DEMI CINTA

DEMI CINTA
Teman yang keren


__ADS_3

Maria dan ketiga adiknya berjalan dengan raut wajah senyum bahagia, pakaian berlumpur mereka masih dalam suasana hati bahagia mereka bermain kejar-kejaran menuju rumah mereka.


"Waaaah ternyata mang Iyam baik ya ka,semua telur dia berikan untuk kita" ucap Lia.


"Maka dari itu kita tidak boleh mengambil yang bukan hak kita,jika kita menemukan yang bukan milik kita, walau kita dalam keadaan susahpun kita tetap harus mengembalikan kepada pemiliknya,jika itu rezeki kita kita pasti akan mendapatkanya dengan cara yang benar"ucap Maria.


Adiknya mengangguk dan kembali melanjutkan perjalanan pulang.


"Astaga ini kalian kotor sekali sana langsung kesumur cuci yang bersih juga kepalanya tuh biar gak bau"teriak ibu Maria.


Maria dan adik-adiknya bergegas ke sumur umum yang kebetulan sedang sepi.


Maria memandikan langsung adik-adiknya di luar kamar mandi,dengan mengguyurkan air seember kepada adik-adiknya.Mereka bersorak ria Maria tertawa dengan tingkah adik-adiknya yang lucu, dengan kepolosan adiknya tampak bahagia walau hanya bermain air.


"Buka biar kakak cuci baju kalian"pinta Maria.


Maria mencuci pakaian kotor,dengan adik-adiknya mandi dengan bertelanjang bulat,tidak dengan Lia ia mengenakan celananya dan ikut mencuci bajunya yang kotor.


Maria memandikan adik-adiknya hingga bersih.


Saat adzan Maghrib Maria mengaji dengan lantang di kamarnya.


keluarga.Maria yang sedang di teras depan sedang berbincang dengan keluarga neneknya yang lain.


Hingga larut malam tiba, Maria membuka pelajaran yang dan membacanya sebentar lalu tidur.


Pagi hari setelah semua beres memasak Maria berangkat ke sekolah,masih dengan Atikah menunggunya di jalan.


Atikah memang tidak mudah berbaur, hanya Maria yang mau berteman denganya,keluarganyapun sangat jarang berbincang denganya.Lain dengan Maria ia bahkan bisa membuat Atikah tersenyum saat bercanda dengan Maria.


"Bukankah kakakmu pulang?tanya Atikah.


"Iyaa hanya semalam doank gak lama"jawab Maria.


"Aku lihat bapakmu beli motor baru saat kakak2mu pulang kemarin? ucap Atikah.


"Iyah itu motor kak Adam katanya untuk keperluan di rumah" jelas Maria.


"Kenapa kamu gak minta seragam baru pada mereka kalo bisa beli motor baru mah?tanya Atikah.


"Huh sekarang pertanyaanmu banyak sekali ya Atikah"ucap Maria.


"Aku hanya heran saja pada orang tuamu itu harusnya pentingkan dulu seragamu"ucap Atikah.


"Motor juga penting Atikah kan untuk keperluan kesana kemari"jawab Maria.


"Bukankah udah punya motor yang satunya lagi ,penting apanya baju anak gadis aja gak ke beli"cetus Atikah.


"Hahahaa masuk SMP kamu makin pintar bicara Atikah"ucap Maria.


"Aku bicara karna kamu yang jadi temanku"jelas Atikah.


Maria dan Atikah berjalan dengan Maria banyak tertawa karena tingah sahabatnya itu yang bicaranya seperti tak bicara tanpa ekspresi.


padahal banyak yang berjalan disana tidak luput dari mengejek Maria yang mau berteman dengan cewek norak hitam kaya Atikah.


Justru Maria lebih suka berteman dengan Atikah karna dia yang tidak banyak bicara dan cuek.


Flas back..


Saat pertama kali Mereka bertemu di kelas 4 SD Maria masuk kelas karna kesiangan.Ia masuk dengan bangku kelas yang sudah penuh.Maria melihat ke arah bangku kosong di barisan kedua dengan seorang gadis bernama Atikah duduk seorang diri.


Maria yang tidak peduli dengan ucapan teman-teman sekelasnya ia duduk di samping Atikah.


