DEMI CINTA

DEMI CINTA
SEKOLAH


__ADS_3

Suatu hari, di saat Sebuah sekolahan Menengah pertama ramai orangtua murid yang berkumpul hendak mendaftarkan putra putrinya,untuk masuk Sekolah Menengah Pertama.


Di gerbang sekolah tersebut terdapat seorang gadis yang sedang berdiri menggendong adiknya yang bernama Yunus, usianya sekitar enam tahun dan memegang adiknya yang bernama Lia yang usianya sekitar delapan tahun.


Maria melihat spanduk yang terpampang di depan sekolah tersebut, ia membacanya di dalam hati.


"Menerima siswa/siswi baru tahun ajaran 2005/2006," gumam Maria


Adiknya yang bernama Lia melihat kakaknya yang tidak jalan juga.


"Kak ayo nanti keburu siang aku sudah lapar," ucap Lia


"Iya ayo Dek! Kakak juga sudah lapar," jawab Maria.


Maria dan kedua adiknya melanjutkan perjalanan yang dari kebun menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah sudah ada Kakak dan Adik bungsu yang sudah sampai lebih dulu, karena mereka menggunakan sepedah motor hingga cepat sampai.


"Cepat masak Dek ... kakak lapar niih sini yunusnya kakak tidurkan di dalam," ucap Kakak Maria yang bernama Amran ia menggendong adiknya ke dalam.


"Iya kak Maria ke dapur dulu yaaa," jawab Maria lembut.


Maria pergi ke dapur ia mengambil beras yang ada di gudang beras keluarganya. Disana terdapat sekitar sepuluh karung padi dan di pojokan ruangan terdapat bak yang berisi beras. Ia mengambil beras dan memasaknya.


Maria menyalakan api di tumpukan bata yang sudah ia tata rapih untuk tempat ia menanak nasi menggunakan kayu bakar. Maria menggunakan minyak tanah untuk menyalakan api di kayu bakarnya hingga ia memasak nasi dengan nyala api yang besar .


Sambil menunggu nasi matang, Maria bergegas kebelakang rumahnya ia mencari sesuatu disana.


"Hari ini masak apa ya?" gumam Maria.


Maria berbalik kedapur, setelah itu keruangan tengah rumahnya, ia melihat adik-adiknya sedang tiduran ada Lia, Yunus, Suhwan bungsu, juga Mulyana.


Keluarga Maria terbilang keluarga besar. Orang tua Maria memiliki anak sembilan bersaudara tujuh laki-laki dua perempuan.


Anak perempuan hanya dua yaitu Maria dan Lia yang masih berusia delapan tahun. Maria anak ke lima dari empat Kakak laki-lakinya dan mempunyai empat adik satu perempuan dan tiga laki-laki, adiknya yang bernama Yunus enam tahun, Mulyana lima tahun, Suhwan empat tahun Mereka sering di bilang tiga kembar karna memang hanya berpaut satu tahun.


Maria kembali ke dapur dengan memasukan kayu bakar lagi ke dalam kompor tradisionalny. Ia bergegas ke belakang rumah dan melihat pohon pepaya yang banyak berbuah.


Maria tersenyum ia melihat ada buah yang sudah matang. Maria memetiknya satu buah matang dan satu buah mentah.


"Seperti biasa pepaya yang pasti manis," ucap Maria.


Maria membelah buah pepaya yang matang menjadi sepuluh bagian di simpan di nampan yang besar.


Maria membawa nampan berisi buah pepaya matang yang sudah di bersihkan bijinya ke ruang tengah dimana kakak dan adik-adiknya berada.


Saudaranya yang tau kakaknya membawa makanan langsung bersorak ria. Mereka memakan pepaya tersebut dengan masing-masing satu buah tampak kepuasan dan bahagia di wajah mereka.


"Satu orang dua potong yaaa, kakak sama kak Amran satu aja," ucap Maria memakan buah tersenyum.


Begitulah yang Maria tanamkan pada saudaranya sehari-hari harus berbagi rata apapun itu.


