
CAHAYA Senja sore hari telah tiba dan pada saat itu baru saja jam empat sore hari. seperti biasa, jam kerja kantor Rehan sudah waktu nya pulang dan niat nya nanti Rehan akan mengajak Doni untuk ikut ke rumah nya. tetapi sebelum Rehan pulang, ia menghubungi Karina dulu untuk menanyakan kabar nya. seharian ia tak menghubungi Karina karena kesibukan kerja nya ditambah kesibukan persoalan Dewi dan Doni. agak lama Rehan menghubungi Karina, tetapi tak ada jawaban sama sekali dari Karina.
"mengapa panggilan ponsel ku tak dia angkat? apa dia sedang mandi sore? ah tidak mungkin dia mandi sore, keadaan nya belum pulih total. hmm pasti dia sedang tertidur dan belum bangun, yasudah kalau begitu." ucap Rehan yang ia segera membereskan semua pekerjaan nya.
Disamping itu, Dewi sudah membuat Rencana seperti sebelum nya. yaitu ia akan memanggil Rehan dari jauh dan ikut pulang lagi bersama Rehan, agak lama ia menunggu di depan kantor nya. keluarlah Lucy dari kantor tempat nya bekerja, Lucy mendekati Dewi yang menatap kesal kepada nya.
"ayo kita pulang bersama Dewi, mengapa tampang mu seperti orang yang sedang memendam kekesalan???" pertanyaan Lucy tadi segera dijawab oleh Dewi dengan ketus.
"aku kesal karena sejak tadi aku menunggu mas Rehan keluar dari kantor nya, belum juga keluar. malah yang keluar lebih dulu adalah dirimu. huftt!" ujar Dewi dongkol dan membuat Lucy tertawa geli seraya berkata,
"kau mau apalagi menunggu mas Rehan? sudah aku katakan berulang kali kepada mu agar menjauhi mas Rehan."
"sudahlah kamu pulang duluan saja sana Lucy!" ujar Dewi kesal dan Lucy segera berkata,
"apa kau berniat ingin menumpang pulang lagi Dewi?"
"bukan urusanmu!" ketus Dewi dan Lucy pun berkata lagi,
"hari ini mas Rehan akan pulang bersama mas Doni. apa kau masih tetap mau menumpang pulang dengan mereka berdua??? apa kau tak takut jika..."
"berisik Lucy!" geram Dewi dan membuat Lucy tertawa semakin ngakak, karena sebenar nya lucy sering sekali membuat Dewi kesal.
Pada saat itu juga muncul Rehan dan Doni dari dalam kantor menuju mobil Rehan berada. Dewi yang awal nya ingin berniat memanggil Rehan, menjadi tak jadi karena ia malu terhadap Doni.
"aku bilang juga apa tadi Dew. sudah ayo pulang bersama ku naik motor ku saja." Dewi yang sudah kesal dan cemberut itu pun segera berkata,
__ADS_1
"yasudah ayo!" ujar nya ketus dan Lucy pun tak balik berkata ketus lagi karena ia sudah biasa menghadapi sikap Dewi yang seringkali ketus dan ngambekan itu.
Diperjalanan menuju rumah Rehan, Doni pun bertanya kepada Rehan dan mereka pun mulai mengobrol.
"seperti nya aku tadi melihat Dewi didepan kantor tempat nya bekerja bos."
"aku juga tahu, tadi aku pura-pura tak melihat nya saja."
"apakah menurut mu jika aku tak ikut pulang bersama mu, wanita itu akan nekat mengejarmu untuk ikut menumpang pulang?"
"sudah pasti akan begitu dan kemudian aku menjadi tak tega jika menolak nya."
"hahaha ingat calon istri mu bos." ujar Doni mengingatkan dengan candaan dan Rehan pun tertawa juga seraya berkata,
"itulah yang aku takutkan, jika semisal aku mengantar Dewi pulang. pasti wangi parfum nya akan melekat di baju ku dan alhasil bakal tercium oleh calon istri ku. bisa habis nanti aku dimarahi nya lagi." Doni pun tertawa mendengar ucapan Rehan barusan itu dan Rehan pun tak tersinggung akan Doni yang menertawakan nya itu.
"oh iya, kalau boleh aku tahu. bagaimana awal nya kau bisa bertemu dengan wanita yang sekarang menjadi calon istri mu? apakah menurut mu wajah nya lebih cantik daripada Dewi??? bagaimana pendapat mu tentang Perbedaan Dua Wanita itu???" pertanyaan Doni tadi yang panjang itu segera dijawab oleh Rehan dengan santai.
