
Cuaca yang cukup mendung dan hawa yang lumayan dingin membuat dua orang enggan untuk bangun dari tidurnya dan memilih menarik selimutnya kembali dan memejamkan matanya lagi.
"Gak mau bangun..?" tanya nya pada wanita yang masih setia memeluknya.
"Capek..." jawabnya dengan serak.Membuat sang lelaki terkekeh.
"Tapi katanya mau berangkat sekarang.Kalau Niko jemput kamu gimana..?" tanya laki-laki tersebut yang ternyata adalah Ryu.Ya,tanpa mereka sadari dan karena terlena akan rasa masing-masing.Kedunya pun melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.Ryu sudah mengambil kesucian dari wanita yang saat ini sedang memeluk dirinya dengan erat.Sedangkan Vania sendiri,karena rasa cintanya yang begitu besar kepada Ryu,ia rela memberikan apa yang lelakinya mau tanpa perduli akibatnya nanti.
"Dia gak akan menjemputku." jawab Vania,membuat Ryu langsung memicingkan matanya.
"Bukanya kemarin kamu bilang akan pergi bersama Niko...?"
"Aku bohong.Karena aku gak mau saja kamu ganggu.Tapi ternyata khodam kamu lebih sakti.Sampai membuatku terlena." jawaban Vania seketika membuat Ryu tertawa.
Cup...cup...cup....
Ryu mengecup kening Vania berkali-laki.
"Aku sayang kamu."
"Jangan mudah mengucapkan kata sayang,jika nantinya kamu bakal berkhianat." kata Vania seakan menyadari jika dirinya tak mungkin menjadi prioritas utama seorang Ryunjin.
"Kok gitu.?memangnya kamu gak mau sama aku sayang..?" tanya Ryu membuat Vania tersenyum tanpa membuka matanya.
"Di hati kamu masih tertanam nama Derra.Dan aku gak akan mungkin bisa menghapusnya.Derra cinta pertamamu.Apalagi sekarang dia sudah menjanda.Jadi kesempatan kamu untuk menikah denganya lebih besar." jelas Vania,kini ia sudah membuka matanya dan menatap Ryu.
"Lalu..?kamu bagaiamana..?aku sudah merusakmu,dan aku gak mungkin meninggalkanmu kan.?"
"Kalau begitu kamu nikahi aku saja sekarang." tantang Vania.Membuat mata Ryu membola.
"Menikah..?tapi menikah kan gak gampang sayang,harus banyak yang di urus."
"Ya kamu urus lah.Seminggu lagi aku bakal berangkat ke Jerman.Aku akan menunggumu sampai satu minggu.Jika dalam satu minggu kamu gak menikahi aku,ya sudah.Aku akan pergi menyusul papa dan mama." jawab Vania yang kemudian melanjutkan tidurnya dengan memeluk Ryu.
Sakit,hancur,sedih.Itulah yang Vania rasakan saat ini.Melepas mahkota yang sudah ia jaga bertahun-tahun pada seseorang yang entah akan bertanggung jawab atau tidak.Yang pasti,Vania sudah ikhlas dengan semua jalanya.Ia siap menerima apapun yang akan terjadi di kemudian hari.
*****
Tiga hari kemudian Syeril sudah di perbolehkan untuk pulang.Dan hari ini,Syeril dan Lino akan pulang ke rumah pribadi keduanya.Dan di sana,sudah banyak saudara yang menunggu keduanya.
Sedangkan di tempat lain.Tepatnya di cafe milik Syeril.Vania dan Villia sedang sibuk melayani pembeli dan juga pelanggan online nya.
Sudah tiga hari Vania tak menghubungi Ryu sama sekali.Dan ia juga tak mau mengganggu waktunya.Vania sudah pasrah dengan apa yang terjadi nanti.
__ADS_1
"Van,kerumah Syeril yuk,dia kan udah pulang." ajak Villia.
"Gue lagi males Vil.Elo aja ya sendiri gapapa kan..?badan gue meriang Vil." jawab Vania dengan lesu.
"Elo sakit Van..?" tanya Villia.
"Cuma pusing doang kok.Bentar lagi paling juga ilang.Tadi gue udah minum obat kok." jawab Vania dengan menidurkan kepalanya di atas meja dengan bertumpu ke dua tanganya.
"Apa elo pulang aja deh Van.Gue khawatir sama elo." ucap Villia yang memang mengkhawatirkan kesehatan Vania.
"Nanti saja.Udah gue gapapa kok santai aja."
*****
Malam hari, semua orang sudah berkumpul di rumah Lino.Menyambut kedatangan baby Queen.
"Syer,kok aku gak lihat Vania ya..?" tanya Celline yang saat ini sedang duduk di samping Syeril.Baby Queen sedang berada di gendongan Saga.
"Kan dia lagi kerja kak.Tumben kak Celline nanyain Vania..?" tanya Syeril.
