DEMI CINTA

DEMI CINTA
Lanjut sekolah??


__ADS_3

Sekitar tengah malam pintu kamar Maria di ketuk dan terdengar suara ibunya.


"Heh Maria bangun tuh bapakmu lapar katanya kamu bikinin nasi goreng sana,"perintah ibu Maria.


Maria yang setengah sadar ia menggosok kedua matanya yang rapat karna mengantuk.


"Cepetan nanti keburu marah bapakmu,"teriak ibu Maria.


Maria membuat nasi goreng di saat semua orang di seluruh dunia sedang istirahat di jam seperti ini, Bshkan saat menyalakan kayu bakar yang susah menyala Maria berusaha menyalakanya.


"Hmm mungkin karena kena embun jadi basah gini,"gumam Maria.


"Maria sudah belum sekalian buat teh angetnya,"teriak ibu Maria.


Akhirnya apinya menyala dengan menggelora,Maria membuat nasi goreng juga teh hangat yang ibunya minta,itu sudah hal biasa bagi Maria karna jika orang tuanya sedang berada di rumah terkadang di tengah malam pasti ibunya menyuruhnya membuatkan nasi goreng.


Maria mengantarkan nasi goreng dan teh hangat ke kamar orang tuanya.


"Buu ini nasinya sudah ada,"ucap Maria dan ibunya membukakan pintu dengan memakai kain melilit di tubuhnya.


"Lama banget sih cuman bikin nasi goreng saja,"bentak ibu Maria.


Maria kembali ke kamarnya dan tertidur kembali.


Ibu Maria bernama Danah di usianya 40 tahun itu ia sudah mempunyai sembilan anak bahkan ketiga anaknya sudah dewasa begitu juga Amran dan Maria yang usianya selang setahun.


Bapaknya Maria bernama Janab ia berusia 48 tahun dengan kesembilan anaknya ia lebih berdominan mirip dengan Maria, oleh sebab itu Maria hanya mirip dengan ayahnya.


Pagi ini Maria harus kesekolah karna ada intervew bagi siswa siswi yang mau melanjutkan pendidikanya. Maria datang ke sekolah dengan terengah-engah karna ia berlari untuk secepatnya sampai di sekolah.


"Huh anak cewek berlarian mulu,"ucap Nana di pintu gerbang.


"Hmmm,"jawab Maria malas.


Maria melewati Nana yang menunggunya dari tadi.


"Eeeerh ko hmmm doank sih bukanya terima kasih sudah aku bukakn gerbangnya,"teriak Nana.


"Iyaaa terimakasih Nana bodoh,"ucap Maria ia bergegas ke kelas nya.


Nana melihatnya dengan tersenyum senang di hatinya,Entah ada apa dengan suasana hati Nana ia sangat senang saat Maria mengatakan kalau dia bodoh,mungkin karna sangat tidak ada wanita yang mengatainya bodoh.


"Si cewek tomboy unik,"gumam Nana.


Hari ini Maria memasuki ruangan Wali kelasnya ia mengetuk dan mengucapkan saalam, kini Maria sedak duduk di hadapan wali kelasnya.


"Kamu mau lanjut ke sekolah mana?"tanya pak Nasum wali kelasnya.


"Saya tidak tahu pak,"jawab Maria.


"Apa orang tua mu merencanakan untuk di sekolah lain?"tanya pak Nasum kembali.


"Bukan seperti itu pak,mungkin saya tidak akan lanjut sekolah lagi,"ucap Maria.


"Apa maksudmu kenapa seperti itu memang kamu mau jadi apa tidak sekolah lagi?"tanya pak Nasum kembali.


"Hmmm keluarga saya tidak sanggup membiayai pak,"jawab Maria lesu.


"Jika kita tidak melakukanya dengan niat bagaimana bisa di sebut tidak mampu,semua tercapai jika kita mampu meraihnya Maria, kamu gadis cerdas dan terkreatip disini sayang jika kamu tidak lanjutkan sekolahmu setidaknya Sekolah Menengah Pertama,"ucap pak Nasum.


"Lihat nanti saja pak saya tidak bisa berbuat apa-apa pak,"ucap Maria lirih.


Maria keluar dari ruang guru dan kembali ke kelasnya, Maria terduduk dan ia menundukan kelanya pada mejanya ia tidak menangis hanya gundah saja , antara ingin sekolah dan menuruti ibunya.