"kalau soal kapan aku bertemu dengan calon istri ku, nanti kau bisa tanyakan saja kepada orang nya nanti jika kau sudah ada dirumah ku. tetapi jika kau bertanya soal perbedaan lebih cantik mana daripada Dewi dan calon istriku, menurutku mereka sama-sama cantik karena mereka sama-sama wanita. tetapi perbedaan nya, yaitu calon istri ku itu cantik nya natural, dalam kata lain tanpa make up atau riasan diwajah nya pun ia sudah cantik."
"wah semakin penasaran aku terhadap calon istrimu itu bos. lalu, kalau soal Dewi bagaimana bos???" tanya Doni semakin penasaran.
Lalu Rehan pun menjawab pertanyaan Doni tadi.
"kalau soal Dewi, ia cantik hanya karena make up tebal diwajah nya. tetapi menurut Lucy, Dewi tanpa make up juga sudah cantik natural. hanya saja, ada sesuatu yang membuat aku kasihan kepada nya."
__ADS_1
"kasihan!? memang nya kenapa dengan Dewi bos???" tanya Doni semakin penasaran dan Rehan pun mulai menceritakan aib Dewi yang ia dengar dari Lucy.
"menurut cerita Lucy, Dewi memiliki penyakit Vitiligo yang menyerang kulit wajah dan leher nya."
"Vitiligo!? bukankah penyakit itu bisa menyebar ke semua badan nya termasuk mata dan rambut penderita nya???" tanya Doni dan Rehan pun menjawab rasa heran nya itu.
"aku juga berpikir sama dengan mu, tapi ketika aku pikir-pikir. area tubuh Dewi tak ada yang aneh sedikit pun. rambut nya pirang karena wajar ia memakai cat rambut dan lensa mata nya pun kadang biru kadang hitam, aku tahu dia sering memakai lensa mata. tak ada yang aneh menurut ku diarea badan nya itu."
"hmm jadi begitu, lalu apakah benar itu penyakit dari lahir? kalau begitu kasihan sekali nasib nya." ujar Doni merasa kasihan kepada Dewi.
Rehan yang mendengar ucapan Doni pun berkata,
"aku juga sebenar nya kasihan kepada nya. tetapi setelah Lucy menjelaskan darimana awal penyakit Dewi itu asal nya, aku sudah tak terlalu kasihan lagi mendengar nya."
"masak sih!? memang nya penyakit itu berasal darimana selain kelainan kulit dari lahir???"
"menurut penuturan Lucy, sebelum Dewi bekerja dikantor sebelah. Dewi pernah bekerja sebagai SPG kosmetik yang keseharian nya selalu mempromisikan produk kosmetik kepada konsumen nya. dari tuntutan pekerjaan nya itulah ia seringkali berganti-ganti make up dan tanpa ia sadari, ternyata kulit wajah dan leher nya mengalami iritasi kulit. iritasi kulit nya itu semakin parah dengan seiring berjalan nya waktu kemudian ia lalu berhenti bekerja karena sakit di area wajah dan leher nya. kata Lucy, Dewi setahun lebih berobat dab di rawat oleh keluarga nya sampai sembuh. tetapi bekas luka iritasi itu tak menghilang dan membekas bercak putih seperti bekas luka di kulit yang sudah kering. maka dari itulah mengapa Dewi cantik hanya dimake up saja, karena ada sesuatu yang ia sembunyikan sampai saat ini." ujar Rehan berkata panjang lebar soal aib Dewi kepada Doni.
Doni yang mendengar ucapan dari Rehan itu pun semakin kasihan terhadap Dewi yang menderita penyakit seperti itu dan ia juga kagum terhadap tekad Dewi yang masih berjuang bekerja walaupun keadaan kulit wajah nya sangat memprihatinkan. pada saat itu Rehan berkata tanya kepada Doni,
"jadi bagaimana? apa kau masih tertarik kepada Dewi? atau kau merasa jijik setelah aku berterus terang mengatakan aib Dewi kepada mu???" pertanyaan Rehan tadi membuat nya kebingungan dalam mengambil sikap.
"nanti aku pikirkan dulu." hanya itu jawaban dari Doni dan Rehan pun angkat bahu saja tanda terserah. mobil Rehan yang dikemudikan nya pun sebentar lagi tiba dirumah nya dan waktu sore itu Karina pun baru saja terbangun dari tidur nya.
...*...
__ADS_1
...* *...