Dark Wife Mr. JEF

Dark Wife Mr. JEF
CILOK


__ADS_3

Suster Rumah Sakit mengantar Belle ke ruang khusus cek kandungan. Selang beberapa menit seorang Dokter wanita masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Selamat siang, nona," sapa Dokter yang bernama Regina itu.


Belle membalas sapaan tersebut dengan senyuman, lalu ia berkonsultasi pada Dokter Regina atas apa yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini.


Setelah mengecek perut wanita itu dengan alat, Dokter Regina mengulas senyum.


"Selamat, nona Belle. Saat ini anda sedang hamil dan usia kandungannya sudah memasuki minggu ketiga," jelas Dokter sontak membuat Belle melongo.


Tiga minggu? Batin Belle.


Untuk beberapa saat ia terdiam. Ia teringat kapan hubungan terakhir kalinya dengan Jef, yaitu sekitar tiga bulan lalu. Lalu kenapa ia bisa hamil dengan usia kandungan tiga minggu?


"Nona Belle?" panggilan Dokter Regina membuyarkan segala lamunan Belle. "Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


Belle menggeleng. "Tidak, tidak ada, Dok," jawab Belle terbata.


"Syukurlah. Pesan saya, nona Belle jangan banyak melamun apalagi stress. Sebab itu sangat berpengaruh besar pada pertumbuhan janin di rahim nona Belle," pesan Dokter Regina di angguki oleh Belle.


"Baik, terima kasih, Dokter," ucap Belle sebelum akhirnya Dokter Regina memutuskan keluar ruangan usai memberinya perintah untuk menebus vitamin sebagai suplemen yang harus ia konsumsi selama hamil.


Dalam perjalanan pulang, Belle masih kepikiran soal kehamilannya. Tidak mungkin itu anak Lim dan aneh juga jika ia mengandung anak Jef. Tapi bagaimanapun, ini akan menjadi senjatanya untuk bisa kembali bersama Jef.

__ADS_1


"Ya, ini akan menjadi kesempatan bagus agar aku bisa bersama lagi dengan Jef," lirihnya.


***


Di ruangan kerja perusahaan yang di pimpin oleh Jef Abellard, pria itu tampak di buat sedikit sibuk oleh pekerjaannya hari ini. Meski demikian, ia menyempatkan diri untuk mengabari Kimmy, menanyakan wanita itu sudah makan siang atau belum, atau sekedar menanyakan permintaan apa lagi yang harus ia turuti.


"Hari ini aku ingin makan cilok. Bisakah kau membelikannya untukku? Lebih tepatnya untuk si jabang bayi," pinta Kimmy dari sambungan telepon.


"Cilok?" ulang Jef, ia merasa asing dengan apa yang baru saja di sebutkan oleh istrinya.


"Ah, iya. Cilok, jajanan pinggir jalan. Kau bisa mencarinya sepanjang jalan ketika pulang nanti."


Meski masih kurang paham dengan apa yang di maksud oleh Kimmy, Jef tetap mengiyakan dan akan membawakan apa barusan? Cilok? Ia bahkan akan searching dulu di google untuk mengetahui apa itu cilok.


Jef kembali mengambil benda pipih yang di letakan di atas meja di sampingnya. Kemudian mengetikan nama 'CILOK' di kolom pencarian. Di sana muncul beberapa gambar yang ia cari. Jef menganggukan kepalanya mengerti dan mungkin akan mudah sekali menemukan penjual jajanan itu.


Ia bangkit dari duduknya, beranjak dari sana meninggalkan ruangan. Mengenai pekerjaannya, ia akan minta Cheryl yang mengurus semuanya. Baginya Kimmy lebih penting, dan akan repot jadinya jika bayinya nanti terlahir ngences jika ia tidak menuruti permintaan ibu dari anaknya.


Jef mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal. Kedua matanya sibuk menyisir bahu jalan guna menemukan apa yang sedang ia cari. Seketika bibirnya mengulas senyum pada saat kedua matanya menangkap gerobak di atas motor yang bertuliskan 'CILOK' tengah mangkal di depan kios kosong.


"Permisi..."


Seseorang yang berada di balik gerobak bangkit berdiri begitu mendengar suara seseorang yang kini berdiri di depan gerobak ciloknya.

__ADS_1


"Ciloknya masih ada?" tanya Jef pada penjual cilok tersebut.


Alih-alih menjawab pertanyaan sang pembeli. Penjual cilok yang masih tampak muda itu mengamati stelan pakaian yang di kenakan Jef dari ujung kaki sampai ujung kepala. Kemudian ia menengok ke arah sisi kanan dan kiri Jef, mencari sesuatu yang saat ini tengah ia pikirkan.


"Lagi bikin konten bagi-bagi rezeki, ya?" tebak si penjual seraya memamerkan sederet gigi kuningnya.


Hal tersebut membuat Jef melongo terheran.


"Maaf, aku hanya ingin membeli cilok daganganmu," jawab Jef datar.


"Oohh.. Berapa?" tanya si penjual dengan segera mengambil kantong plastik es bersiap memasukan ciloknya.


"Semuanya."


Si penjual yang hendak mengambil cilok dari dalam panci seketika mendongak.


"Tuh kan benar dugaan saya. Anda pasti lagi bikin konten yutub, ya? Kamera mana kamera?"


Dengan so kecakepan si penjual membenarkan rambut dan merapikan pakaiannya. Agar ia bisa terlihat ganteng ketika sebuah kamera mengambil gambarnya.


"Aku bukan seperti yang sedang kau pikirkan. Cepat ikut aku jika kau masih berniat untuk menjual daganganmu."


Jef beranjak dari sana menuju mobilnya. Tak ingin menyia-nyiakan rezeki nomploknya, si penjual cilok segera naik ke atas motornya dan berkendara bersama gerobaknya di belakang mobil Jef.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2