
TAK Terasa waktu sore hari telah berlalu dan sudah terganti dengan gelap nya malam hari. Rehan yang baru menyadari bahwa diri nya sejak tadi pulang belum ganti pakaian dan mandi pun segera berkata kepada Karina.
"sayang, aku mandi dulu ya. gerah soal nya."
"jangan mandi sayang." ujar Karina yang saat itu memegang tangan Rehan yang akan beranjak keluar kamar Karina.
"mengapa tak boleh mandi sayang???"
"di lap saja sayang, ini sudah malam dan tak baik kalau kamu mandi malam-malam begini. nanti kamu masuk angin dan kena angin duduk sayang."
"benarkah??? kata siapa???" tanya Rehan tak percaya.
"tetangga kampung ku ada yang meninggal karena terkena angin duduk."
"penyebab nya???" tanya Rehan lagi penasaran.
"karena keseringan mandi malam. tapi kalau kamu mau memperpendek umur, silahkan saja." ujar Karina bercanda menakuti Rehan.
Rehan yang terpedaya ucapan Karina itu pun berkata,
"wah kalau memperpendek umur aku tidak mau, apalagi aku belum pernah menikah."
"maka nya jangan mandi! di lap saja badan nya pakai air hangat." ujar Karina lagi tegas, selayak nya seorang istri terhadap suami nya yang bandel.
"iya baiklah sayang." ujar Rehan menurut. ketika ia akan pergi, suara nada dering ponsel nya terdengar dan Karina bertanya,
"dari siapa sayang???" Rehan segera merogoh kantung celana nya dan melihat layar ponsel nya.
Yang menghubungi Rehan adalah nomor baru dan ia tak tahu itu siapa.
"entahlah, ini nomor baru sayang. tak ada nama nya dikontak ku."
"coba angkat sayang." Rehan awal nya Ragu, tetapi Karina tetap memaksa nya untuk mengangkat nya. akhir nya Rehan pun mengangkat panggilan tersebut,
__ADS_1
"halo??? ini siapa ya?"
"halo mas Rehan? ini Dewi, masih ingat kan???" ujar suara perempuan diponsel Rehan dan membuat Karina mendelik melihat Rehan yang menatap nya.
"iya masih ingat, sudah dulu ya Dewi. saya mau mandi dulu." ujar Rehan dan ponsel Rehan segera direbut oleh Karina dan Rehan pun tak mengira bahwa Karina akan merebut ponsel itu dari tangan nya.
"halo!? heh mbak! jangan sekali-kali kamu mendekati calon suami ku!" gertak Karina kepada Dewi.
"halo!? siapa ini??? ini mas Rehan bukan???" tanya Dewi bingung.
"ini calon istri nya! mau apa kamu menanyakan calon suami ku hah!?" bentak Karina marah dan membuat Dewi segera menyadari nya.
"oh maaf mbak, saya pikir mas Rehan sudah menceritakan siapa saya kepada mbak ini."
"sudah tak perlu basa-basi! jangan sekali-kali lagi kamu menghubungi calon suami ku!" Karina segera mematikan panggilan tersebut dan wajah marah nya terlihat menyeramkan bagi Rehan.
Rehan yang sejak tadi hanya diam tak berkata apa-apa pun segera ditanya oleh Karina.
"nih ponsel mu! awas ya kalau dia mencoba menghubungi mu lagi! aku adukan kepada ibu mu!"
"sudah tak perlu banyak alasan sayang! sana kamu ganti baju dan jangan mandi! dilap saja badan nya!" tegas Karina dan membuat Rehan hanya pasrah saja sembari pergi keluar kamar.
Karina segera merebahkan badan nya dan menutup wajah nya dengan bantal. ia menangis karena tak tahan akan kecemburuan dan kekesalan nya terhadap Rehan. disamping itu Rehan sudah masuk ke dalam kamar nya untuk berganti pakaian dan setelah itu ke kamar mandi. jam dinding baru saja menunjukan pukul delapan malam hari dan diruangan kantor itu, terlihat ibu Susi sedang berbincang dengan anak buah nya.
