
LUCY Pun meneruskan ucapan nya yang tertunda itu dibab sebelum nya kepada Rehan.
"sebenar nya maksud tujuan Dewi ingin mendekati bos Rehan bukan sekedar ingin menjadikan bos Rehan pendamping hidup nya."
"apa itu???" tanya Rehan dan Lucy pun menjawab nya.
"Dewi ingin wajah nya cantik kembali seperti sedia kala, segala macam obat dari dokter sudah ia pakai demi menghilangkan bekas luka itu. tetapi dokter spesialis tempat konsultasi nya Dewi menyuruh untuk melakukan operasi kulit wajah dan itu perlu membutuhkan biaya yang tak sedikit. maka dari itu, Dewi berniat ingin memiliki bos Rehan agar jika bos dan Dewi resmi berpacaran, Dewi akan berterus terang kepada bos agar mau membiayai operasi nya itu. itulah tujuan lain nya dari Dewi terhadap bos Rehan, saya harap bos dapat memaklumi kelakuan Dewi yang sudah diluar batas itu." ucapan Lucy tersebut membuat Rehan menjadi kasihan terhadap Dewi.
Rehan selama ini telah salah mengira dan menilai, ternyata pemikiran jelek tentang Dewi yang memakai susuk itu terpatahkan oleh cerita Lucy barusan. hal tersebut membuat Rehan semakin yakin bahwa Dewi adalah orang yang berpura-pura bahagia di depan nya atau orang lain, padahal orang tak tahu dibalik kebahagian Dewi ada luka yang membuat nya selalu tetap tegar menjalani hidup nya. pemikiran Rehan akan Dewi segera ia pikirkan kesimpulan nya kepada Lucy.
"jadi Lucy, menurut saya Dewi itu terpaksa menyukai orang lain demi kepentingan pribadi nya. contoh kepada saya, saya tak tersinggung akan cerita mu barusan. setelah saya mendengar nya, timbul niat saya untuk menolong kesulitan nya itu."
"apa bos mau membantu biaya operasi Dewi???" tanya Lucy penasaran dan Rehan menjawab nya.
"bukan saya saja yang akan membantu nya, tetapi asisten saya pun seperti nya mau membantu."
"maksud bos Rehan? pak Doni?" Rehan mengangguk seraya berkata,
"sebenar nya Doni akan saya jodohkan dengan Dewi, tetapi kau tahu sendiri bahwa Dewi selalu mencoba mendekati saya. sedangkan saya sekarang sudah mempunyai calon istri dan tak mungkin saya meninggalkan calon istri saya demi perempuan seperti Dewi." Lucy yang mendengar ucapan Rehan pun masih bingung, lalu ia bertanya.
"jadi maksud Rencana bos Rehan bagaimana???" lalu Rehan pun menjawab pertanyaan Lucy.
__ADS_1
"bantu saya untuk menjodohkan Doni dan Dewi, apa kamu bisa membantu saya Lucy?"
"tapi bos, apa Dewi mau sama pak Doni? seperti nya mereka berdua belum pernah berkenalan."
"maka dari itu kita pikirkan bagaimana cara nya agar mereka bisa berkenalan." ujar Rehan lagi dan Lucy pun merenung sejenak memikirkan rencana bos nya itu.
Rehan masih menunggu jawaban dari Lucy dan agak Lama mereka saling bungkam, Lucy pun berkata.
"apa pak Doni bakal mau jika ia tahu keadaan dibalik wajah Dewi yang sebenar nya bos?"
"soal itu tak usah khawatir. saya nanti yang akan bicarakan kepada nya soal itu, nanti kau bicarakan kepada Dewi nanti. bahwa ada asisten nya mas Rehan yang menyukai nya dan bilang juga, bahwa mas Rehan berkata kepada mu agar Dewi jangan mencoba mendekati mas Rehan lagi. oh iya, bilang juga calon istri mas Rehan juga galak dan sering nekat mendatangi perempuan yang berani mendekati calon suami nya. bagaimana Lucy???"
"baiklah kalau begitu bos, nanti saya sampaikan kepada Dewi sehabis pulang bekerja nanti."
"serius bos!?" tanya Lucy tercengang senang.
"tentu saja saya serius. apa pernah saya berbohong atau mengingkari janji saya kepada karyawan kantor ini???"
