DEMI CINTA

DEMI CINTA
PENJEMPUTAN KAKAK NYA RANGGA


__ADS_3

DEWI Yang saat itu masih memandangi poto Doni dilayar ponsel nya pun segera membatin.


"setelah aku pikir-pikir, ternyata mas Doni ini tampan juga. kumis tipis nya inilah yang ternyata membuat ku jatuh cinta kepada nya. walaupun dari segi ketampanan lebih tampan mas Rehan, tetapi mas Rehan tak memiliki kumis seperti mas Doni ini." ia terus saja membatin begitu dan sesekali berpikir untuk mencoba menghubungi Doni terlebih dahulu.


Ia sudah mendapat nomor nya Doni dari Lucy dan Dewi sama-sama belum berani untuk menghubungi Doni duluan.


"masak harus perempuan duluan yang menelepon? nanti aku dikira perempuan murahan lagi!? ah lebih baik aku menunggu mas Doni menghubungi ku duluan saja. lagi pula kata Lucy, mas Doni sudah memiliki nomorku juga. ahhh mengapa hati ku menjadi tak tenang begini!? sudahlah, lebih baik aku fokus bekerja dulu!" lalu Lucy segera menaruh ponsel nya dimeja dan segera fokus bekerja lagi.


Doni sudah selesai sarapan nya dan kini ia pun segera masuk ke dalam kantor tempat nya bekerja. ia sejak tadi terngiang-ngiang akan wajah nya Dewi, tetapi hal tersebut ia tahan mati-matian sampai ia tiba diruangan pribadi nya.


"haduh! apakah aku sudah tergila-gila kepada nya???" ujar batin Doni sembari memegang kepala nya.


"sudahlah! lebih baik aku fokus bekerja saja dahulu! soal hasrat cinta ini aku tahan dulu dalam hati ku ini." lalu Doni pun segera duduk di kursi meja kerja nya dan sudah melupakan pikiran nya itu tentang Dewi.


Para intel kepolisian yang ditugaskan untuk mencari keberadaan kakak nya Rangga pun sudah tiba dilokasi. kedatangan para intel polisi untuk Penjemputan Kakak Nya Rangga itu, awal nya membuat keluarga kakak nya Rangga yang bernama Randi itu gaduh dan panik. tetapi setelah ketua dari intel itu berkata baik-baik dengan menjelaskan bahwa ia datang kesitu untuk bicara baik-baik terhadap keluarga Randi, maka para intel pun di perbolehkan masuk. istri dan kedua anak Rangga yang masih kecil-kecil berumur antara lima tahun dan tujuh tahun itu pun disuruh masuk ke dalam kamar.


Hanya ketua polisi intel saja yang berada di dalam ruangan tamu rumah itu dan semua anak buah nya hanya ada di luar rumah untuk berjaga-jaga saja. para tetangga rumah itu hanya bisa melihat nya dari depan rumah mereka, karena mereka takut tak berani dekat-dekat dengan para polisi intel yang membawa pistol dipinggang nya. setelah Randi menyajikan segelas air minum untuk ketua intel itu, lalu ketua intel itu menerima nya dan meminum nya. setelah itu ketua intel polisi itu segera memulai pembicaraan.


"terima kasih jamuan nya pak Randi. pertama-tama maaf sebelum nya jika kedatangan kami mengagetkan pak Randi beserta keluarga nya. tujuan kedatangan saya bersama anak buah saya kemari, karena kami telah mendapat perintah dari atasan kami dan perintah itu telah saya sebutkan bahwa rumah ini adalah alamat yang ditemukan ketika kami mencari keberadaan saudara nya Rangga Pangestu."


"oh jadi karena soal itu pak, saya memang kakak nya Rangga. tetapi saya tak tahu menahu akan permasalahan mantan adik saya itu." jawab kakak nya Rangga berkata tak tahu menahu dan ketua intel itu pun mengerutkan dahi nya seraya bertanya.

