
JAM Makan siang telah tiba dan seperti biasa Rehan dan para karyawan nya sedang istirahat dan makan siang dikantin itu. Rehan duduk dengan di temani oleh asisten nya yang bernama Doni itu dan mereka sesekali berbincang dengan suara pelan di sela makan nya.
"tadi aku sudah memanggil Lucy yang ternyata adalah teman dekat nya Dewi. aku sudah mengobrol banyak dengan dia tentang Dewi dan lalu jika semisal kau aku jodohkan dengan Dewi, apa kau serius mau menjadikan Dewi sebagai calon pendamping mu Don???"
"ya kalau bos mendukung, aku mau saja. siapa sih yang tak bersedia dijodohkan dengan perempuan cantik seperti Dewi itu." jawab Doni berkata pelan dan Rehan berkata lagi,
"baiklah kalau kau bersedia, nanti pulang kerja kau ikut ke rumah ku. ada persoalan yang harus aku bicarakan kepada mu tentang Dewi."
"persoalan apa itu bos???" tanya Doni penasaran dan Rehan berkata nanti akan ia ceritakan dirumah nya saja. Doni tak banyak bertanya karena ia merasa segan terhadap bos nya sekaligus teman masa kuliah nya itu, lalu mereka pun lanjut makan siang lagi.
Ditempat yang sama dan pada saat itu juga, Lucy sedang makan siang bersama Dewi. posisi mereka berada dibelakang kursi meja Rehan dan Doni tetapi lumayan agak jauh. seperti nya Rehan dan Doni tak menyadari bahwa Lucy dan Dewi berada dibelakang mereka. Lucy dan Dewi yang posisi nya sedang makan sembari berbincang pelan juga dan sesekali pandangan mereja menatap Rehan dan Doni.
"apakah lelaki yang berada disamping mas Rehan itu yang bernama Doni, Lucy???"
"ya itu orang nya yang barusan aku katakan bahwa pak Doni tertarik kepada mu."
"lumayan tampan juga, tapi menurutku lebih tampan mas Rehan."
"ya sudah jelas kalau soal itu. tapi yang jadi persoalan, jangan harap kau bisa mendapatkan mas Rehan, Dewi."
"mengapa begitu!? apa kau melarang ku, Lucy???" tanya Dewi menatap Lucy dengan aneh.
Lucy yang ditatap aneh seperti itu menjadi tak enak hati dan ia segera berkata,
__ADS_1
"kau jangan salah sangka dulu, tadi bos Rehan memanggil ku ke kantor nya untuk mengatakan sesuatu kepada ku."
"apa yang dikatakan nya itu???" tanya Dewi penasaran. Lucy pun menatap ke area kantin itu dan ternyata para karyawan yang sedang istirahat makan siang itu perlahan sudah kembali masuk ke dalam kantor nya lagi.
"kau sedang mencari apa Lucy???" tanya Dewi heran dan Lucy segera menatap ke arah Dewi dan berkata,
"nanti aku ceritakan malam saja dikamar mu. sekarang kita habiskan dulu makanan kita ini, sebentar lagi jam masuk kerja akan tiba."
"yasudah kalau begitu, janji ya nanti malam?"
"tenang saja Dewi, aku tak pernah mengingkari janji ku."
"yasudah kalau begitu." ujar Dewi dan mereka pun segera cepat-cepat menyelesaikan makanan mereka.
Ibu Susi segera memutar otak memikirkan cara lain untuk mencari keberadaan Rangga, setelah agak lama ia berpikir. ia teringat akan Rencana ABC yang sebelum nya ia sepakati bersama anak buah nya itu. kesepakatan itu jika rencana ABC itu gagal, maka rencana terakhir adalah rencana D. rencana tersebut adalah mencari saksi dari keluarga terdekat atau saudara kandung nya Rangga. tetapi yang membuat ibu Susi bingung adalah bagaimana mencari saudara atau kerabat Rangga? sedangkan ibu nya saja sudah meninggal dunia.
Pada saat ibu Susi memikirkan Permasalahan Yang Rumit itu, ia teringat akan keluarga nya.
"apa benar Rangga adalah anak yatim sama seperti Rehan? kalau tidak, dimana sekarang ayah nya? atau ibu nya sudah bercerai dengan suami nya? lalu bagaimana bisa KTP ibu nya Rangga bisa ada pada nya???" ujar batin ibu Susi dan pikiran nya begitu semrawutan mengingat permasalahan membingungkan itu. pada saat itu juga mulut nya berucap sembari pandangan nya menatap ke arag bingkai poto kecil dimeja kerja nya.
"baru kali ini aku menghadapi kasus yang membuat pikiran ku buntu begini, apa yang harus aku lakukan jika sudah begini papa?" ucapan nya itu ternyata ditujukan kepada poto suami nya.
Agak lama ibu Susi merenungkan suami dan anak sulung nya yang sudah tiada itu, terbersit dipikiran nya tentang kartu keterangan keluarga atau kartu KK.
__ADS_1
"oh iya! aku baru ingat! kartu keterangan keluarga bisa menjadi bukti yang kuat dari masalah ini! aku yakin pasti ada saudara nya Rangga yang masih hidup." lalu ibu Susi segera menghubungi anak buah nya lagi agar melacak KTP itu beserta riwayat keluarga nya yang lain. setelah ibu Susi memerintahkan tugas tersebut kepada anak buah nya, pikiran nya kembali tenang lagi dan ia menatap poto suami nya lagi seraya berkata.
"terima kasih papa, berkat bantuan papa. mama bisa menemukan jalan keluar dari kasus ini." setelah berkata begitu, ibu Susi pun lanjut makan siang dari bekal yang ia bawa dari rumah nya
Siang itu Karina sedang makan siang dengan ditemani oleh pembantu rumah itu yang bernama bibi Umyati. bibi Umyati yang awal nya hanya mengantarkan makan siang untuk Karina, tak boleh pergi keluar dulu dikarenakan Karina ingin menanyakan sesuatu kepada nya.
"bibi Um, apa aku boleh bertanya kepada bibi???"
"silahkan non, mau bertanya soal apa???"
"kalau saya boleh tahu, bibi Umyati suda berapa lama kerja disini???"
"oh kalau soal itu bibi sudah sangat lama non. mungkin disaat Den Rehan masih dalam kandungan, bibi sudah bekerja di sini."
"wah kalau begitu sudah lama sekali ya bi." bibi Umyati mengangguk dan Karina bertanya lagi.
"lalu bi, apa bibi tahu apa penyebab ayah dan kakak perempuan nya Rehan bisa mengalami kecelakaan dan kemudian meninggal dunia???" pertanyaan Karina tersebut membuat bibi Umyati bingung harus menjawab nya.
Karina yang melihat raut wajah ibu Umyati tegang dan bingung itu segera berkata,
"mengapa bibi tak mau menjawab nya??? apa bibi takut kepada ibu Susi jika menceritakan hal itu kepada ku??? pertanyaan tersebut membuat ibu Umyati pun berkata,
"maaf non, bibi tak bisa menjelaskan nya secara rinci karena bibi takut arwah yang sudah tiada itu tak senang kematian nya itu di ungkit-ungkit."
__ADS_1
"yasudah kalau begitu bi, aku pun tak memaksa juga." ujar Karina memaklumi nya dan ia pun menyadari bahwa pertanyaan nya itu salah. lalu Karina pun segera menyelesaikan makan siang nya dan setelah bekas makan siang Karina dibawa keluar oleh bibi Umyati, Karina pun minum obat dan setelah itu ia tidur siang.