"Iya,kakak tuh mau nawarin dia buat jadi guru privatnya Jessy,kakak lihat dia lumayan pintar." jawab Celline
"Iya sih,dia memang pintar dan juga penyuka anak-anak.Syeril yakin dia mau.Tapi masalahnya dia itu katanya mau pindah ke Jerman kak.Bantu papanya kerja di sana."
"Coba deh,nanti kalau dia ke sini aku tanyain ya.Atau bisa kakak tanya langsung."
"Okedeh,nanti kalau dia ke sini kakak tanya sendiri."
******
"Kakak kenapa..?kok dari tadi diem saja,apa ada masalah..?" tanya Derra yang saat ini sedang menemani Ryu bermain bersama Clay,Kenzo dan juga yang lain.
"Gak ada kok.Kamu udah makan belum dek..?abang laper nih,keluar yuk cari makan." ajak Ryu.
"Ikuuutttt......" seru Clay dan yang lain.
"Kalian mau ikut..?" tanya Ryu dan semua menganggukan kepala.
"Okelah ayo kita cari makan." jawabnya yang kemudian berdiri dari duduknya dan langsung mengajak para keponakanya keluar.
"Mau makan apa..?" tanya Ryu saat sudah di mobil.
"Sate uncle,yang biasanya daddy beli itu.Satenya om Jhon..." jawab Clay.
__ADS_1
"Oke,kita ke kedainya om Jhon." ucap Ryu yang langsung melajukan mobilnya menuju kedai milik Jhoni.Anak dari Jamal,penjual sate yang dulu menjadi langganan papa Reno.
Sampai di kedai,dengan semangat 45 Clay dan yang lain langsung berlari masuk ke dalam.
"Malam Om Jhon....." sapa Clay,Kenzo dan Jessy.
"Eh....ada si ganteng dan si cantik.Kesini sama siapa..?" tanya Jhony.
"Sama Om Ryu." jawab Clay.Ryu dan Derra mendekat sambil menggandeng tangan Neo dan Ryu yang juga menggendong Raisa.
"Wah...wah...kalian ini sudah kayak suami istri tau gak,punya anak lima." ucap Jhony terkekeh.
"Suek elo Jhon.Elo layani nih pelanggan istimewa elo.Pada laper katanya." ucapnya sambil duduk di kursi.
"Ucle,Neo mau tate." pinta Neo.
"Iya,nanti di buatin sama uncle Jhon ya." jawab Ryu.
Karena kedai lagi sepi dan tak ada pelanggan sama sekalj.Ryu mencoba membantu Jhony menyiapkan pesanan.
"Tumben elo kasini rame-rame bro..?" tanya Jhony sambil menyiapkan bumbu untuk satenya.
"Iya,tadi gue lagi di rumah bang L.Terus jagain tuh para bocil." jawab Ryu.
"Btw,kapan elo nikah sama Derra..?dia kan udah free,bisalah di sahkan." tanya Jhony.Membuat Ryu hanya tersenyum simpul.
"Elo belum siap nikah sama doi cuy..?"
"Nantilah,gue pikir-pikir dulu." jawab Ryu.Karena dirinya sendiri juga bingung dengan keadaanya saat ini.Jauh di lubuk hatinya memang masih tersimpan jelas nama Derra.Namun dirinya juga sudah merusak Vania.Dan gak akan mungkin ia lepas tanggung jawab.Apalagi Vania memberinya waktu satu minggu untuk memutuskan.Namun,hingga tiga hari ini Ryu masih bingung harus memberi keputusan seperti apa.
"Aelah...kenapa mikir lagi sih Ryu,elo udah nunggu Derra lama loh.Hampir delapan tahun cuy,waktu yang cukup lama dan dalam delapan tahun ini elo bisa dapetin Derra tanpa merebut dari siapaun.Lalu,kenapa elo masih mikir sih.?" meski Jhony hanya penjual sate,namun dirinya cukup mengetahui kisah percintaan seorang Ryu.Ayahnya Jhony adalah sahabat dari papa nya Ryu dan otomatis mereka akan saling mengenal.Apalagi umur Jhony dan Ryu tak berbeda jauh.Hanya nasibnya saja yang berbeda.Meski begitu Jhony tak pernah iri dengan nasib para sahabatnya karena meski bebeda kasta mereka adalah orang yang baik.Tidak pernah memandang rendah keluarga Jhony.
"Ada sesuatu yang buat gue masih belum siap untuk menikahi Derra,Jhon." ucap Ryu dengan pelan.
"What...?" tanya Jhony.
"Adalah,elo gak perlu tahu,yang pasti,gue masih butuh waktu Jhon.Dan mudah-mudahan waktu itu akan datang." jawab Ryu.Jhony pun menganggukan kepalanya,tak berani bertanya lagi,karena ia tak mau terlalu jauh mencampuri urusan pribadi Ryu.
.
.
.
__ADS_1