Tanpa permisi dan bertanya dulu pada Atikah dan gadis di sampingnya hanya diam dengan membaca buku.


"Huh cocok yang satu jelek miskin tomboy yang satunya hitam norak miskin"cetus Dede yang ada di barisan depan semua teman sekelasnya bersorak mengejek.


Maria menengok ke arah Atikah ia tersenyum heran.


"Apanya yng jelek dan norak dia biasa aja sama aja kaya yang lain"gumam Maria.


"Iww sekelas dengan orang-orang miskin bisa sial aku"cetus Dede kembali.


"Hahaha menyedihkan sekali kamu bahkan tidak masuk ke sekolahan elit di kota sana, malah masuk kesini yang sekolah standar"ucap Maria tertawa meledek ke arah Dede.


Dede yang mendengar itu wajahnya merah padam karna malu dan kesal padanya.


"Siapa kamu berani menghinaku?teriak Dede.


"Aku,apa sebegitu pentingnya kamu ingin tahu namaku?senyum Maria meledek.


Dede semakin geram dan kesal pada Maria yang selalu bisa memutar perkataanya.


Maria duduk dan melihat teman sebangkunya yang sedang menulis nama di bukunya.


"Atikah,nama yang bagus kenapa di tulis kecil harusnya jelas seperti ini nih" ucap Maria merebut pensil Atikah dan memperbesar tulisanya.


Atikah yang melihat tingkah teman sebangkunya ia mengerutkan keningnya tanpa protes ia membiarkan Maria menulis di bukunya.


Hampir setiap hari Maria mengganggu Atikah yang tanpa suara tanpa berbicara hanya masuk sekolah belajar istirahat dan pulang itulah yang selalu Atikah lakukan walau Maria sangat tidak bosanya mengganggu Atikah dan membuatnya sudah terbiasa dengan tingkah Maria yang selalu mengganggunya.


"Aku tahu rumahmu yang ada di jurang itukan ,apa tidak takut terjatuh itu rumahmu?ucap Maria.


"Aku juga tahu kamu sering ke sumur umum yang sepi itu kan?tambah Maria tapi Atikah masih diam dengan bibir rapatnya.


"Aku juga tahu kamu mandi selalu banyak yang ngintip"ucap Maria.

__ADS_1


"Apa?teriak Atikah terkejut.


Maria terkejut Atikah yang menggebrak menja yang ia sandarkan kepalanya di meja membuatnya terkejut.


"Astagfirullooh Atikah kamu mengagetkanku saja hampir jantung dan kepalaku copot karna mendengar suaramu"ucap Maria.


"Dari mana kamu tahu kalo aku di intip hah"bisik Atikah memelankan suaranya.


"Hahahaha Atikah kamu lucu ya tidak akan ada yang mendengar suaramu walau berteriakpun disini tidak ada orang lain"ucap Maria.


Atikah terdiam ia baru menyadari perbuatanya yang menggebrak meja juga berteriak pada Maria.


"Kenapa diam lagi baru juga bicara ayo kamu mau ngomong apa?tanya Maria.


Atikah diam seribu bahasa tanpa menghiraukan Maria yang bicara terus padanya,ja membaca buku.


"Haha sudahlah Atikah kenapa harus sesusah itu bicara kamu bahkan membaca buku terbalik"tawa Maria mengejutkan Atikah.


Atikah melihat bukunya juga tidak terbalik,ia berpikir bahwa teman sebangkunya ini banyak bicaranya.


"Hahaha kamu bahkan merespon saat aku menggodamu "Maria masih dengan tawa lepasnya merasa tingkah teman sebangku nya itu lucu.


"Kamu tidak mau tahu siapa yang mengintipmu,juga darimana aku tahu? ucap Maria pelan menahan senyumnya.


Atikah masih dengan diamnya ia membaca bukunya dengan wajah Cemberut Maria menyenderkan kepalanya kembali di atas mejanya.


Maria menulis mencoret-coret meja dengan pensilnya.dan brak.


Gebrakan Atikah mengejutkan Maria kembali.


Maria terbangun dari sandaranya.


"Aduuuh Atikah kamu ini doyan banget ya mau buat kepalaku copot apa kamu dendam padaku"ucap Maria.


"Siapa yang mengintipku?tanya Atikah memelototi Maria.


