DEMI CINTA

DEMI CINTA
MENCARI ALASAN


__ADS_3

IBU Susi dan para ketua polisi kini sudah berada di dalam ruangan khusus untuk mengintrogasi para tahanan dan saksi korban. pada saat itu kakak nya Rangga yang bernama Randi itu baru saja masuk dengan di antar oleh para anak buah polisi.


"silakan duduk disini mas Randi." uja ibu Susi dan Randi pun duduk yang posisi nya nanti berhadapan dengan Rangga. sedangkan ibu Susi duduk disamping meja kedua orang itu nanti jika berhadapan dan para ketua polisi berdiri mengelilingi mereka.


"baik bu." ujar Randi dan setelah ia duduk, muncul Rangga dengan diantar oleh anak buah polisi.


Semua mata menatap ke arah datang nya Rangga yang saat itu wajah memar nya masih terlihat membengak. Randi menatap tajam ke arah adik nya ketika adik nya itu kaget melihat kakak nya sudah duduk menghadap nya.


"kak Randi!?" ujar Rangga kaget dan Randi segera berkata kasar kepada Rangga.


"kau masih ingat rupa nya kepada ku anak durhaka!"


"kau yang anak durhaka kak! ibu meninggal karena ia terlalu memikirkan mu!" balas Rangga tak mau kalah berkata kasar.


"dasar anak tak tahu diri!" juggg!! "argghh!!" sentak Rangga kesakitan karena Randi langsung meninju nya saat itu juga.


Para ketua polisi yang awal nya ingin bertindak, segera tak jadi setelah ibu Susi mengangkat tangan nya tanda ia melarang anak buah nya ikut campur. ibu Susi pun sengaja masih diam dan ia ingin melihat adik dan kakak itu berdebat permasalahan pribadi mereka. pada saat itu Rangga membalas ucapan kasar Randi,


"gara-gara kakak ibu meninggal! harus nya kakak yang anak durhaka karena sudah pergi dari rumah! asal kakak tahu, semenjak kakak pergi dari rumah. ibu sering melamun dan memikirkan kakak. ibu tak mau makan sampai-sampai badan nya kurus kering. aku seorang diri banting tulang cari biaya untuk pengobatan ibu dan biaya makan ibu! apakah aku pantas dikatakan anak durhaka kak!? jawab kak!?" bentak Rangga sembari menangis dan membuat suasana ruangan itu menjadi tegang.


Randi pun sudah menitikan air mata nya dan ternyata bukan hanya Randi, para ketua polisi dan ibu Susi pun ikut menitikan air mata juga walaupun mereka berusaha menahan nya. Rangga terus saja mengungkit-ungkit tentang masa lalu nya bersama kakak nya dan selalu ia menyalahkan kakak nya. hal tersebut sengaja Rangga lakukan agar orang yang disekitar nya mempercayai ucapan nya dan menyalahkan kakak nya. kakak nya Randi yang sejak tadi hanya diam dengan air mata membasahi pipi nya pun segera berkata tegas.

__ADS_1


"cukup dik cukup! kakak sadar bahwa kakak memang salah karena telah pergi meninggalkan ibu dan dirimu! tetapi sadarlah atas kelakuan bejat mu bersama ibu! kau telah menyetubuhi ibu kandung mu sendiri disaat ibu bercerai dengan ayah, ibu tak mau lagi memiliki suami dan ternyata baru aku sadari sekarang bahwa ibu selalu melakukan hubungan badan dengan anak kandung nya sendiri dan itu dirimu setan!" ucapan tersebut membuat Rangga tak berkutik membalas bentakan penuh kebenaran tersebut.


"jangan membual didepan ku kak! kakak telah membuat ibu sakit dan meninggal dunia! kakak pembunuh!" balas Rehan tak mau kalah menuduh.


Ibu Susi yang memperhatikan Rangga yang mulai Mencari Alasan akibat dituduh oleh kakak kandung nya sendiri pun mulai berkata.


"tenangkan diri dulu mas Randi, biar ibu yang sekarang bertanya kepada Rangga." Randi hanya mengangguk saja dan ia hanya bisa menunduk sembari menyapu air mata nya yang keluar tiada henti nya. Rangga saat itu segera menatap ibu Susi yang ia lihat wajah ibu Susi masih lumayan cantik dan pikiran kotor nya mulai muncul ketika ia melihat seragam ibu Susi yang serba ketat dan menampakan dua buah tonjolan dada nya yang lumayan sedang.


