
AYAH Dan ibu nya Karina pun menatap Nikita yang menunduk malu itu, lalu Piko berkata lagi.
"menurut cerita ayah mu, apa kamu saat ini memang sedang sakit karena keguguran, Niki???" Nikita hanya mengangguk saja dan kepala nya tetap menunduk malu. lalu Piko menatap ayah dan ibu nya Nikita seraya bertanya,
"sebenar nya lelaki yang telah menodai Niki itu kemana om? apa dia tak berani mempertanggung jawabkan perbuatan nya itu?"
"cerita nya panjang Piko, lelaki itu telah melarikan diri dari tanggung jawab nya dan saat ini sedang diburu polisi." jawab ayah nya Nikita dan ibu nya Nikita pun menimpali.
"benar apa yang dikatakan ayah nya Nikita, nak Piko. saat ini Rangga sedang menjadi buronan polisi dan pasti jika sudah ditangkap akan diadili dan dimasukan ke dalam penjara."
"oh jadi begitu cerita nya, lelaki seperti itu memanglah pecundang. mau enak nya saja tanpa mau anak nya." geram Piko dan membuat ayah dan ibu nya Nikita memandang kagum terhadap sikap dewasa Piko.
Lalu Piko pun berkata kepada ayah dan ibu nya Nikita bahwa ia akan menjadikan Nikita istri nya dan hal tersebut membuat Nikita kaget.
"mengapa secepat itu Piko!? keadaan ku saja belum sembuh begini." ujar Nikita dan Piko tertawa kecil sembari menjawab nya,
"tak perlu risau seperti itu Niki, kita bisa mengatur pernikahan kita kapan saja. tetapi, apa kamu mau menerima cinta ku ini?" Nikita menatap ayah dan ibu nya yang memberi isyarat agar Nikita mau menerima tawaran tersebut.
Nikita lalu menatap ke arah Piko yang duduk dan tersenyum ke arah nya, lalu ia berkata.
"apa kamu tak malu mempunyai seorang istri seperti ku ini? kamu tahu sendiri, aku sudah tak perawan dan..."
"sudah jangan memikirkan hal itu Niki." ujar Piko memotong ucapan Nikita. lalu Piko bangun dari duduk nya dan berjalan ke arah Nikita, lalu ia berlutut memegang kedua tangan Nikita sembari berkata,
"aku tak pernah memandang wanita itu dari penampilan atau masa lalu nya Niki, kita sudah berteman sejak kita masih kecil dan sampai remaja kita berpisah karena orang tua kita sama-sama pindah rumah. tetapi kenangan dulu yang pernah kita jalani, saat ini aku masih mengingat nya dan karena mu lah aku kembali dari pekerjaan ku diluar negeri hanya untuk menemui mu. kamu paham kan maksud ku? bahwa aku dari dulu sebenar nya sudah cinta kepada mu, hanya kala itu aku tak bisa mengungkapkan nya." ujar Piko berkata tulus dari hati nya dan membuat Nikita tersentuh mendengar nya.
Ayah dan ibu nya Nikita merasa senang dengan Piko yang mau menerima kekurangan Nikita dan pada saat itu Piko mencium kedua punggung tangan Nikita dan kemudian mereka pun berpelukan bahagia. Nikita saat itu juga meneteskan air mata nya dan berkata,
"terima kasih kau sudah mau menerima kekurangan ku, sayang."
__ADS_1
"sama-sama sayang." balas Piko dan membuat ayah serta ibu nya Nikita terharu melihat nya.
Pagi hari yang menjelang siang itu telah tiba dan Rehan terlihat sedang duduk di dalam ruangan kantor nya. pada saat itu, suara ketukan pintu terdengar dan Rehan menyuruh nya masuk. kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang perempuan muda memakai seragam kantor yang ketat telah masuk sembari membawa berkas-berkas menuju meja kerja Rehan.
"ada apa Lucy?" tanya Rehan.
"permisi bos, saya mau mengantarkan data penjualan barang kemarin."