"Wowow Atikah kamu ini tidak seram memlototiku malah buat aku ingin ketawa"ucap Maria mengangkat tanganya.


"Siapa?bentak Atikah.


"Hahaha ini baru aku suka"ucap Maria.


Atikah tetap dengan tatapan tidak sukanya pada Maria.


Maria tersenyum dan mengendurkan duduknya.


"Yang mengintipmu banyak ada kambing domba juga adik-adiku"ucap Maria tersenyum tertahan.


"Kamu gila"ucap Atikah malas.


Atikah kembali membaca bukunya ia tidak menghiraukan Maria kembali.


"Haha aku tidak mungkin memberitahumu kalau pamanmu selalu mengintipmu di kejauhan saat kamu mandi disana aku takut kamu malu dan sedih"batin Maria.


Maria bahkan selalu melempar pakai ketapel pamanya Atikah hingga pergi tak berdiri mengintipnya lagi. Hampir setiap hari Maria menjahili paman Atikah jika sedang mencoba mengintip Atikah.


Sejak saat itu Maria tidak pernah hentinya berbicara pada Atikah meski tidak pernah di respon olehnya tapi Maria menganggapnya Atikah merespon dengan Maria bicara tapi Atikah tidak pernah pergi dan selalu mendengarkan cerita Maria.


Mereka bersahabat dengan cara mereka sendiri hingga saat ini.


Flashoff


Berjalanya waktu kini tiba saatnya tengah semester tiba Ujian pertama Di sekolah telah tiba begitupun Maria antusias dalam ujian ini ia meyakinkan dirinya bahwa ia bisa mendapatkan juara walau tidak dengan keuangan yang memadainya.


"Huh si jelek miskin sedang ketakutan ya"ucap Dede menggema.


"Aku rasa biasanya ucapan yang terlontar itu adalah untuk dirinya sendiri"ucap Maria tersenyum.


"Kau..."ucapan Dede terhenti setelah tau kalau pak guru sudah datang.


Maria tersenyum melihat Dede yang memelototinya.


Hari-hari ujian telah berlalu kini tinggal pembagian lapor yang di tunggu-tunggu oleh para siswa.


Maria sudah meminta orang tuanya untuk datang mengambil Raport milik Maria,tapi sampai siangpun tidak ada yang datang hingga nama Maria di panggil dari dalam kelas yang berisi orang tua murid,Maria masuk dengan pandangan heran dari para orangtua padanya.


"Maria kenapa orang tuamu tidak datang?tanya pak Wali kelas Maria.


"Mereka belum pulang pak masih di kebun saya lupa memberitahu"ucap Maria padahal orangtuanya ada di rumah.


"Hmmm kamu ini ya udah kamu tanda tangani ini aja dulu ya kamu ambil saja, nanti jangan dulu pulang akan di umumkan 10besarnya"ujap pak Sopandi.


Maria mengangguk dan pergi keluar ruangan.


Maria tersenyum setelah melihat hasil dari ujianya kali ini.


Karena Maria tidak ada teman dekat di kelasnya kali ini hanya ada teman yang sekedar menyapa saja.


Maria duduk di teras depan kelasnya dan melihat ke arah para orangtua yang tertawa bangga pada anak-anaknya.


"Hmmmm harusnya aku sudah tau itu"gumam Maria.


"Tahu apa?tanya Topan duduk di sampingnya.


"Heh Topan kamu ko disini sudah di bagi belum?tanya Maria.


"Sudah kamu ko ngalihin pertanyaanku tadi kamu sudah tahu apa?tanya Topan.

__ADS_1


"Ini aku sudah tahu kalo aku pasti juara meski bukan juara pertama" jawab Maria tersenyum.


"Senyum yang manis"batin Topan tersenyum.


"Wah selamat ya ternyata kamu emang pinter"puji Topan tersenyum.


"Aku ke kelas dulu ya sudah ada panggilan masuk by"pamit Topan.


Maria mengangguk ia mengerti bahwa Topan ada orang tuanya yang memanggilnya.


"Ya Allaah apakah aku boleh berharap?gumam Maria.


"Tentu saja"jawab Boyan yang duduk di sampingnya.


"Ngagetin saja kamu ada apa gimana udah dapat belum bibi datangkan? tanya Maria.


