
Lanjut....
Masih di bandara....
"Kamu gimana Dek..?serius mau terima kerjaan itu..?" tanya Ayana.
"Terimalah Eonni,kan lumayan,gajinya gede.Bisa buat hidup sehari-hari." jawab Vania.
"Tanpa kamu kerja,Daniel tuh bisa hidupin kamu Van."
"Iya tau.Tapi aku gak mau terus-terusan ngrepotin Oppa.Dia sudah banyak berjasa dalam kehidupanku dan Hyuna."
"Dia ikhlas Van." celetuk Ayana.
"Aku tahu eonni.Sudahlah,eonni gak usah pikirin.Lagian,kata Refa,aku gapapa kok kerja bawa Hyuna.Bosku gak nglarang.Malah seneng katanya." ucap Vania yang begitu antusias untuk segera mamulai pekerjaanya di Itali.
"Ya sudah,mudah-mudahan kamu dapat bos yang baik ya.Yang bisa menyukai Hyuna juga."
"Iya...makasih ya eonni.Nanti,pokoknya Eonni sana Oppa harus ke sana buat ngunjungin kita ya.Soalnya.. kalau aku dan Hyuna yang ke sana ndak mampu Eonni,biaya terlalu mahal." kata Vania sambil menyengir kuda.Membuat Ayana terkekeh karena melihat kelakuan Vania.
Satu jam kemudian Vania,Hyuna,Daniel dan juga Ayana harus berpisah karena tujuan yang berbeda dan itu membuat Hyuna sempat menangis karena tidak mau berpisah dengan Appa Daniel.Orang yang selama ini sudah menjadi sosok ayah bagi Hyuna kecil,bagitu juga dengan Ayana yang juga sudah seperti ibu ke dua bagi Hyuna.
"Hiks...hiks...hiks...au itut Appa...hiks..." katanya dengan sesenggukan dan masih setia menempel di gendongan Daniel.
"Sayang...Appa harus kerja.Hyuna mau ikut Appa kerja..?Hyuna mau di suntik Appa..?" tanya Daniel dengan sedikit menakuti Hyuna.Sebenanrya Daniel tak bermaksud untuk menakuti Hyuna.Tetapi,saat ini dirinya dan Ayana memang tak bisa membawa Hyuna bersama mereka.Selain pekerjaan Daniel yang nantinya kan banyak sekali menyita waktunya.Di tambah dengan keadaan istrinya yang sedang hamil dan harus banyak istirahat karena kandunganya yang sedikit lemah.
"Yuna dak au di tuntik,Yuna au itut Appa." jawabnya lagi sengan sesenggukan.
"Sayang.Nanti ya,kita susulin Appa." ucap Vania mencoba membujuk anak nya.
"Benelan susun Appa,mami..?" tanya Hyuna dan di angguki Vania.Hyuna pun merentangkan tanganya,meminta di gendong oleh Vania.Membuat Daniel dan Ayana sedikit lebih tenang.
"Antik tetemu di tana ya Appa."
"Iya sayang,tunggu Appa ya.Hyuna gak boleh nakal,oke?"
"Ote Appa.Eomma,Appa ati-ati ya" kata Hyuna sambil melambaikan tanganya.
"Iya sayang...daa hyuna..." jawab Daniel dan juga Ayana yang juga melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.Setelah itu Vania dan Hyuna masuk ke dalam pesawat.
"Mami,Yuna nantuk." ucap nya dengan mengucek matanya.
"Ya sudah,mau bobok sendiri apa sama mami..?"
__ADS_1
"Bobok cendili." jawab Hyuna yang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat duduk yang sudah di sulap menjadi tempat tidur.
#Gimana jadinya jika suatu saat kita bertemu papa kamu sayang..?apa dia mau menerima kamu..?# tanya Vania dalam hatinya sambil mengelus kepala Hyuna.Hampir dua tahun Vania pergi meninggalkan Indonesia tanpa kabar apapun.Meski sulit untuk melupakan Ryu.Namun,Vania tetap berusaha untuk mwnerima semua yang akan terjadi.Dia juga sudah yakin,jika saat ini Ryu pasti sudah menikah dengan Derra,dan dirinya juga sudah sangat menerimanya.Akan tetapi,di balik itu semua,Vania juga merasa takut jika suatu saat nanti Ryu akan mengambil Hyuna darinya,karena walau bagaimanapun Ryu adalah ayah kandung dari Hyuna.Dan dia berhak meminta hak untuk merawat Hyuna.
*****
Di Indonesia....
Semenjak kepindahan Saga ke Itali.Lino memutuskan untuk tinggal kembali di rumah utama sampai abangnya kembali lagi ke rumah.Karena ia tak mau melihat kedua orang tuanya yang sendirian tanpa di temani seorang anak.Apalagi,saat ini Ryu masih belum pulang dari bulan madunya dan Firly yang memang tinggal bersama mertuanya.Jadilah,Lino kembali mengalah dan meninggalkan rumahnya untuk sementara.