Disaat Maria tertunduk Atikah yang ada di depan bangkunya berbalik ke belakang ,ia menusuk tangan Maria, Maria mengangkat kepalanya mngangguk tanda tanya.


"Apa masih tidak bisa?"tanya Atikah.


"Hmmm,aku juga bingung,"jawab Maria memajukan bibirnya kedepan ia menundukan kepanya kembali.


Selang beberapa menit Maria merasakan sakit di kepalanya, Rambutnya seperti ada yang menariknya.


Maria mengangkat kepalanya tapi ia tidak bisa melihatnya, karna rambutnya di tarik dengan kencang hingga ia berteriak mengaduh.


"Awwww apa-apaan ini hei kamu siapa sakit tau,"teriak Maria ia mencoba menggapai tangan orang yang menarik rambutnya dan mencubit tangan itu.


"Aww aw sakit Ia sakit duh,"teriak Nana mengaduh.


Maria melepas cubitanya ia melihat orang yang menarik rambutnya dari jendela kelas.


"Huh orang bodoh ini kenapa menggangguku sih kamu,"teriak Maria melihat Nana di jendela .


Mereka berdua saling tatap saat wajah mereka berhadapan berjarak 5 cm, Maria dan Nana terdiam saling pandang,hingga Atikah terbatuk membuyarkan mereka.


"Apa-apan sih kamu menarik rambutku,"tanya Maria.


"Kamu ingkar janji,"ucap Nana


"Janji apa,"tanya Maria.


"Kamu bilang mau bertemu di belakang lagi,"ucap Nana memajukan mulutnya.


"Hmmm iya iya bentar ya aku rapihkan rambutkh dulu,"ucap Maria.


Maria menggelung dan menjepit rambutnya asal,ia berjalan mengikuti Nana ke belakang kelas.


Mereka terduduk berdua di sana memandang pagar sekolah dengan jalanan yang ramai.


"Ada apa?"tanya Maria.


"Tidak ada aku hanya mau makan sama kamu,"ucap Nana.


"Makan saja?"tanya Mari heraan.

__ADS_1


"Berciuman juga boleh,"goda Nana.


"Jangan gila kamu ini,"teriak Maria.


"Hehehe hanya bercanda ayo makan aku juga bawa dua sendok ,"ucap Nana.


"Hmm kau sudah tidak bodoh sekarang yah,"ucap Maria.


Mereka makan dan bercanda berdua,Maria yang tertawa dengan tingkah Nana setiap ucapan dan tingkahnya itu,membuat Maria tertawa sampai terbahak.


Nana yang melihat tawa manis Maria ia tersenyum bahagia.


"Baru kali ini aku melihat gadis yang tertawa lepas dan manis seperti ini tanpa jaim,"gumam Nana.


"Hah apa?"tanya Maria.


"Tidak ayo masuk ini sudah waktunya masuk,"ajak Nana.


Kini mereka berjalan dengan Nana di depan Maria.


"Terimakasih,"ucap Maria menghentikan langkah Nana.


"Untuk apa?"tanya Nana.


"Untuk makanya juga tawanya,"ucap Maria.


"Hah kita teman sobat,"ucap Nana tersenyum.


"Baiklah teman by aku balik ya sampai nanti,"teriak Maria meninggalkan Nana.


"Aku di tinggalkan lagi haha tapi aku suka teman,"gumam Nana ia pergi ke kelasnya.


Maria yang sedang duduk di bangku kelasnya, ia di hampiri Ina yang duduk di meja yang sama dengan Maria.


"Apa kamu berpacaran denganya?"tanya Ina tiba-tiba.


"Maksudmu apa?"tanya Maria heran.


"Iya kan kamu menyukainya"ucap Ina kembali.


"Maksudmu Nana tidak aku hanya berteman denganya,"jelas Maria.


Atikah yang mendengarkan perdebatan sahabatnya ia berbalik dan menjawab pertanyaa Ina yang menurutnya tidak etis.


"Sebaiknya kamu tanyakan pada Prianya saja,agar kamu puas,"ucap Atikah.


Ina mendengus kesal dengan Atikah yang membella Maria.


ia pergi dari kelasnya meninggalkan Maria dan Atikah.