"Tentu saja datang dan tadi juga ibu tuh mau sekalian ambilkan Raportmu tapi kamu malah udah ngambil duluan" ucap Boyan .


"Oh begitu kalo tau bisa di ambil sendiri mah gak usahlah biar aku aja yang ambil"ucap Maria.


Boyan terdiam ia paham apa yang di rasakan Maria selama ini,sebenarnya ibunya juga tidak mau mengambilkan punya Maria walau Boyan memaksanya tadi hanya untuk menghibur Maria Boyan berbohong tadi.


Semua murid masuk ke kelas karna orangtua murid sudah di perbolehkan pulang.


"Akan bapak tuliskan murid yang masuk 10 besar ya tingkatkan dan pertahankan kemampuan kalian dalam belajar"ucap pak sopandi selaku wali kelas.


"Boyan\=1


Maria\=2


Amin\=3


Ani\=4


Sari\=5


Siti\=6


Herdi\=7


Opik\=8


yoga\=9


Ogi\=10"


Semua murid di kelas bertepuk tangan menyoraki yang berprestasi.


Hanya ada satu orang yang tidak senang saat ini yaitu Dede dengan wajah merah menahan amarah kesalnya ia antara malu dan merasa di hinanya ia.


"Waah Maria ternyata kamu pintar ya ko aku gak pernah tahu kalo kamu pintar dulu kan kita sekelas"ucap Ani.


Maria hanya tersenyum mendengar itu . Ia paham dengan sikap Ani jika hari esok masuk Maria yakin Ani pasti akan meminta duduk bersama dengan Maria.


Maria pulang bersama Atikah berbincang dengan Maria yang banyak tertawa.


"Aku tadi lihat bapakmu masuk ke kelas 9 kakakmu tadi,apa dia juga ke kelasmu?tanya Atikah.


"Tidak"jawab Maria lesu.


"Uuuh menyebalkan bapakmu itu kenapa harus seperti itu,cuman beberapa langkah dari kelas kakakmu kenapa dia bahkan tidak mau mengambilkan"cetus Atikah.


"Hahaha panjang bener bicaramu kali ini Atikah"ucap Maria tertawa.


"Huh sudahlah kau mh gila ini tidak perlu bicara padamu,terus bagaimana kamu dapat pringkat kamu kan pinter dalam setiap hal termasuk mengalihkan pembicaraan"ucap Atikah.


"Hahha kamu bahkan sudah haval sifatku Atikah,aku dapat juara 2"ucap Maria menunjukan hasil ujianya.


"Sudah kuduga kamu pasti bisa hanya aku yang gak bisa-bisa"cetus Atikah.


"Iyayah kamu bahkan selalu membaca buku tapi ko gak dapat masuk 10besar?tanya Maria.


"Karena aku memang gak pintar Maria" tegas Atikah.


"Bukanya gak pintar, tapi karena terlalu banyak yang pintar jadi kamu gak bisa masuk,yang penting kamu tetap berusaha iya gak?ucap Maria.


"Iyaaa makasih hiburanya"ucap Atikah.


Maria tertawa melihat tingkah sahabatnya yang lucu.


Sesampainya Maria di rumah,ia melihat ibunya sedang membanggakan memuji kakaknya yang masuk sepuluh besar ada banyak orang disana termasuk bapak Maria.


"Asalamualaikum"ucap Maria.


"Kumsalam"jawab semua.


"Bapak tadi buru-buru sampe lupa ke kelas kamu "Ucap Bapak maria.


"Huh biarinlah dia mh,gak bakalan dapat juara ini, kalo di ambil juga bakal bikin malu keluarga,dia gak kaya kakaknya nih dia juara 4 masuk sepuluh besar"ucap ibu Maria memuji Amran.


Maria terdiam,ia memasukan Raport yang ia pegang,bahkan tanda tangan raportnya aja Maria yang tanda tangani,saking udah havalnya tanda tangan bapaknya,karena jarang mau tanda tangan.


"Maria juara dua setelah Boyan tante"ucap Boyan.


Semua terdiam tanpa ada yang menjawab karna Maria sudah masuk ke dalam rumah.


"Jadi kamu mau di rebut sama dia kamu harua belajar lebih giat lagi biar tidak keserobot oleh anak itu"teriak ibu Oyo pada Boyan.

__ADS_1


__ADS_2