
Malam harinya.Di rumah Derra.Ia sengaja mengundang semua orang datang untuk acara BBQ yang diadakan olehnya,Qila dan juga Firly.
"Ini,Ryu belum pulang ya?." tanya Om Dimas ketika belum melihat Ryu di antara mereka.
"Mungkin sebentar lagi dia pulang." jawab papa Reno.Keduanya kini sedang duduk di sofa yang ada di halaman belakang rumah Om Dimas.Sedangkan Derra dan yang lain berada tak jauh dari mereka untuk memanggang daging yang tadi sudah di siapkan oleh mama Icha dan mama Diva.
"Der,bang Ryu sudah tahu belum kalau surat cerai elo sudah keluar..?" tanya Salsa.
"Belum Sa.Tapi dia tau kalau hari ini gue resmi cerai sama Rafi." jawab Derra sambil membolak balikkan daging pangganganya.
"Gimana perasaan elo Der..?" tanya Firly.
"Mencoba untuk sebiasa mungkin dan segera melupakan semuanya Fir.Gue gak mau melihat kebelakang terus karena masa depan gue masih panjang." jawab nya membuat Firly dan Salsa tersenyum.Begitu juga dengan Qila.Sebagai sahabat,ketiganya selalu mendukung apapun keputusan Derra.Dan selalu mendoakan kebahagiaan selalu menyertainya.
"Mudah-mudahan setelah ini elo akan bahagian bersama abang gue Der." celetuk Firly dengan sengaja.Meski kemarin ia tau jika abangnya mempunyai hubungan spesial dengan Vania.Tetapi,harapanya tak pernah berubah.Selalu mengharapkan agar Derra berjodoh dengan Ryu.Karena memang keduanya sudah bersama sejak dari kecil.
#Apa bisa gue bahagiain bang Ryu dengan keadaan gue yang seperti ini..?# tanya nya dalam hati ketika semua orang mulai mengharapkanya kembali bersama Ryu.Ia menerawang jauh dan selalu mengingat alasan utama mengapa dia sampai bercerai dengan Rafi.Dan itu membuatnya semakin berfikir lebih dan lebih lagi untuk melangkah jauh lagi.
"Assalamualaikum...." Ryu dan Vania mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah Derra di ikuti Mark dan Niko dari belakang.
"Waalaikumsalam." jawab semua orang.Ke empatnya berjalan mendekati Mama Icha dan papa Reno.Mencium tangan keduanya secara bergantian dan setelah itu mencium tangan om Dimas dan tante Diva.Mama Icha menyuruh Niko untuk duduk di sampingnya.Membuat Ryu langsung memanyunkan bibirnya dengan seketika.
"Tumben kalian baru pulang..?apa pekerjaanya sebanyak itu..?" tanya mama Icha.
"Perasaan anaknya Ryu deh.Kenapa malah Niko sih yang di ajak duduk di sebelah mama." tanya Ryu dengan sedikit kesal.
"Sudahlah Ryu,terima aja.Posisi elo sudah tergantikan oleh Niko dan juga Mark." ledek Lino.Semakin membuat Ryu kesal dan langsung duduk di samping Derra.Sedangkan Vania sudah sedari tadi duduk bersebelahan dengan sahabatnya yaitu Syeril.
"Gimana keadaan elo Ril...?apa anak gue baik-baik saja.?" tanya Vania yang memang lebih antusias dengan kehamilan sahabatnya yang sekarang.
"Alhamdulillah.Baik Van.Awas ya,nanti kalau dia sudah lahir.Elo yang harus ngerawat dia.Gue mau istirahat saja." jawab Syeril yang justru menyuruh Vania merawat anaknya.
"Baiklah-baiklah.Nanti gue bakal ambil anak elo ya." jawabnya dengan tertawa.Tak berapa lama daging pun mulai matang.Semuanya menikmati hidangan malam ini dengan bahagia.Saling bercanda tawa dan bercerita satu sama lain.
"Btw....bang Saga gak pulang kak..?" tanya Vania pada Celline.
"Enggak.Pekerjaanyan di sana masih belum selesai.Paling juga minggu depan baru pulang." jawab Celline.
"Di sana bang Saga sama siapa kak..?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Sama bunda dan Ayah." jawab Celline sekali lagi.
"Owh,gitu ya." Vania mengangguk anggukan kepalanya saja.
Hari semakin malam.Para orang tua memilih untuk pulang dan beristirahat.Begitu juga dengan yang lain.Dan kini,hanya tinggal Mark,Niko,Ryu,Vania dan juga Derra yang masih terjaga.
"Derra,kakak boleh numpang ke kamar mandi gak..?" tanya Vania.
