DEMI CINTA

DEMI CINTA
KEGUGURAN


__ADS_3

PERJALANAN Pulang Karina dengan naik mobil nya Rehan sudah tiba dirumah Rehan. sedangkan ibu nya Rehan, ia pergi lagi ke kantor nya karena jam kerja nya belum selesai. pagi hari telah sejak tadi berlalu dan kini siang hari menuju sore telah tiba. Rehan yang kala itu baru saja membaringkan Karina ditempat tidur nya dengan selang impusan yang menempel ditangan nya, mendapat panggilan dari ponsel nya.


"halo? ada apa Doni?" tanya Rehan.


"hari ini bukan nya bos Rehan akan datang kemari untuk mengecek barang yang akan dikirim ke luar kota???" ujar suara lelaki dibalik ponsel Rehan.


"oh iya aku lupa soal itu. bisakah kau gantikan aku dulu? hari ini aku tak bisa datang karena calon istri ku sedang mengalami kecelakaan." ujar Rehan memberikan alasan nya kepada asisten nya yang bernama Doni itu.


"maksud bos? mbak Nikita mengelami kecelakaan?" Rehan lalu menatap ke arah Karina yang menatap nya dalam posisi berbaring.


Rehan lalu segera menjawab pertanyaan dari asisten nya itu.


"sudah segera kerjakan saja apa yang harus kau kerjakan."


"baiklah bos. nanti kalau ada apa-apa saya hubungi lagi."


"iya Doni."


"baiklah bos, semoga mbak Nikita cepat segera cepat sembuh." lalu panggilan ponsel itu segera dimatikan oleh asisten nya Rehan.


Rehan lalu duduk disamping Karina dan Karina pun bertanya,


"apakah tak apa kamu hari ini tak pergi ke tempat mu bekerja sayang?" tanya Karina masih dengan suara sumbang dan lemas.


"tak akan kenapa-kenapa sayang, lagi pula itukan perusahaan ku. asisten ku yang sementara akan menggantikan pekerjaan ku."


"oh begitu sayang, lalu apakah kita hari ini tak jadi ke rumah paman ku?" pertanyaan Karina tadi membuat Rehan sedikit kaget karena menyadari awal tujuan mereka yang ingin pergi ke rumah paman Wahyu.


Rehan lalu mengusap-usap lembut rambut Karina sembari menjawab pertanyaan nya.


"keadaan mu masih belum pulih sayang, nanti saja jika keadaan mu sudah pulih dan membaik, kita akan pergi kesana."

__ADS_1


"tetapi bagaimana cara kita memberitahu mereka bahwa aku saat ini sudah Keguguran?" Rehan merenungi ucapan Karina sejenak, kemudian Rehan menjawab nya.


"begini saja, aku sekarang pergi ke rumah paman mu untuk memberitahukan keadaan mu. bagaimana sayang?" Karina diam sejenak, lalu menatap Rehan dengan bimbang.


"mengapa wajah mu seperti itu sayang???" tanya Rehan dan Karina menjawab nya.


"aku merasakan kebimbangan jika kamu datang kesana seorang diri untuk memberitahukan berita ini. aku takut ibu ku tahu dan malah sakit karena terlalu memikirkan keadaan ku."


"apakah seharus nya kita diam saja sampai keadaan mu pulih kembali?" Karina hanya mengangguk saja dan berkata,


"lebih baik nanti kita berdua kesana agar keluarga ku tak kaget mendengar nya."


"baiklah sayang, cepat sembuh ya. muachh." lalu Rehan mencium kening Karina dengan lembut dan penuh perasaan.


Disamping itu, ibu nya Karina terlihat sedang duduk diteras rumah nya sembari memegang sebingkai poto. sejak tadi ibu nya Karina menatap gambar poto itu sembari mengusap-usap nya dengan lembut.