"Sebenarnya ada apa aih dengnya?"tanya Maria heran.


"Tidak usah pedulikan perkataanya fokus pada sekolahmu saja bagaiman?"tanya Atikah.


"Iya aku tidak tahu,"jawab Maria lirih.


Waktu sekolah kini sudah akan pulang, Maria masih tak bersemangat,ia memikirkan bagaimana caranya agar masih bisa melanjutkan sekolah.


Nana yang sudah menunggunya di luar kelas,seperti seorang kekasih menunggu kekasihnya, Maria keluar dan melihat Nana.


"Kenapa lesu begitu?"tanya Nana.


"Tidak ada,aku hanya lagi mikirin kelulusan saja takutnya,"ucapan Maria terhenti saat ia melihat Ina di depan mereka.


Tatapan Ina seperti tatapan tidak suka pada Maria.


"Ia kamu mau pulang ayo bareng,"teriak Ina


"Apa-apaan Ina ini kita kan gak searah,"batin Maria.


"Hmm,"jawab Maria.


Nana mengikuti mereka dengan tanpa suara.


Ina yang ceria,ia melihat ke arah Nana dan berbicara mengakrabkan diri.


"Na kamu mau ikut ke rumah Maria?"tanya Ina.


"Kalau boleh mah,"ucap Nana.


"Tidak usah,"cetus Maria.


"Kenapa,kan main?"ucap Ina.


Ina seperti bukan sahabatnya,Maria mengerutkan keningnya.


"Bukanya kamu tau tidak pernah ada orang lain yang berani main ke rumahku?"batin Maria.


Ina masih berbicara sesuka hatinya kepada Nana,lain dengan Maria ia hanya diam saja hingga pas sampai di gerbang sekolah Ina dan Nana masih mengikuti Maria,hingga ia menghentikan langkahnya dan membalikan badanya.


"Kalian tidak searah denganku,apa masih mau mengikutiku?"bentak Maria.


Nana tersenyum melihat ekspresi Maria yang lucu saat marah.


"Kamu juga bukanya tau kita beda arah dan gak ada yang pernah main ke rumahku,"bentak Maria kepada Ina.


"Akukan hanya mengajaknya saja Ia, lagipula apa salahnya kalo kita main ke rumaahmu?"ucap Ina polos.


Maria tampak tidak senang dengan ucapan Ina yang tak masuk akal, ia bahkan menggunakan mimik wajah polosnya.


Nana yang mengerti maksud Maria,ia berhenti dan berteriak pada Maria.


"Mariaaaaa,"teriak Nana

__ADS_1


Maria melihat ke arah Nana,yang berjarak tiga meter darinya.


"Apa?"tanya Maria.


"Aku pulang ya kamu hati-hati di jalan,besok lagi"teriak Nana tersenyum.


Maria tersenyum dan melanjutkan perjalananya, Ina yang di cuekin disana ia menghentakan kakinya dan berjalan bergegas melewati Maria.


Maria yang melihat langkah Ina yang cepat ia menggelengkan kepalanya.


"Ada apa denganya kenapa bicara seperti itu ,diakan tau aku tidak pernah mau siapapun main ke rumahku?"batin Maria.


Maria sampai di rumah, ia melihat ibunya sedang berkumpul di rumah Tantenya.


Maria melakukan pekerjaan seperti biasa,ia mencuci memasak beres-beres rumah juga mengisi bak mandi yang sudah kosong.


"Gak usah di isi lagi, biar kakak aja nanti pulang Eskul ya,"ucap Amran


"Apa tidak cape kak?"tanyaMaria.


"Enggak nanti kakak usahakan cepet pulang biar keburu ngambil airnya,"ucap Amran lagi.


"Baiklah makasih ya kak, Maria kedepan aja deh ama ade-ade,"ucap Maria senyum sumringah.


Karna semua pekerjaan sudah selesai,Maria bermain bersama Adik-adiknya ia bermain klereng bersama teman-teman sekampungnya.


Di lain tempat yang tak jauh dari dimana Maria bermain, ibu Maria sedang berbincang dengan ibu-ibu di sana .


"Anak gadisku sekolah Smp Negeri, Dia bilang jaman sekarang malu kalo gak sekolah, katanya itu menandakan kalo orangtua mereka tidak mampu membiayai sekolahnya,"ucap ibu Acih.