"tak ada pak. baiklah kalau begitu, terima kasih bos Rehan."
"sama-sama Lucy." ujar Rehan dan kini Lucy sudah kembali pergi ke ruangan kerja nya.
__ADS_1
Rehan yang sudah merasa tenang pikiran nya akan permasalahan pribadi nya itu pun segera melanjutkan pekerjaan nya lagi. setelah pulang nanti ia berniat akan mengajak Doni ke rumah nya untuk membicarakan rencana nya itu, sekalian ia akan mengenalkan Karina kepada Doni. disamping itu, siang hari sebentar lagi tiba dan ibu Susi terlihat sedang berada di dalam ruangan kerja nya. disana ada empat detektive yang sebelum nya sudah mendatangi apartemen milik Rangga yang kini sudah menjadi milik Usman.
Ibu Susi dan ke empat detektive polisi itu sedang membahas barang bukti Rangga yang sudah ditemukan oleh mereka. barang bukti itu adalah dompet berwarna coklat yang di dalam nya ada dua KTP milik Rangga dan ibu nya.
"dari pencarian barang bukti di apartemen itu, kami hanya menemukan barang bukti yang sudah pasti ini adalah milik nya Rangga bu." ujar ketua ke empat detektive itu dan ibu Susi pun menjawab nya.
"hmm begitu, lalu asisten nya apa sudah tahu akan barang bukti ini???"
"asisten nya sudah tahu bu, karena sebelum kami pergi kami telah bicarakan bahwa dompet ini akan di bawa sebagai bukti dan asisten nya pun hanya mengiyakan saja."
"lalu apakah tak ada bukti lain selain dompet dan dua KTP ini???"
"tak ada lagi bu, menurut kami hanya barang ini saja yang dapat melacak keberadaan Rangga saat ini." ibu Susi yang sejak tadi memperhatikan dua KTP anak dan ibu itu pun berkata,
"baiklah kalau begitu, kita cari saja orang tua nya Rangga ini agar orang tua nya tahu bahwa anak nya berkelakuan bejat seperti ini. nanti setelah jam makan siang, segera cek dua kartu identitas ini untuk melihat lebih lanjut siapa saja anggota keluarga Rangga selain ibu nya ini."
"baik bu." ujar ke empat detektive itu dan kini perundingan tersebut dihentikan dulu karena jam makan siang sudah tiba.
Siang itu Karina terlihat sedang berada di ruangan tengah rumah nya Rehan. ia sudah bosan jika berada didalam kamar nya itu, ia lalu paksakan untuk berjalan-jalan di dalam rumah besar dan luas itu. sejak tadi Karina sedang memperhatikan bingkai-bingkai poto-poto lawas keluarga Rehan yang berada di meja-meja hiasan dan dinding rumah itu. Karina sesekali tersenyum gemas terhadap Rehan yang masih kecil dibingkai poto tersebut yang sedang digendong oleh ibu nya. disamping itu ada kakak perempuan Rehan yang digendong oleh ayah nya Rehan. pada saat itu Karina pun membatin dalam hati nya,
"tampan juga ayah nya Rehan, pantas ketampanan ayah nya menurun kepada nya. kakak perempuan nya juga cantik, mirip seperti ibu nya. andai kakak perempuan nya Rehan masih hidup, mungkin saat ini aku bisa berkenalan dengan nya." ucapan batin Karina terhenti, ia segera berjalan dengan tertatih-tatih menuju bingkai poto yang lumayan besar. disana ada poto pernikahan ayah dan ibu nya Rehan ketika masih muda dan hal tersebut segera membuat Karina meneteskan air mata nya. ia menangis haru karena melihat ayah dan ibu nya Rehan yang tersenyum bahagia dipoto pernikahan itu. Karina pun terpikir jika nanti ia menikah dengan Rehan, pasti ia tak akan bisa tersenyum bahagia seperti itu dikarenakan ia ingat kepada ibu nya yang telah lama ditinggalkan oleh ayah kandung nya sendiri. Karina pun segera berjalan kembali ke dalam kamar nya karena ia tak kuat lama-lama berada diruangan itu, karena ingatan tentang ayah nya membuat diri nya menangis memikirkan nasib ibu nya saat ini.
__ADS_1
...*...
...* *...