"jadi bagaimana menurut penelitian kalian terhadap jejak Rangga???" tanya ibu Susi dan anak buah nya yang berjumlah tiga orang dalam bidang Intelektual dan Intelijen pun menjawab nya satu persatu.
"menurut saya, kepergian Rangga memang sudah direncanakan sebelum nya." ujar pak Suryo.
"benar apa yang dikatakan pak Suryo ini, kami menemukan keganjalan ketika mencari jejak Rangga melalui GPS." ujar pak Ahmad. lalu teman nya satu lagi menimpali.
"seperti nya rencana pencarian Rangga melalui GPS sudah diketahui oleh anak itu." ujar pak Yohan.
Ibu Susi menatap wajah anak buah nya satu persatu, lalu ia bertanya lagi.
__ADS_1
"coba salah satu dari kalian berikan alasan yang jelas kepada saya." lalu pak Suryo dan pak Yohan pun menyuruh pak Ahmad untuk melakukan nya.
"menurut penelitian yang sudah kami cari melalui komputer ini, GPS ponsel Rangga terakhir berada di london. kami sudah menemukan tempat dimana ia pergi, tetapi tiba-tiba tempat nya berubah ke jerman. apa secepat itu seorang manusia pergi ke antar negara dalam hitungan detik??? padahal lewat pesawat saja sudah terhitung sebentar walaupun harus menunggu berjam-jam." ibu Susi yang mendengar nya manggut-manggut.
Pak Suryo dan pak Yohan pun menatap ibu Susi yang seakan sudah paham apa yang dikatakan pak Ahmad itu.
"coba teruskan lagi ucapan mu pak Ahmad." ujar ibu Susi dan pak Ahmad pun mengangguk,
"setelah kami bertiga rundingkan, seperti nya Rangga telah melakukan manipulasi GPS nya dengan menyuruh orang lain atau ia mengirim ponsel nya ke jerman melalui paket. atau mungkin ia menyuruh hacker luar negeri untuk memanipulasi keadaan nya dimana sekarang."
"kalau semua nya salah bagaimana???" tanya ibu Susi dan pak Yohan menjawab nya.
"tak ada cara lain lagi selain memaksa orang terdekat nya untuk angkat bicara." lalu pak Suryo berkata,
"apa perlu kita yang memaksa mereka agar mereka mau angkat bicara? padahal para polisi yang mendatangi tempat kerja Rangga sebelum nya, bahkan sampai ke tempat tinggal dan rumah pacar nya pun mereka tak menemukan bukti yang kuat."
"benar juga." ujar pak Ahmad membenarkan ucapan pak Suryo.
Ibu Susi yang sejak tadi pusing memikirkan permasalahan itu pun berkata,
"sudah begini saja. daripada kita terlalu banyak berargumen, lebih baik kita seret orang terdekat nya Rangga untuk kita interogasi disini. saya yakin, pasti ada orang terdekat nya yang memberitahukan kepada Rangga bahwa diri nya saat ini telah menjadi buronan polisi."
"masuk akal juga apa yang ibu Susi katakan." ujar pak Ahmad dan pak Suryo pun menambahkan.
"jika begitu, berarti Rencana A dan B kita sudah gagal dan Rencana C kita adalah memaksa orang terdekat Rangga agar mengaku. begitukah bu???"
"ya benar. memang kita harus pakai rencana C, jika rencana C gagal lagi. kita pakai cara terakhir, yaitu cari keluarga nya Rangga."
"baiklah kalau begitu bu Susi, besok akan kami lakukan." ujar pak Yohan dan dua teman nya pun mengiyakan. Lalu ibu Susi pun berkata,
"baiklah kalau begitu, pembicaraan ini kita tutup sampai disini dulu. kita lanjut besok setelah orang terdekat Rangga berhasil kita seret kemari."
"baik ibu." ujar ketiga anak buah ibu Susi dan kini mereka pun bergegas siap-siap untuk pulang ke rumah nya masing-masing.
__ADS_1
...*...
...* *...