Setelah memakan buah pepaya sampai habis Maria membawa kembali nampanya. Ia bergegas ke dapur melihat nasinya. Maria membelah buah pepaya yang masih mentah tadi ia potong kecil-kecil dan membuat tumis dan membelah buah pepaya yang masih mentah tadi, ia potong kecil-kecil dan membuat tumis pepaya untuk makan malam ini. Maria juga membuat sambal untuk lauk makan semuanya.


Setelah masak Maria memandikan adik-adiknya satu persatu ia mandikan dan memakaikan pakaian untuk adik-adiknya termasuk Lia yang sudah kelas 2 SD masih harus di bantu memakai pakaianya.


Sekitar pukul 18:00 malam Maria dan empat adiknya satu kakaknya kini sedang makan di ruang tengah untuk hari ini kedua orang tuanya tidak pulang kerumah seperti biasa. Orang tuanya selalu menginap di kebun karna tanaman yang mereka tanam, harus di jaga siang malam agar tidakada serangan hama pada perkebunanya.


Warga di daerah Maria mayoritas orang-orangnya berkebun jauh dari tempat tinggal. Karena faktor mencari tanah yang lebih subur. Begitupun orang tua Maria yang sebagai petani. Orangtuanya selalu menginap di kebun dan sangat jarang ada di rumah. Untuk itu karena Maria anak gadis yang paling besar bisa tinggal dengan kelima saudaranya.


Malam hari Maria sedang menidurkan adik - adiknya di tengah rumah. Mereka tertidur seperti ikan asin yang berjejeran.Tidak ada televisi atau sebagainya di rumah Maria. Hanya ada radio yang sudah tidak terdengar jelas sinyalnya yang orang tuanya tinggal karna biasanya selalu di bawa ke kebun oleh Bapaknya.


Kini Mereka sedang tertidur dengan Maria yang masih terjaga. Sambil mendengarkan siaran radio Maria menepuk kaki adik bungsunya agar tertidur.


Kakaknya Amran sedang belajar karena ia baru kelas 2 SMp. Kakaknya tampak serius mengisi tugas rumahnya."Kak? Maria juga mau sekolah," ucap Maria.


"Ya ... bicaralah pada ibu," ucap Amran.

__ADS_1


"Hmmm kira-kira di ijinkan gak ya ama ibu?" tanya Maria.


"Nanti kalau ibu dan bapak pulang coba bicara saja kali aja bisa," ucap Amran..


"Iya deh mudah-mudahan bisa," ucap Maria.


Menjelang subuh Maria terbangun, ia ke dapur dan menghangatkan nasi.Di saat menunggu nasi ia ke kamar mandi dan mandi setelah itu ia sholat subuh.


Maria membangunkan adiknya Lia dan membangunkan kakaknya untuk bergegas mandi dan bersiap sekolah. Maria membangunkan adiknya Lia dan membangunkan kakaknya untuk bergegas mandi dan bersiap sekolah.


Tahun ini Maria sudah akan kelulusan di sekolah Dasarnya. Jadi sekolah Maria bebas untuk seminggu ini setelah ada pengumuman surat kelulusan keluar.


Maria memandikan dan membantu menyiapkan keperluan sekolah adiknya Lia. Setelah siap mereka sarapan sementara Maria masih membangunkan yunus dan  juga mulyana yang baru bangun. Ia memandikan adik laki-lakinya, saat ia keluar dari kamar mandi Maria melihat Lia sudah selesai sarapan nasi hangat yang di tumbuk ubi tadi pagi.


"Kak mana uang jajanku?" ucap Lia.


"Nih 1500 jangan terlalu banyak jajan es ya kalau mau jajan belilah yang membuat kenyang perutmu. Ingat kalau ibu guru menerangkan pelajaranya kamu harus melihat wajah bu gurunya biar setiap yang ia sampaikan kamu bisa mengingatnya," ucap Maria.


"Baik kak aku berangkat ya sama ka Amran," pamit Lia.


"Iya sana jalan nya di sebelah kiri, pinggiran kalau ada motor kamu ke pinggir kalau mau nyebrang liat kanan kiri," ucap Maria lagi.


"Iyaaaaa, nanti aku antar dulu dia ke sekolahnya,"ucap Amran.


"Baguslah hati-hati ya dan semangat belajarnya biar dapat juara," ucap Maria.


