
"Kamu mau bicara apa..?" tanya Ryu.
"Emm....aku bingung harus bicara apa Ryu." jawab Vania gugup.Ia sendiri sebenanrya juga bingung harus memulainya dari mana.Dirinya benar-benar takut jika Ryu akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk mengambil DNA Hyuna.Ia benar-benae takut akan hal itu.
"Huh....kalau tidak ada yang kamu tanyakan aku mau balik ke dalam." ucap Ryu yang hendak berdiri,tetapi Vania sudah mencegahnya.
"Ryu...tunggu!.Emm...ini masalah Hyuna.Kamu tahu kan apa maksud ku Ryu?aku bingung harus bagaimana Ryu,aku harap kamu bisa membantuku juga." ucap Vania akhirnya bisa mengungkapkan isi hatinya.
"Kita masuk!sedari tadi suamimu sudah meperhatikan kita.Aku gak mau ada kesalah pahaman." ucap Ryu mengajak Vania masuk,padahal keduanya baru saja duduk di ayunan.Vania menatap ke arah mata Ryu,di mana memang dari kejauhan Vano sedang berdiri dan memperhatikan keduanya.
"Huft....sungguh lelahnya diriku ini." gumamnya dengan pelan sambil berjalan di belakang Ryu.
"Udah balik elo bang." sapa Ryu sambil menepuk pelan pundak Vano.
"Hemm....." jawab Vano hanya berdehem.Ia menatap Vania yang berjalan mendekat sambil terus menundukan kepalanya.
"Aku tunggu kamu di kamar!" titahnya dingin.Membuat Vania langsung merinding.Meski tak melihat.Vania masih ingat bagaimana raut wajah Vano ketika sedang marah.
"Iya...." jawabnya pelan.Ia berjalan mengikuti Vano sambil terus menundukan kepalanya.Berjalan melewati seluruh keluarganya yang sedang duduk bersama di ruang tengah.
"Mereka kenapa..?" tanya Firly.
"Hsssst....bukan urusan kita." jawab Lino.
"Mom...gimana sama Vania..?" tanya daddy Bima.
"Ya,tadi mommy udah bicara sama dia dad."
"Terus...?" tanya nya lagi.
"Gak tau,mommy juga bingung.Tadi sebenanrya di gak mau nginep sini.Tapi Syeril udah bicara sama dia."
"Iya Om.Syeril tadi udah bicara kok sama Vania.Om tenang saja.Vania pasti bisa melewati itu semua kok." ucap Syeril.
"Ya sudah kalau begitu.Om cuma takut Vania tertekan Syer."
"Vania wanita yang kuat kok Om.Dan itu sudah terbukti.Vania yakin itu." jawab nya dengan yakin sambil melirik Ryu.
"Appa...Yuna nantuk,nau tidul." rengeknya sambi mengucek matanya.
"Ya sudah,ayo tidur." Ryu langsung mengangkat tubuh Hyuna dan membawanya ke kamar atas.Dan semua perlakuan Ryu tak luput dari pandangan semua orang.
__ADS_1
"Sudah bisa nerima anak nya dia..?" tanya Felix pada adik nya.
"Ya harus bisa lah.Kan memang Hyuna anak nya kak Ryu.Ya masak gak di akui sih." jawab Derra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan nya kemarin kekeh banget gak mau ngakuin..?" tanya nya lagi dan kali ini Derra hanya tersenyum tanpa jawaban.
"Ya dia udah dapat hidayah Fel." celetuk Zein.
"Kok mau-mau nya sih kak Vano sama Vania.Kan Vania udah gak perawan." cibir Tara,istri dari Zein yang memang sedari dulu tidak menyukai Vania karena Vania dulu pernah berpacaran dengan Zein.
"Terus harusnya bang Vano sama siapa?elo..?" tanya Firly ketus.
"Sa...elo mau-maunya sih punya ipar berhati iblis kayak dia..?" tanya Firly membuat mata Tara langsung mendelik.
"Deeek....mulutnya kok gitu..?" papa Reno memperingati Firly agar tidak berkata kasar pada seseorang.
"Ya dia mulut nya juga gitu." jawab Firly dengan kesal.Ia pun berdiri dari duduknya dan pergi menyusul anak nya yang sudah tidur di kamar.
*******
Ceklek...
Vano membuka kamar nya dan membiarkan Vania masuk.Setelah itu ia menutup pintu kamar nya.Sambil melipat tangan nya di dada.Vano dingin pada Vania.Ingatan nya kembali ke masa lalu,di mana Vano pernah mencintai Vania.Tatapi,Vania malah memilih Zein.
"Bicara apa tadi sama Ryu..?" tanya Vano pelan.
"Emm...itu...." jawab nya gugup.Ia benar-benar takut dengan Vano saat ini.Hampir tiga tahun ia tidak pernah bertemu dan berkomunikasi dengan Vano.Dan malam ini,Vania di oergemuka dengan Vano dengan status nyan yang sudah menjadi istri.
