DEMI CINTA

DEMI CINTA
PULANG BERBELANJA


__ADS_3

AIR Mata Rehan yang awal nya mengalir membasahi pipi nya itu segera di lap oleh Karina memakai tisue. Rehan hanya diam saja ketika Karina melakukan hal tersebut kepada nya, setelah itu Karina bertanya.


"sudah jangan kau ceritakan lagi sayang, nanti yang ada kamu malah semakin sedih jika mengingat cerita barusan."


"iya sayang, terima kasih ya sudah perhatian kepadaku." ujar Rehan tersenyum penuh keharuan.


"iya sayangku, yang nama nya sepasang kekasih harus saling perhatian satu sama lain." ujar Karina sembari membalas senyuman Rehan.


Makin lama pandangan mereka makin lekat dan wajah mereka mendekat dan akhir nya mereka pun berciuman di dalam mobil tersebut. hal tersebut tak berlangsung lama karena Rehan yang masih mengemudikan mobil nya itu segera menarik diri dan berkata,


"jangan dilanjut! aku sedang menyetir soal nya! bahaya!"


"hehehe bukan nya kamu yang pertama ingin berciuman?" ucap Karina meledek.


"memang nya kau pun tak sama dengan yang aku lakukan tadi?"


"aku biasa saja, cuman kamu kok yang duluan mengajak ku berciuman."


"ya terserah kamu deh. aku fokus menyetir saja." ujar Rehan tak mau berdebat dan Karina hanya tertawa cekikikan saja. malam telah semakin larut dan perjalanan Pulang mereka selesai Berbelanja sebentar lagi tiba.


Mobil yang dikendarai oleh Rehan sebentar lagi akan sampai dirumah nya dan Karina sudah tak sabar ingin segera mencoba memakai pakaian yang dibelikan oleh Rehan tadi. tak hanya itu, Karina juga dibelikan ponsel oleh Rehan. hal tersebut dikarenakan untuk menambah komunikasi mereka semakin dekat. karena Rehan berpikir, meskipun Karina tinggal dirumah nya, tetapi ia tak selalu menetap tinggal dirumah nya sendiri. sewaktu-waktu Rehan bisa sibuk dan jarang ada di rumah jika pekerjaan di perusahaan nya membutuhkan tenaga nya. pekerjaan property yang dilakoni Rehan itu bisa sampai ke luar kota, bahkan bisa sampai keluar negeri.


Maka dari itu Rehan membelikan Karina ponsel agar mereka dapat berkomunikasi jika mereka sedang berjauhan. Karina pun hanya menurut saja ketika di belikan ponsel oleh Rehan dan ia pun punya pemikiran lain, jika ia punya ponsel sendiri maka ia akan leluasa menghubungi keluarga nya terutama ibu nya. kini mobil Rehan sudah masuk ke dalam halaman rumah nya dan setelah mobil terparkir, mereka keluar dari mobil.


Sepasang muda-mudi itu kemudian masuk ke dalam rumah dengan membawa barang belanjaan mereka yang terlihat agak banyak. setelah masuk, mereka disambut oleh ibu nya Rehan.

__ADS_1


"wahhh....!? apakah kalian sudah berbelanja...???"


"iya ibu, Rehan yang mengajak saya."


"owhhh syukurlah kalau begitu, lagipula ibu sangat senang melihat kalian semakin akrab begini."


"ahhh ibu bisa saja." ujar Karina malu-malu, lalu Rehan berkata.


"mama tadi menghubungi ku ada apa???" tanya Rehan dan ibu nya lalu mengajak Rehan dan Karina untuk duduk diruangan tamu.


Setelah mereka duduk, ibu nya Rehan berkata.


"tadi ibu menghubungi mu Karena ingin menyampaikan laporan tentang Rangga."


"ada apa dengan Rangga, bu???" tanya Karina penasaran. Rehan pun menatap Karina sejenak, lalu menatap ibu nya seraya bertanya.


"maksud mu Rangga akan diadili dipengadilan?"


"iya Karina sayang, dia harus mempertanggungjawabkan kesalahan nya itu terhadap mu."


