
KAMAR Apartemen cukup lebar dan luas itu segera digeladah oleh ke empat detektive kepolisian itu. Usman dan pacar nya itu disuruh menunggu diluar kamar apartemen tersebut dan disaat mereka menunggu diluar kamar, mereka pun berbincang.
"sayang apa mereka tak curiga akan kita yang berduaan dikamar apartemen ini?" tanya pacar Usman dan Usman menjawab nya.
"entahlah sayang, mungkin mereka percaya tak percaya bahwa kita belum resmi menikah atau sudah resmi menikah. tetapi persoalan nya bukan itu tujuan mereka datang ke tempat ini, tujuan mereka adalah untuk mencari barang bukti dari Rangga yang sudah kabur entah kemana pergi nya itu."
"lalu apa kamu tahu kemana pergi nya mas Rangga itu sayang?"
"mana aku tahu, dia hanya berkata akan pergi keluar negeri saja dan tak menyebutkan ia akan pergi ke negara mana."
"tapi apakah mas Rangga itu tahu bahwa diri nya saat ini sedang menjadi buronan polisi???
"dia sudah tahu sayang, aku yang memberitahu nya ketika beberapa hari yang lalu sesudah pak produser nya Rangga datang kemari bersama beberapa polisi." ujar Rangga mengatakan nya apa ada nya kepada pacar nya.
Pacar nya hanya manggut-manggut saja tanda mengerti, kemudian pacar nya bertanya lagi.
"apakah kita berdua akan terseret kasus nya mas Rangga ini sayang???"
"semoga saja tidak sayang, lagipula salah kita apa? walaupun aku ada hubungan nya dengan Rangga, itu hanya sekedar dekat karena pekerjaan saja. karena mereka tahu aku adalah mantan asisten nya dan tak lebih hanya seorang karyawan nya saja."
"tapi kalau mereka tetap menuntut kita untuk pergi ke kantor polisi sebagai saksi? apa harus kita menuruti nya sayang???" Usman pun terdiam memikirkan ucapan dari pacar nya itu.
Kemudian ia pun menatap ke arah pintu apartemen itu sembari berkata,
"kalau pun kita dipaksa untuk nanti di interogasi tentang pergi nya Rangga, kita ikuti saja mau nya para polisi itu. daripada kita menolak dan mencoba mengelak nya, yang ada nanti mereka curiga terhadap kita."
"yasudah kalau begitu menurut mu sayang, aku ikut apa saran mu saja." ujar pacar nya Usman dan Usman pun mengangguk saja.
Didalam kamar apartemen itu, ke empat detektive polisi itu menemukan beberapa Barang Bukti didalam laci meja yang terkunci. laci yang terkunci itu dibuka dengan alat khusus yang mereka bawa sebelum nya, beberapa barang bukti itu diantara nya ada KTP milik Rangga dan KTP ibu nya. dua KTP itu ditemukan didalam dompet milik Rangga yang seperti nya sudah tak dipakai lagi oleh pemilik nya. ke empat detektive itu sepakat untuk membawa KTP itu untuk mereka telusuri lebih lanjut lagi. kini ke empat detektive itu keluar dari kamar apartemen tersebut dan Usman serta pacar nya dihampiri oleh mereka. ketua dari ke empat detektive polisi itu pun berkata,
"terima kasih sudah mengizinkan kami mencari barang bukti didalam kamar ini. barang-barang di dalam sudah kami bereskan lagi dan kami hanya mengambil dompet bekas milik Rangga ini saja."
"iya baik pak sama-sama." ujar Usman dan pacar nya.
__ADS_1
Lalu ke empat detektive itu pamit pergi lagi dan membuat Usman serta pacar nya segera masuk ke dalam kamar itu lagi.
"aku pikir kita bakal dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan sayang?"
"tak mungkin sayang, seperti nya mereka hanya butuh barang bukti saja."
"hmm begitu, memang nya apa yang mereka temukan didompet itu sayang?"
"mana aku tahu sayang, tempat menyimpan dompet itu pun aku tak tahu dimana letak nya."
"apa jangan-jangan itu dompet mu sayang?"