"Nanti siang kamu pulang gak yank...?" tanya Syeril saat sedang berada di kamar.
"lihat nanti saja.Kalau gak sibuk,aku usahain pulang deh.Soalnya aku mau ke kantornya Ryu dulu." jawab Lino.Saat ini,Lino memang menjadi penanggung jawab perusahaan tersebut atas permintaan adiknya sendiri.
"Kamu nanti ke bandara sendiri gapapa kan yank.?" kini berganti Lino yang bertanya.Karena hari ini bertepatan dengan kepulangan Gibran dari Korea.Dan itu membuat Syeril dangat senang dan ingin menjemputnya di bandara secara langsung.
"Iya,nanti sama Queen juga kok." jawab Syeril.Ia berjalan mendekati suaminya dan mulai memakaikanya jas.
"Ya sudah,hati-hati ya.Sampaikan maafku sama Gibran,soalnya gak bisa jemput dia." kaya Lino.
"Iya.Btw...gimana sama Vania yank..?apa ada perkembangan..?" tanya Syeril.Hampir setiap hari,ia selalu menanyakan kabar dari Vania melalui suaminya yang mungkin sampai sekarang belum bisa menemukan sahabatnya tersebut.
"Dia sepertinya ada di Kanada." jawab Lino.Membuat mata Syeril langsung membulat karena terkejut.
"Ya gak gimana-gimana.Anak-anak masih berusaha nyari lagi karena mereka juga waktu itu gak sengaja lihat orang yang wajahnya mirip banget sama Vania." jawab Lino lagi.
"Masak intel susah banget nemuin Vanianya yank..?" Syeril mengerucutkan bibirnya lantaran sampai sekarang kabar keberadaan Vania masih saja simpang siur, padahal sudah hampir setahun Lino mencari Vania.
"Yank,Kanada itu luas.Mereka gak mungkin nyari Vania di satu tempat.Dan lagi,nama Vania itu banyak.Sedangkan mereka itu cuma modal foto doang yank.Gak ada informasi yang tepat buat nyari dia,makanya sulit banget ketemu.Kamu yang sabar ya.Aku yakin,nanti kita bakal ketemu sama Vania kok." jawab Lino berusaha menjelaskan dan meyakinkan istrinya agar tetap bersabar.
Selesai bersiap,keduanya langsung keluar kamar dan bergabung dengan Papa Reno dan yang lain untuk sarapan.
"Mommy mau ke mana..?" tanya Clay saat melihat mommy Syeril sudah rapi dan cantik.
"Mommy mau ke bandara sayang " jawab mommy Syeril.
"Ngapain..?" tanya nya lagi.
"Mau jemput Om Gibran." jawab mommy Syeril dan seketika membuat Clay terkejut.
"Ikuut......." rengeknya manja,
"Dak oyeh!tatak toyah." larang Queen sambil menggerakan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
"Abang kan sekolah sayang...lagian nanti pulang sekolah kan ketemu sama Om Gibran."
"Ya tapi kan mom....." Clay mengerucutkan bibirnya lantaran tak di perbolehkan ikut menjemput om nya tersebut.
"Sudah,jangan cemberut gitu,Om Gibran juga gak akan kemana-mana.Nanti kamu puasin kangen-kangenan nya." kata Daddy Lino.
"Ya sudah iya." jawab nya akhirnya dengan pasrah.
"Nanti Gibran langsung pulang kesini kan Ril..?" tanya mama Icha.
"Iya Ma." jawab Syeril dengan menganggukan kepalanya.
"Ya sudah,kamu hati-hati ya." ucap mama Icha sekali lagi.
Setelah selesai sarapan.Semuanya langsung berangkat menuju tempat masing-masing.Syeril dan Quenn pergi menuju bandara dengan di antar supir.
"Mommy,Om Diban yama dak di lumah..?" tanya Queen saat masih dalam mobil.
"Emm...mommy juga gak tau sayang.Nanti Queen tanya sendiri ya." jawab mommy Syeril dengan lembut.
"Om Diban dawa boneta dak ya...?" tanya Queen sambil meletaknyan jari telunjuknya di pipinya dengan matanya melihat ke atas,seperti orang berfikir.
"Memangnya Queen ada minta boneka sama Om..?" kini berganti mommy Syeril yang bertanya.
"Endak,yan mita ate Eya." jawab Queen.Membuat Mommy Syeril langsung mengerutkan keningnya karena mendengar jawaban dari Queen.
"Tante Ella..?kok bisa Queen..?"
"Malen ate tepon-tepon tama Om,tyus ninta boneta deh." jawab nya dengan penuh kepolosan dan penuh kejujuran.
#Hah..!!sejak kapan Gibran punya nomor ponselnya Ella.# tanya Syeril dalam hatinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1