"Huh...." Vano menghela nafasnya. "Kamu tahu kan status kita apa?,aku tahu kalau Ryu adalah saudaraku,tapi dia ayah dari anak yang kamu lahirkan dan dia juga orang yang masih kamu cintai.Bisa gak sih kamu menghargai amanat yang sudah di berikan Dilla padamu..?" tanya Vano dengan sedikit menahan emosinya.Vano memang mempunyai sifat pencemburu dan posesif.Ia akan sangat marah jika kekasih atau istrinya dekat dengan seorang lelaki tanpa dia tahu.Walaupun itu saudaranya sendiri.
"Aku tahu kamu terpaksa,aku juga terpaksa.Tapi setidaknya tolong kamu hargai aku sebagai suamimu.Kamu pernah mengenalku dan kamu juga pasti tahu kan aku ini seperti apa Vania.?"
"Maaf,tadi aku hanya membicarakan soal Hyuna.Gak lebih." jawab Vania dengan lembut.Ia tahu jika saat ini Vano sedang marah.Dan Vania sangat ingat bagaiamana caranya menghadapi Vano ketika sedang dalam mode marah.Dulu Vano sempat memberitahu kepada nya jika ketika Vano marah, hadapilah dengan tenang.Karena dengan cara itu Vano bisa meredam emosinya.
"Apa kamu gak menyimpan nomor ponselku..?" tanya Vano lagi, dengan mendekati Vania.Dan kali ini ia bertanya dengan sangat lembut.
"Maaf Mas.Semenjak aku pindah ke Kanada dan membuang sim card lamaku.Nomor kamu sudah tidak tersimpan di ponselku." jawab nya tak enak hati.
"Mana ponsel kamu..?" pinta Vano.Vania pun meberikan poselnya dan Vano langsung memasukan nomor ponselnya ke dalam ponsel Vania.
"Lain kali minta izin padaku." ucap nya sambil mengembalikan ponsel Vania
__ADS_1
"Iya..." jawab Vania.
"Tidurlah,ini sudah malam.Kamu bisa pakai,pakaian milik Dilla." ucal Vano yang kemudian pergi meninggalkan Vania di kamar.Setelah Vano pergi,Vani langsung menghela nafasnya lega.Duduk di bibir ranjang sambil terus mengelus dadanya.Terus menguatkan dirinya agar tetap sabar menjalani semuanya.
"Takdir-Mu benar-benar tidak terduga.Semoga kedepan nya aku bisa tahan dengan sikap nya." ucap Vania berbicara sendiri.Karena merasa lelah,Vania langsung pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum akhirnya ia beristirahat.
******
Vano berjalan menuruni tangga rumah nya. Rumah yang baru ia beli setelah ia menikah dengan Dilla.Rumah yang menjadi saksi cintanya dengan Dilla.Wanita ke dua yang begitu sabar dengan sikapnya yang temprament.Vano menatap sekeliling rumahnya,rumah yang sekarang membuat hatinya begitu sakit dan sesak di dadanya.
"Hiks...apa yang harus aku lakukan sayang....hiks...harus bagaiman aku menjalani semuanya hiks..." Vano menangis sambil terus nemandang foto pernikahan nya dengan Dilla yang teroajang di dinding ruang tamu.
"Papi......" panggil Ella.Nembuat Vano langsung menghapus air matanya dan menoleh pada anak perempuan nya.
"Ya,sayang" jawab papi Vano dengan tersenyum.Ella mendekati papinya dan langsung memeluknya.
"Papi jangan sedih ya,kalau papi sedih,Ella juga sedih." ucap nya sendu.Vano tersenyum sambil mengelus pucuk rambut anak nya.
"Papi gak sedih kok.Hanya teringat sama mami saja." jawab papi Vano.
"Kamu ngapain di bawah malam-malam kak...?" tanya papo Vano.
"Ella haus Pih,ambil minum." jawab nyan sambil menunjukan botol yang berisi minuman.
"Ya sudab,gih tidur.Sudah malam sayang besok sekolah kan.?"
"Emm....papi...?soal tante Vania...?" tanya nya sedikit kebingungan.Ella ingin menanyakan Vania kepada papinya.
"Kenapa..?kamu gak suka...?"
"Suka kok pih,Tante Vania kan baik orangnya." jawabnya. dengan cepat.Membuat Vano tersenyum.
"Trus apa yang mau di tanyakan..?"
"Emm...Papi?gimana...?" tanya Ella.Karena dirinya juga tahu jika papinya sangat sulit sekali jika harus dekat dengan wanita lain.
"Kalau anak papi suka,ya papi ikit suka lah.Sudah,jangan di bahas lagi.Tidur gih,besok kamu sekolah." pintanya.Ella menganggukan kepalanya dan kemudian ia pergi meninggalkan Vano sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.