"dompet ku ada ditas dan bukan berwarna hitam, tapi berwarna coklat dan bentuk nya tak sebesar itu. tapi itu menurutku itu memang dompet bekas nya Rangga waktu dia masih sering syuting. lalu dimana ke empat detektive itu menemukan dompet bekas itu dan mengapa hanya itu saja bukti yang diambil oleh para detektive polisi itu???" tanya Usman bertanya-tanya dan pacar nya menjawab.
"mungkin didalam nya ada bukti untuk mencari keberadaan mas Rangga itu sayang."
"yah bisa jadi sayang. sudahlah kita tak perlu membahas itu lagi, lagipula itu sudah bukan urusan kita lagi."
"iya sudah sayang. tapi siang ini kita jadi kan jalan-jalan???"
Disatu sisi Ibu Susi sudah pergi ke kantor tempat nya bekerja sebagai kepala polisi dan Rehan pun sudah pergi ke kantor nya sebagai bos perusahaan tersebut. sebelum berangkat bekerja tadi, Rehan sempatkan diri untuk pamit kepada Karina dan Karina pun berkata memberi peringatan.
"ingat ya sayang akan janji mu yang semalam itu."
"iya sayang, aku akan selalu ingat janji ku itu."
"yasudah hati-hati dijalan dan jangan telat makan siang." ujar Karina kepada Rehan waktu pagi tadi dan kini Rehan sedang berada di kantor nya.
Pagi yang sebentar lagi siang hari itu tetap tak hiraukan oleh Rehan yang sedang melihat data-data penjualan barang property nya. didepan meja kantor nya itu ada asisten nya yang bernama Doni, hari itu Doni baru masuk bekerja karena hari sebelum nya ia sedang libur. mereka diruangan itu sesekali berbincang membahas pekerjaan dan membahas diluar pekerjaan juga.
"jadi penjualan di bulan kemarin lumayan besar juga ya omzet nya."
"tentu saja pak, siapa dulu yang membuat target marketing nya."
__ADS_1
"hahaha, memang salut aku kepada mu Andi. lalu ngomong-ngomong, apa kamu tahu akan karyawan sebelah yang bernama Dewi?"
"Dewi? siapa itu bos? aku baru mendengar nama nya."
"masak kamu tak tahu? ituloh teman nya Lucy yang tadi pagi berpas-pasan datang nya bersama mu."
"oh perempuan yang cantik dan badan nya bagus itu pak?" Rehan mengangguk dan Doni tersenyum cengengesan seraya bertanya,
"apa bos naksir sama wanita itu? hehehe."
"hust! emang menurut mu kalau aku bertanya begitu itu nama nya naksir hah?"
"tergantung bos, hehehe tapi menurutku wanita itu cocok dengan mu bos." ujar Doni cengengesan dan Rehan hanya menggelengkan kepala nya saja terhadap asisten nya yang humoris itu.
Lalu Rehan berkata tanya lagi kepada Doni, asisten nya itu.
"bagaimana menurut mu wanita itu? cantik apa tidak?"
"menurut ku memang sangat cantik sekali, lebih cantik wanita itu daripada karyawan-karyawan perempuan disini."
"hahaha dasar buaya lapar. lalu apa kau tak merasakan keganjalan ketika melihat wajah cantik nya itu?"
"keganjalan bagaimana pak?"
"apa pandangan mu susah terlepas jika kau sudah menatap nya terus?"
"ah menurut ku itu hal yang wajar bagi seorang lelaki bos. bukan bos saja, aku pun sama seperti bapak jika melihat wanita cantik pasti mau nya memandangi wajah nya terus." Rehan pun tertawa pendek dan Doni pun tertawa juga. kemudian setelah mereka berhenti tertawa, Rehan berkata tanya,
"apa kau tak berkeinginan untuk menjadikan wanita itu pacar mu atau calon istri? kau kan saat ini masih lajang dan belum menemukan pasangan pendamping hidup bukan?"
"memang benar bos, tetapi kalau wanita yang bernama Dewi itu mau kepada ku. aku sih sangat senang sekali, yang jadi pertanyaan dia nya suka tidak kepada ku?" Rehan pun merenung sejenak seakan sedang berpikir untuk mencari cara agar Dewi bisa dijodohkan dengan asisten nya yaitu Doni yang tak lain adalah teman semasa kuliah nya itu.
...*...
__ADS_1
...* *...