"tapi kan, bukankah hal ini bukan nya sudah tak perlu di ungkit lagi?" tanya Karina lagi seakan ia membela Rangga. Rehan yang merasakan hal tersebut segera berkata sedikit tegas,


"apakah mau membela nya??? bukankah dia lelaki yang telah menodai mu tanpa bertanggung jawab apa yang ia lakukan kepada mu???" ucapan tegas tersebut membuat Karina menunduk antara takut dan serba salah.


Ibu Susi paham apa maksud Karina dan Rehan yang barusan mereka perdebatkan itu, lalu ibu Susi menyela perkataan mereka.

__ADS_1


"sudah-sudah jangan berdebat begitu. masalah tentang Rangga bukan sekedar telah menodai Karina saja, banyak juga laporan dari berbagai pihak akan kelakuan bejat anak itu diluar lokasi syuting nya."


"maksud ibu?" tanya Karina bertanya tak mengerti apa maksud perkataan ibu Susi. Rehan pun berkerut dahi nya, lalu ibu Susi meneruskan ucapan nya.


"ternyata bukan diri mu saja Korban dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh Rangga, ternyata ada beberapa gadis desa yang sama hal nya dengan dirimu nak."


"hah!?" sentak Karina kaget.


"apa!?" sentak Rehan ikut kaget juga. Ibu Susi hanya mengangguk saja ketika Rehan dan Karina bertanya tentang kebenaran ucapan nya barusan. Karina dan Rehan saling tatap, seakan mereka masih sanksi akan penjelasan dari ibu nya itu.


Suara telepon terdengar berdering dari saku nya Rangga. anak itu terlihat sedang duduk dikursi tunggu bandara dan ia seperti nya sudah berniat ingin pergi ke luar negeri. panggilan telepon itu ia lihat dan ternyata itu adalah pak produser nya yang selama ini telah banyak berjasa kepada nya.


"ya tuhan untuk apa pak tua ini menghubungi ku!? haduh! mengapa aku lupa mencabut kartu seluler ku ini sialan!" panggilan telepon tersebut hanya di diamkan saja dan tak ia angkat oleh Rangga.


"percuma aku angkat juga, pasti ia ingin bertanya tentang aku yang tak ada di kamar apartemen ku. awas saja kalau si Ujang membocorkan rencana ku! bisa mati aku jika ketahuan kabur pergi ke luar negeri!" ujar nya, lalu ia memasukan ponsel nya ke dalam koper dan tetap tak mau mengangkat panggilan ponsel tersebut.


Ternyata dugaan Rangga memang benar, pak produser nya memang sedang berada di apartemen nya bersama asisten Rangga dan beberapa polisi. tujuan polisi ikut datang ke tempat itu karena ingin membawa Rangga atas tuduhan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan, yakni Karina dan beberapa gadis desa lain nya. tetapi mereka tak menemukan kemana arah pergi nya Rangga dan asisten nya Rangga tetap tak mau mengaku kemana pergi nya Rangga.


"sumpah pak! saya tak tahu kemana bos Rangga pergi! ketika saya pulang ke kost an saya pun, ia tak bicara apapun kepada saya pak Produser." ujar Asisten Rangga yang bernama Ujang itu dan pak produser menjawab nya.


"jangan berbohong kau Ujang!" bentak pak produser dan Ujang hanya menunduk dan tetap berkata tak tahu menahu soal keberadaan Rangga.


"haduh sialan! ada-ada saja anak itu!" kata nya kesal. lalu pak produser berkata kepada polisi yang ada disitu.


"Rangga tak diketahui pergi nya pak, bagaimana jika kita pergi ke rumah pacar nya saja."

__ADS_1


"baiklah kalau begitu." ujar polisi itu dan mereka pun kini pergi ke rumah nya Nikita.


Asisten nya Rangga tak ikut karena ia harus menjaga apartemen bos nya itu dan kunci nya ia yang memegang nya. Ujang pun beralasan bahwa ketika siang tadi Rangga menitipkan kunci apartemen nya kepada nya dan itu memang benar. sebelum Rangga pergi kunci apartemen tersebut sudah diberikan kepada asisten nya dan semua yang ada di dalam nya juga sudah diberikan kepada asisten nya oleh Rangga. hal tersebut adalah jaminan Rangga untuk Ujang jika ia tetap menutupi kepergian Rangga yang pergi keluar kota.


__ADS_2