__ADS_1


"mantan adik? maksud pak Randi ini bagaimana???"


"saya sudah tak menganggap Rangga adik saya lagi pak." ujar Randi berkata serius. lalu ketua intel polisi itu berkata lagi,


"apakah sebelum nya pak Randi dan Rangga pernah terjadi konflik sampai-sampai pak Randi tak mengakui Rangga sebagai adik sendiri???"


"saya ragu untuk menceritakan nya pak." ujar Randi bernada sedikit ragu dan serba salah.


Ketua polisi intel itu pun lalu berkata lagi kepada Randi.


"mungkin pak Randi bisa menceritakan nya dikantor polisi, karena saat ini kami sedang membutuhkan informasi terkait siapa Rangga dimasa lalu nya itu. apa pak Randi mau ikut kami ke kantor polisi demi membantu kami mencari keberadaan Rangga??? jujur pak Randi, kasus yang sudah dilakukan Rangga ini sudah banyak merugikan orain lain, terutama perempuan. pak Randi bisa cek sendiri isi map yang saya bawa ini, jika saya berkata mengada-ada di depan pak Randi." lalu ketua polisi intel itu memberikan map berisi kertas laporan para korban tentang kejahatan Rangga.


Obrolan Randi dan ketua polisi intel itu pun terhenti dulu, karena Randi sedang melihat isi laporan dalam map tersebut. Randi segera menutup mata nya memakai jari kanan nya, ketua polisi intel melihat Randi segera mengelap air mata nya yang jatuh itu. Randi segera memberikan isi map itu kepada ketua polisi intel itu seraya berkata,


"maaf kalau saya telah menangis dihadapan bapak polisi ini."


"tak apa-apa pak Randi, wajar saja jika kita menangisi orang terdekat kita yang sedang tertimpa musibah." Randi hanya mengangguk saja dan ia segera mengusap air mata nya lagi sampai kering.


"bagaimana pak Randi? apa anda bisa ikut kami ke kantor polisi???" pertanyaan tersebut membuat Randi serba bingung, lalu Randi pun usahakan nenjawab.


"kira-kira berapa lama saya disana pak? saya khawatir istri dan anak saya menunggu saya jika terlalu lama disana."

__ADS_1


"tak lama kok pak Randi, paling sore pun sudah bisa pulang kembali pak Randi."


"oh begitu, yasudah kalau begitu saya bersedia."


"yasudah ayo pak Randi, kita bergegas." lalu ketua intel itu bangun dan Randi berkata.


"saya berkemas dulu, sekalian mau meminta izin kepada istri saya pak."


"silahkan pak Randi, saya tunggu diluar ya." Randi mengangguk dan ia segera masuk ke dalam ruangan kamar yang ada didalam ruangan tengah.


Ketika Randi ingin pergi ke kamar istri nya, ia mendapati istri nya sedang duduk di kursi tempat menonton televisi.


"pergilah ayah, bunda tak khawatir akan soal itu. ada baik nya ayah selesaikan dulu urusan pribadi ayah dengan adik kandung ayah itu." Randi terdiam menghadap istri nya yang duduk sembari memeluk kedua anak perempuan nya itu.


"kau sudah tahu rupa nya sayang, baiklah kalau begitu. ayah pamit dulu, nanti ayah pulang bawa oleh-oleh." ujar Randi dan membuat istri nya tak jadi murung.


Setelah Randi menjelaskan bahwa ia sengaja berpura-pura tak mengenali adik nya yang seorang artis terkenal itu. Randi pun segera ikut pergi ke kantor polisi yang ada dikota dan istri serta kedua anak nya hanya bisa melambaikan tangan perpisahan kepada Randi. kini suasana warga dikampung itu sudah tak tegang lagi setelah para mobil intel itu pergi dan kini para warga kampung mendatangi rumah Randi untuk menanyakan apa yang terjadi dirumah itu kepada istri nya Randi.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2