Amran dan Lia berpamitan untuk pergi kesekolah. Maria menghampiri adik-adiknya yang sudah beres mandi dan sedang mencoba memakai baju tapi ternyata terbalik.


"Sini biar kakak saja emang enak pakai kaosnya terbalik?" ucap Maria.


"Kak, Unus mau jajan," ucap yunus.


"Makan dulu ya sama Yana, nanti kakak antar buat jajan," ucap Maria.


"Jangan antar ka Unus cuma mau nunggu mamang yang lewat yang jualan rambut manis itu, Dek," ucap Yunus sumringah .


"Kalau begitu nanti saja bareng kakak belinya sekalian ama yana ya, sekarang makan aja dulu," ajak Maria.


Maria sedang duduk di teras depan rumahnya.Ia sedang bermain dengan si bungsu Suhwan yang tidak mau diam itu. Di depan Maria ada Yunus dan Mulyana sedang bermain kejar-kejaran.


Siang hari sekitar pukul 11:45 Maria sedang menidurkan si bungsu di ayunan kain yang di buatnya di depan ruma. Maria melihat anak-anak sekolah dasar sudah berlalu pulang lewat depan rumahnya.


"Asalamualaikum," salam Lia.


"Wa'alaikumsalam Dek, uWa'alaikumsalam Dek, udah pulang?Makan ayo ntar cuci tangan dulu ya," ucap Maria melangkah ke dapur dan mengambilkan nasi yang ia masak tadi pagi.


Lia mengambil piring yang kakaknya berikan.


"Ko sama ikan asin lagi Kak?" tanya Lia memajukan bibirnya malas.


"Itu ikan Dek, malah lebih enak itukan berasalnya dari laut ikanya daripada ikan yang ada di sungai udah susah dapetnya sekali dapet kecil gak kenyang kita," jelas Maria.


"Kali-kali adek mau makan telor kak," ucap Lia memmakan nasinya.


"Oke ntar Kakak ambil di kandang mang Iyam ya kali aja ada yang bertelur bebeknya," jawab Maria


Mang Iyam adalah paman Maria ia berternak bebek juga ayam, terkadang Maria selalu ikut mengembala bebek-bebeknya di sawah. Makanya Maria suka membawa telur bebek yang di beri pamanya.


Tidak lama dari Lia pulang. Amranpun pulang dengan langkah yang cepat.


"Assalamualaikum Ia, Kakak mau pergi Eskul dulu ya dan nanti Kakak gak ngambil air ya sementara kamu mandi pergi kesumur aja sama adek," ucap Amran.


Maria mengangguk ia mengerti. Amran kini sudah berganti seragam kembali dengan baju olahraganya. Amran pergi tanpa makan dulu.


"Gak makan dulu Kak? Kan uang jajanya tadi sedikit?" tanya Maria.


"Gak, Kakak masih ada ung jajan," ucap Amran dan bergegas pergi kembali.

__ADS_1


Amran tidak pernah minta uang jajan pada Maria. Karena Amran sudah khusus di beri bekal oleh ibunya. Jadi tidak pernah kekurangan uang. Dulu waktu Sekolah Dasar. Maria lebih sering minta uang jajan pada Kakaknya Amran karena kakkarena kakaknya selalu di beri uang jajan lebih oleh ibunya.


Maria melihat kakaknya pergi dan kembali ke dalam ia membereskan rumah dan bersih-bersih.


Sekitar pukul tiga sore Maria masak nasi kembali dan ia masak tumis pepaya lagi karena hanya itu yang bisa ia petik hari ini yang lain belum berbuah. Menjelang maghrib Maria dan saudaranya makan bersama.


"Hmmm pepaya yang enak kak,tapi ko gak ada yang baru ya?" tanya Yunus.


"Besok kakak buat yang baru pepaya nya kita tunggu sampai matang lagi aja," ucap Maria.


"Benar Kak? Waaah ... besok makan apa yaa?" ucap Lia.


Mereka makan dengan banyak pertanyaan dari adik-adik Maria yang tidak bosanya bertanya pada kakaknya. Disaat mereka makan ada sebuah motor berhenti di depan pintu rumahnya.


"Asalamulikum," ucap orang yang di depan pintu.