"Boleh kak.Lurus saja habis itu belok kiri." jawab Derra dan di angguki Vania.Ia pun melangkah pergi menuju kamar mandi.
"Gimana tadi sidangnya..?Lancar gak..?" tanya Ryu dengan tiba-tiba.
"Alhamdulillah.Kata Om Dery,tadi Rafi juga datang ke sana." jawab Derra.
"Ngapain..?" tanya Ryu penasaran.
"Ya ambil surat cerai mungkin."
"Sudah keluar memangnya..?"
"Sudah dong kak.Kan memang hari ini sidang terakhir dan suratnya juga langsung keluar."
"Owh...jadi sekarang kamu sudah menyandang jadi janda dong..?" tanya Ryu dan Derra menganggukkan kepalanya.
"Ya sakitlah.Dulu impianku ingin menikah sekali seumur hidup.Tapi teryata takdir Tuhan sungguh istimewa." jawabnya dengan tersenyum kecut.
#Sebenarnya bukan takdir Tuhan sih,tapi doa keluarga kita Dek.Apalagi mamaku yang selalu berharap kamu pisah sama mantan suami kamu itu.# kata Ryu dalam hatinya sambil menahan tawanya.
"Sabar.Pasti akan ada pelangi setelah hujan.Abang yakin suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan kebahagianmu." ucap Ryu menyemangati Derra.Dan tanpa mereka sadari,sedari tadi Vania sudah melihat interaksi Derra dan Ryu.Kembali membuat hatinya tercabik-cabik ketika melihat seseorang yang sangat ia sayangi,tetapi orang tersebut sama sekali tak mencintainya.
"Ryu,bisa antar aku pulang gak..?" tanya Vania membuat semuanya langsung mendongak.
"Kakak gak nginep sini saja.Ini sudah malam loh.?" tanya Derra yang justru menawari Vania agar menginap di rumahnya.
"Gak usah Der.Kakak pulang saja.Lagian,besok kakak ada janji sama kak Villia." jawab Vania menolak halus tawaran Derra.
"Di antar Niko ya kak.Gue capek banget soalnya." ucap Ryu.
"Terserah deh yang penting anterin aku pulang." jawab Vania.Pada akhirnya,Vania pun pulang bersama dengan Niko.Dan di sepanjang jalan menuju rumahnya,Vania hanya diam sambil menatap keluar jendela.Melihat jalanan yang mulai sepi karena memang hari semakin malam.
__ADS_1
Kruyuk...kruyuk...kruyuk...
Vania melototkan matanya ketika mendengar bunyi perutnya.Tanda ia sedang menahan lapar.
"Mau mampir dulu gak..?" tanya Niko memecah keheningan.Selain Vania sendiri,dirinya juga bisa mendengar bunyi perut Vania.
"Mampir kemana..?" tanya Vania basa-basi.
"Warung makan mungkin.Cacing di perutmu sudah demo minta makan.Lagian aku juga lapar,butuh vitamin untuk tidur." jawab Niko.
"Apa tidak merepotkan..?" tanya Vania tak enak hati jika harus mengajak Niko makan di warung pinggir jalan.
"Em...No!.Kamu mau makan di mana..?"
"Nasi goreng boleh..?"
"Oke.Kita cari penjual nasi goreng ya." ajak Niko.
#Apa esnya sudah mencair ya..?kenapa dia jadi banyak bicara ya...?# tanya Vania dalam hatinya.Sungguh terkejut dengan duda keren di sebelahnya ini.Duda keren yang biasanya pendiam,dingin dan juga cuek,bisa menjadi duda keren yang banyak bicara.
Niko mengentikan mobilnya setelah menemukan penjual nasi goreng dan langsung keluar dari mobilnya dan mulai memesan menu yang ia dan Vania inginkan.
"Apa tidak apa-apa kamu makan di sini...?" tanya Vania tidak enak hati karena harus mengajak Niko makan di warung pinggir jalan.
"No problem.Aku sudah biasa makan di pinggiran." jawab Niko dengan santai.
"Oh ya..?apa di Korea banyak orang berjualan di pinggir jalan..?"
"Banyak lah.Kalau weekend,aku dan yang lain selalu berwisata kuliner di sana."
"Owh begitu ya.Oh ya,aku turut berduka cita ya atas meninggalnya keluarga kamu.Maaf,kemarin belum sempat berbela sungkawa karena keadaanmu membuatku sedikit takut." ucap Vania dengan penuh hati-hati.
"Iya gapapa.Maaf ya kemarin aku gak sempat menyambutmu dengan baik." jawab Niko yang juga meminta maaf.Tak berapa lama,nasi goreng pun jadi keduanya menikmatinya dengan tenang dan tanpa ada pembicaraan lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...