"Huh iya yah jaman sekarang mah kalo anak gadis gak sekolah emang malu kita sebagai orang tua bu," tambah ibu lainya.


Ibu Maria hanya diam ia tidak menjawab hanya mendengarkan perbincangan ibu-ibu disana.


Kini ibu Maria pulang ke rumahnya, ia mendapati tidak ada anak-anaknya, ia tampak geram dan kesal.


Maria yang sedang serius bermain mau mencentang kelerengnya agar tepat sasaran,Tiba-tiba cetak swooosh.


"Awww sakit ,"ringis Maria memegang lenganya.


Maria melihat ibunya sedang berdiri di sampingnya dengan tali rotan yang ia pegang.


"Sudah berani kamu ya main,jam berapa ini kamu bahkan belum membereskan rumah, juga belum masak,dan itu air di bak kosong,"teriak ibu Maria.


"Bukanya aku sudah masak dan beres-beres,kalo bak mandi kan kakak yang akn isi nanti,"batinMaria.


Teman-teman Maria berlarian kabur, melihat Maria di marahi,cetaaaak.


Ayunan tali rotan mengenai tangan Maria kembali.


Maria menggendong adiknya dan pulang,tanpa menangis ataupun berbicara,ia sudah terbiasa dengan bentak dan cambukan ibunya,bagi Maria itu tanda sayang seorang ibu pada anaknya.


"Kalo gak di isi penuh kamu tidak usah makan,"teriak ibu Maria.


Maria mengangguk dan pergi ke sumur, dengan bermodal dua ember Maria mengambil air sekitar sepuluh kali lebih, hingga terisi penuh.


"Loh kan kakak udah bilang ntar kakak aja yang ngambil air Ia,"ucap Amran membuyarkan lamunan Maria yang istirahat.


"Gak papa kak sedikit lagi,"ucap Maria.


"Sudah biar kakak saja yang selesein, kamu main sana,"tangkis Amran ia menggunakan ember besar hingga hanya dua kali balikan sudah penuh bak airnya.


"Loh ko kamu yang ambil airnya, kamu kan cape habis sekolah?"tanya ibu Maria.


Ibu Maria mengusap kening Amran.


"Ini sana beli es biar gak haus,"ucap ibu Maria memberikan uang .


Maria yang sedang bersama ade2nya, ia melihat kakaknya keluar dari rumah.


"Udah selesai kak?"tanya Maria.


Amran mengangguk tersenyum,dan ia pergi ke warung.


"Ya iyalah,emang kamu gak becus kerja,ngambil air aja pake acara nyuruh kakakmu,"teriak ibu Maria.


Maria tidak menjawab perkataan ibunya,ia fokus pada adik-adiknya yang bermain,ia menjaganya agar tidak pergi ke jalanan yang banyak kendaraan berlalu lalang.


Amran datang dengan jajanan dan minuman di tanganya,ia menghampiri Maria dan adik-adiknya.


"Nih ,"ucap Amran memberikan jajanan dan minuman pada Maria.


"Ini dari mana kak?"ucap Maria bahagia.


"Dari ibu tadi suruh jajan buat kita,"ucap Amran.


"Waaaah Lia mau kak,"teriak Lia.


Maria membagi jajanan yang di beri kakaknya itu,bersama adik-adiknya.


Saat setelah makan malam,Maria sedang bercanda dengan adik-adikny.


"Kamu daftar sekolah yang di mana?"tanya ibu Maria, mengejutkan seisi rumah.


Maria terdiam ia terkejut mendengar ucapan ibunya, karna ia pikir itu bukan untuknya,mungkin untuk kakaknya yang akan lanjut ke SMA.


"Kenapa gak jawab ?"teriak ibu Maria.


"Eh Sekolah yang dekat Desa itu bu," ucap Maria terkejut ia terbata-bata.


"Ya sudah daftar sana sendiri,"ucap ibu Maria.


"Benarkah bu?"ucap Maria bahagia.

__ADS_1


"Tapi kalo nilai kamu buruk ibu tidak akan membayarnya,"cetus ibu Maria.


Maria mengangguk bahagia,ibunya kini membiarkanya melanjutkan pendidikanya.


__ADS_2