sana.
Anelis menatap punggung kepergian putranya. Melihat bagaimana sikap Jef sekarang, membuat Anelis berpikir jika putranya itu sudah bisa mengalihkan perasaan pada Kimmy.
"Semoga saja pernikahanmu dengan Kimmy tidak akan pernah menemukan titik akhir," harap wanita itu.
__ADS_1
Jef berjalan masuk ke kamar, dan menutup pintu secara perlahan. Ia duduk di tepi ranjang seraya menatap gadis yang tengah tertidur pulas. Baru akan memberi ciuman di kening Kimmy, tapi gadis itu malah bangun.
"Hayooo... Mau ngapain?"
Jef menegakan wajahnya kembali, betapa malunya ia tertangkap basah ketika diam-diam akan mengecup gadis itu.
Kimmy bangun dan duduk menyandar di sandaran ranjang. "Kenapa tidak jadi?" tanya gadis itu kemudian.
Jef menoleh, menatap Kimmy datar. "Aku baru sadar, jika pelipismu masih sakit. Aku takut malah membuatmu terluka."
"Alasan."
"Memangnya kau mau?"
Jef menyunggingkan sudut bibirnya. "Aku akan memberimu sesuatu yang lebih. Tapi tidak sekarang."
"Apa itu?"
Kimmy menggeser posisi duduknya ke posisi yang lebih nyaman. Lalu menatap suaminya dengan rasa penasaran.
Jef diam sejenak. Ia baru ingat betapa bahagianya Kimmy saaf di bawa nyasar oleh supir taksi yang usianya sudah rentan itu. Dan waktu itu ia berjanji akan membawa Kimmy jalan-jalan meski di sekitaran kompleks.
__ADS_1
"Setelah kau benar-benar pulih. Aku akan mengajakmu ke Barcelona."
Kimmy hampir tersedak liurnya sendiri. "Barcelona?"
"Iya. Kita akan jalan-jalan ke sana. Kau mau?"
Kimmy menganggukan kepalanya semangat. Kemanapun perginya, selama itu jalan-jalan, ia tidak akan pernah menolak.
"Aku akan pulih secepatnya," ujarnya dengan semangat.
Jef mengulas senyum melihat betapa bahagianya gadis itu. Hal tersebut setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya dari masalah rumah tangga dengan Belle.
"Hanya kita berdua?" tanya Kimmy memastikan, Jef menganggukan kepala membenarkan.
Seketika Kimmy tertegun. Ekspresi yang semula bahagia kini berubah sedih. Andai pernikahannya itu tidak seperti ini, mungkin ia bisa membagi kebahagiaan ini kepada bibi dan kedua keponakannya. Mengajak mereka untuk pergi bersama. Tapi sayangnya, itu hanya sebatas andai. Kini Kimmy di buat bingung, sampai kapan harus menyembunyikan pernikahan ini kepada keluarganya sendiri.
"Kenapa?"
Pertanyaan Jef memaksa Kimmy untuk keluar dari segala pemikirannya.
"Tidak, tidak apa-apa!" jawabnya berusaha tersenyum, agar Jef tidak sampai mencemaskannya.
__ADS_1
Bersambung...