"andai saja kau tak berpaling dariku mas, mungkin saat ini diriku ini tak akan kesepian. sejak kepergian Karina, entah mengapa aku saat ini selalu merindukan kehadiran mu. padahal dirimu sudah sangat menyakiti hati ku dan membuat diriku hampir gila." ujar ibu nya Karina berkata pelan sembari masih mengusap-usap lembut gambar poto itu.


"kesepian ini akan hilang setelah aku mendengar suara anak ku. lebih baik aku menghubungi anak ku saja." lalu ibu nya Karina segera masuk ke dalam rumah nya.


Ia segera menghubungi paman Wahyu untuk meminta nomor ponsel anak nya, tetapi ia baru sadar bahwa Karina tak mempunyai ponsel genggam.


"halo kak ada apa?" tanya paman Wahyu menjawab panggilan telepon tersebut.


"kamu sedang dimana dik?"


"aku sedang siap-siap untuk pulang kerja kak. ada apa kak?"


"apa kamu punya nomor ponsel nya nak Rehan? kakak rindu ingin mengobrol dengan Karina." ujar ibu Karina dan paman Wahyu menjawab nya.


"aku lupa meminta nomor nya kak. begini saja, pulang dari sini aku akan pergi ke rumah nya nak Rehan untuk meminta nomor ponsel nya atau sekalian saja aku berikan nomor ponsel kakak kepada nya."

__ADS_1


"baiklah kalau begitu dik, nanti jika sudah sampai disana hubungi kakak lagi."


"baik kak." ujar paman Wahyu dan panggilan telepon itu pun terhenti.


Perasaan ibu nya Karina sudah tak kesepian seperti tadi. ia sudah tak mengingat tentang suami nya lagi dan kini ia segera pergi ke kamar mandi untuk shalat ashar. dirumah nya Nikita, ia sedang terbaring lemah diranjang nya dengan ditemani ayah dan ibu nya.


"sayang bagaimana keadaan mu?" tanya ibu nya Nikita.


"sudah baikan ibu." ujar nya sembari tersenyum lemas. ayah nya yang berada didekat nya pun berkata,


"jika nanti kamu sudah sembuh, mau tidak kamu kenalkan dengan anak nya teman ayah?" Nikita dan ibu nya menatap ke arah nya. ayah nya Nikita pun menjelaskan nya,


"anak nya teman ayah itu dulu nya teman masa kecil mu nak."


"teman masa kecil!? siapa ayah??? aku sudah lupa." ujar Nikita tak ingat akan kenangan masa kecil nya.


Ibu nya Nikita pun ikut bertanya tentang anak siapa lelaki tersebut.


"anak nya pak Dermawan bu, tetangga kita waktu kita tinggal dikampung mangga dua itu."


"oh iya!? ibu baru ingat! pak Dermawan dan istri nya yang bernama ibu Desi, mereka memiliki anak laki-laki yang seumuran dengan Nikita." Nikita mengerutkan dahi nya dan mencoba mengingat-ingat siapa anak lelaki itu, tetapi ingatan nya bagai tak menemui arah tujuan.


Ayah nya Nikita pun berkata bahwa anak teman nya itu baru saja pulang dari luar negeri karena ia sudah lama tak pulang ke rumah orang tua nya.


"jadi apa pekerjaan nya diluar negeri?" tanya ibu nya Karina dan ayah nya Karina menjawab nya.


"kalau tak salah, ia seorang desaigner profesional di bidang kostum dan pakaian. ia bekerja diperusahaan ternama yang berada di amerika dan sudah jelas gaji nya pun besar."


"wah kalau begitu, apa dia masih mau dengan anak kita yang keadaan nya sudah seperti ini ayah?" tanya ibu nya Nikita dan membuat Nikita saat itu juga berkata,


"lebih baik Nikita saja yang nanti mencari calon pendamping sendiri, Nikita sudah jera dan kapok memiliki pasangan yang memiliki keterampilan yang luas seperti public figure itu." ucapan Nikita tadi mengingatkan akan diri nya yang kecewa atas cinta nya terhadap Rangga yang bekerja sebagai artis atau public figure.

__ADS_1


__ADS_2