"oh data yang kemarin, lalu pak Doni kemana? mengapa bukan dia yang mengecek nya?" tanya Rehan dan Lucy pun menjawab nya.
"pak Doni hari ini bukan nya libur bos?" tanya Lucy merasa aneh dan Rehan pun segera ingat.
"astaga! mengapa aku sampai lupa ya!." ujar Rehan sembari memegang kepala nya.
"apa bos baik-baik saja? mungkin bos sedang banyak pekerjaan, jadi nya lupa." ujar Lusy dan Rehan berkata,
"baiklah kalau begitu bos,saya kembali lagi ke ruangan saya bos. permisi." Rehan hanya mengangguk kepada Lucy yang sudah pamit keluar ruangan nya. Rehan pun segera mengecek data-data didalam map yang tadi diberikan oleh Lucy sebelum nya.
Pada saat itu suara ponsel nya terdengar berdering dan Rehan segera mengangkat nya.
"halo sayang? ada apa?" tanya Rehan dan yang menelepon nya ternyata Karina.
"halo sayang? kamu sedang apa? apa kamu sudah makan siang?" tanya Karina yang saat itu ia sedang duduk di tepi ranjang nya.
"aku masih berada dikantor sayang, nanti habis pekerjaan ini selesai aku akan makan siang dikantin."
"baiklah kalau begitu sayang, semangat ya kerja nya dan awas jangan sampai telat makan."
"tenang saja sayang, aku akan menuruti perintah mu."
__ADS_1
"baiklah sayang, muachhh sayang kamu."
"muachhh sayang kamu juga." balas Rehan dan panggilan telepon pun berakhir. Rehan segera menyelesaikan pekerjaan nya itu dan nanti setelah selesai ia akan pergi ke kantin untuk makan siang.
Disamping itu dirumah nya paman Wahyu, ia dan istri nya bersama anak nya sudah siap-siap untuk pergi Menengok Karina dirumah nya Rehan. sebelum berangkat, paman Wahyu pun menelepon Karina terlebih dahulu. pada saat itu Karina baru saja akan makan siang didalam kamar nya dan makanan nya itu dibawakan oleh pembantu rumah tersebut.
"halo paman?" ujar Karina saat mengangkat panggilan paman nya.
"halo Karina, paman siang ini akan menengok mu bersama ibu nya Wulan dan Wulan."
"oh baik paman. aku tunggu kedatangan nya." ujar Karina sangat girang dan kemudian paman nya berkata,
"yasudah kalau begitu paman berangkat dulu, kamu jangan lupa makan siang."
"baik paman." ujar Karina dan panggilan telepon pun berakhir.
Karina lanjut makan lagi dan setelah selesai ia memanggil pembantu rumah itu untuk membawa bekas makan Karina. pada saat pembantu rumah itu datang, Karina berkata.
"bibi boleh saya minta tolong sebentar?"
"iya non minta tolong apa?"
"habis membawa piring kotor ini, tolong sampai kan kepada pak Slamet bahwa paman saya akan datang untuk menengok saya siang ini. lalu nanti antarkan ke dalam kamar ini bila perlu ya ibu Umyati."
"baik non." ujar ibu Umyati patuh dan kini ia pun pergi keluar kamar.
Karina lalu bangun dan berjalan menuju jendela kamar tersebut. disana ia bisa melihat halaman luas rumah besar itu dan disana ada taman kecil juga. Karina menatap ke arah kursi gantung yang di depan nya ada kolam kecil yang memiliki air mancur. disana, ia teringat akan kenangan nya bersama Rehan kala mereka baru pertama kali saling mencintai. Karina tersenyum sendirian karena ia mengingat kesan yang indah kala ia berduaan dengan Rehan ditaman kecil nya.
Lalu Karina segera membuka jendela kamar itu untuk menghirup udara segar dan ia pun merasakan ketenangan jiwa disela ia mengingat masa lalu nya yang tak tentu arah, kini sudah menjadi idaman seorang anak orang kaya yang baik dan tulus mencintai nya apa ada nya.
__ADS_1