Tetapi ia tetap berpura-pura tak mempedulikan nya sampai ibu Susi berkata,


"kamu tahukan mengapa kamu sampai ditangkap dan dibawa kemari???" pertanyaan ibu Susi tadi segera dijawab oleh Rangga.


"aku bukan pembunuh! jangan tuduh aku karena ibu ku meninggal gara-gara kakak ku ini!"


Ibu Susi lalu membuka lembaran kertas fortopolia dalam map lumayan tebal dan ia lalu menunjukan nya kepada Rangga.


"lihat semua isi kertas portofolio ini. ini adalah data semua laporan tentang korban perempuan yang telah kau lecehkan. banyak diantara nya yang sudah mengandung dan akhir nya terpaksa harus digugurkan. apa kau tak merasa kasihan terhadap para wanita yang sudah kau permainkan itu hah? apa kau pernah merasakan penyesalan karena telah melakukan kesalahan??? seperti nya kau adalah orang yang tak pernah memperdulikan nasib orang lain dan tak pernah sama sekali merasakan penyesalan didalam hidup mu." ucapan panjang lebar dari ibu Susi itu segera di jawab oleh Rangga.


"ibu tahu apa tentang diriku hah!? jangan asal bicara atau menuduh jika tak ada bukti yang nyata bu!"


"hei bodoh! semua kertas itu berisi data para korban yang melapor ke kantor ini! kau jangan mencari alasan yang tak masuk akal!" ucap salah satu ketua polisi dan ada yang menyahut lagi.

__ADS_1


"kalau kau perlu bukti yang nyata, para korban wanita yang sudah kau sakiti itu sebentar lagi akan datang kemari untuk menuntuk perlakuan mu kepada mereka!" lalu polisi lain nya ada yang menambahkan.


"padahal apa susah nya kalau kau mengaku saja bahwa kau bersalah, disini tak akan ada yang membela mu!" ucapan dari para ketua polisi yang ada diruangan itu membuat Rangga menjadi takut dan ciut nyali nya.


Ia menjadi terdiam dalam keheningan tersebut dan pada saat itu ibu Susi mulai berkata lagi,


"seperti nya memang kau harus mendekam selama nya dipenjara, Rangga." pada saat itu Rangga segera menatap ibu Susi dengan kaget. lalu para ketua polisi yang ada disitu pun ikut berkata untuk menakut-nakuti Rangga.


"menurutku lebih pantas dihukum mati saja karena ia sudah tega menyetubuhi ibu kandung nya sendiri."


"lebih baik dikebiri saja, biar burung nya mati dan tak akan mampu lagi mencari sarang nya."


"ide bagus! hahaha..." lalu para ketua polisi itu tertawa puas diatas penderitaan Rangga.


Ibu Susi tak mencela atas ucapan olokan para anak buah nya itu kepada Rangga. Randi pun hanya bisa diam tertunduk seakan ia sedang merenungkan kejadian yang dulu pernah terjadi terhadap Rangga dan ibu nya. lalu ibu Susi berkata lagi kepada Rangga,


"lalu kalau boleh ibu tahu, mengapa kamu sampai nekat pergi ke luar negeri? apakah kau berniat ingin menyembunyikan identitasmu disini?" pertanyaan ibu Susi tetap tak dijawab oleh Rangga dan ibu Susi lalu berkata lagi.


"ingat Rangga, apa yang sudah kamu lakukan saat ini semua nya harus kamu pertanggungjawabkan baik itu didunia saat ini atau nanti kelak setelah kau meninggal. dosa besar yang sudah kau lakukan bersama ibu kandung mu dan para wanita yang telah kau gauli itu akan menjadi azab yang pedih nanti di alam kubur mu." pada saat itu Rangga menatap ke arah belakang kakak nya dan ia menatap tegang seolah ia ketakutan melihat sesuatu disana.


"tidaaaaak! maafkan aku ibuuuu! maafkan akuuuu! hiixhiixhiix." Rangga menangis keras dan membuat orang yang ada disitu menatap Rangga dengan heran, karena sejak tadi tatapan Rehan bagai tegang penuh ketakutan ke arah belakang kakak nya yang sedang duduk menatap nya itu.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2