"Wa'alaikumsalam, waaaah ibu bapak pulang yeyeyeye," teriak Lia menghampiri ibunya.


Begitupun adik-adik Maria yang lain kecuali si bungsu. Mereka menghampiri orangtuanya yang baru pulang dalam keadaan pakaian kotor sehabis di kebun.


"Bu ibu bawa apa bawa jajanan gak?tanya Lia.


"Kamu ini jajanan aja kan ibu dari kebun bukan dari kota," tegas ibu sedikit ngegas mungkin karna lelah.


Maria yang melihat mereka dan adik-adiknya berhamburan padaibunya.Ia menghampiri orangtuanya dengan menggendong si bungsu juga membawa seteko air beserta gelasnya.


"Sini si bungsunya duuh ibu jadi kepikiran si bungsu takutnya nangis," ucap ibu Maria memangku si bungsu dan menciuminya.


Ibu Maria melihat ke arah Maria dan juga Anak-anaknya yang lain.


"Udah pada mandi belum?" tanya ibu Maria.


"Udah, " jawab semua.


"Makan sama apa?" tanya Ibu pada Maria tegas.


"Sama tumis pepaya, Bu," jawab Maria.


"Kamu becusnya masak pepaya aja, yang lain donk! Emang cuman ada pepaya doank?" tegas ibu Maria


"Kalau yang lain, gak ada bumbunya Bu, kalo pepaya kan bumbu seadanya juga enak," jawab Maria


"Kamu ngeles aja!" cetus ibu Maria melengos masuk ke dalam rumah


"Ini apa-apaan rumah berantakan begini kamu kok gak bisa rapihin rumah sih! Ini juga mainanya dimana-mana sampai gak bisa lewat Ibu," tegas ibu Maria


Maria mengikuti langkah ibunya kedalam dan ibunya masih mengomeli dia  dengan semua yang ibu Maria lihat.


Saat orang tua Maria makan, Maria melihat bapak dan ibunya makan dengan lahap hingga tak tersisa tumis


Ini tumis keasinan, mau sampai kapan masih belum bisa masaknya kamu ini," teriak ibu Maria tapi ia menghabiskan makanya dengan dua kali nambah.


Maria sudah terbiasa dengan omelan ibunya. Baginya itu adalah bumbu ilmu untuknya agar bisa lebih baik lagi. Maria selalu mencoba segalanya lebih baik. Dia kerahkan segala upaya agar ibunya memujinya dan memperhatikanya, tapi hanya omelan yang selalu Maria dapatkan.


Kini kedua orangtuanya sedang terduduk di tengah rumah yang beralasan tikar. Maria menghampiri orangtuanya dan duduk dengan jarak dua meter dari orangtuanya.


"Bu, Maria ingin sekolah SMP, Bu," ucap Maria memberanikan diri untuk berbicara.


"Untuk apa?" tanya ibu Maria.


"Maria ingin dapat ijazah Smp Bu! Setidaknya gak hanya SD saja," jawab Maria sedikit memohon pada ibunya.


"Nih ya Maria, kamu ini anak perempuan gak perlu sekolah lama-lama toh ujung-ujungnya wanita tuh ya ke dapur masak aja belum becus pake acara pengen lanjut sekolah kamu," jelas ibu Maria.


"Tapi Bu, Maria mau kaya orang lain bu sekolah SMP," ucap Maria.


"Gak usah banyak neko kamu Iya, gak ada anak perempuan yang sekolah lama-lama di jaman ibu seusiamu tuh cuman nikah nurut dan ke dapur," teriak ibu Maria.

__ADS_1


"Gak usah sekolah kalo perlu kamu kerja ke luar  negeri bantu ibu dan bapak cari uang lihat tuh si Anis, dia pergi ke luar negeri pulang bikinin orang tuanya rumah gede, juga ngajak ibu bapaknya umrohan! Ini kamu malah mau nyusahin orangtua emang sekolah gak pake duit apa?" teriak ibu Maria.


Maria hanya terdiam ketika ibunya melarangnya untuk melanjutkan sekolahnya. Maria hanya bisa terdiam ketika mendapati pernyataan ibunya dengan tegas seperti tadi.


__ADS_2