
ANAK Buah ibu Susi yang menjemput Rangga di luar negeri yang berada di inggris itu sebentar lagi sampai dan masih dalam perjalanan pesawat terbang. Rangga saat itu masih mendekam di dalam sel tahanan dan ia beberapa kali berteriak meminta dilepaskan kepada polisi penjaga yang menjaga diluar sel tahanan tersebut.
Teriakan Rangga meminta belas kasihan itu tetap tak dihiraukan oleh polisi penjaga itu dan pada akhir nya Rangga pun terdiam ketika polisi tadi menodongkan senjata kepada Rangga seraya membentak nya dengan bahasa inggris dalam artian,
"berisik sialan!! pistol ini bisa membungkam mulut mu tahu!!" bentakan tersebut membuat Rangga menjadi semakin ketakutan. pada saat itu rasa penyesalan nya yang telah melakukan pelecehan seksual terhadap para wanita yang ia gagahi itu mulai muncul. ia merasa sangat menyesali perbuatan nya itu, terlebih lagi jika ia mengingat ibu nya yang sudah meninggal itu.
"mengapa baru sekarang aku merasakan penyesalan itu!? disaat aku sudah tertangkap dan hampir mati, tiba-tiba saja perasaan bersalah itu menghantui pikiran ku ini! lama-lama aku bisa gila dibuat nya!" ujar Rangga dalam hati nya. ia yang kini terdiam sembari melamun itu, tiba-tiba tersenyum tanpa sebab dan kemudian ia menunduk sedih.
Suara tawa Rangga terdengar oleh polisi penjaga itu dan ia berkata kepada teman nya dengan memakai bahasa inggris dalam artian,
"lihatlah pria itu. seperti nya dia sudah gila!"
"biarkan saja! bisa saja orang itu sedang berpura-pura gila!"
"ya bisa jadi." ujar polisi penjaga itu dan mereka segera fokus berjaga nya lagi dan sudah tak memikirkan nasib Rangga lagi.
Disamping itu, di indonesia malam hari telah tiba. Rehan yang sudah pulang bekerja dan sudah selesai mandi juga saat itu sedang berada di dalam kamar nya. ia duduk sedang duduk termenung di sofa kamar nya, ternyata ia sedang membatin memikirkan Karina.
"baru saja pergi belum sehari Karina dari rumah ini, mengapa aku sangat merasa kehilangan sekali???
mengapa tak ada Karina di rumah ini, perasaan ku menjadi sangat kesepian dan perasaan ku tak tentu arah begini? seperti nya aku memang ditakdirkan tak boleh berjauhan dengan Karina. bisa mati dicekam rindu kalau aku terus-terusan begini." lalu Rehan membatin lagi,
"daripada aku terlalu memikirkan Karina, lebih baik aku menghubungi Doni untuk menanyakan tentang obrolan nya tadi dengan Dewi ketika dikantin." lalu Rehan segera menghubungi Doni dan pada saat itu baru saja selesai mandi.
Suara nada ponsel Doni berdering dan Doni segera mengangkat nya.
__ADS_1
"halo bos ada apa???"
"kau sedang apa Don???" tanya Rehan dan Doni menjawab nya.
"aku baru saja selesai mandi bos, ada apa memang nya???"
"tak ada apa-apa, aku hanya ingin mengobrol dengan mu saja soal Dewi itu."
"oh soal itu, kebetulan aku pun sebenar nya nanti berniat akan menghubungi bos tentang obrolan ku tadi dengan Dewi."
"oh begitu, coba kau ceritakan tentang obrolan mu tadi dengan Dewi." ujar Rehan lagi semakin penasaran.
Lalu Doni pun mulai menceritakan nya ketika ia awal mendekati Dewi sampai ia menembak nya secara terang-terangan.
"jadi Dewi benar menerima mu? apa dia tak berkata untuk menunda pernyataan cinta mu itu???"
"wah selamat kalau begitu Don. aku jadi ikut senang mendengar nya."
"iya bos terima kasih atas bantuan nya."
"sama-sama Don, terus bagaimana soal wajah nya itu? apa kau bertanya soal kekurangan nya itu???"
"ya aku tadi bertanya soal itu dan awal nya Dewi sedikit marah kepada Lucy karena dia sudah membocorkan rahasia pribadi nya itu. tetapi aku meluruskan salah sangka nya itu bahwa niat Lucy baik dan Lucy mengatakan hal itu kepada ku agar aku bisa menerima kekurangan nya. Dewi yang mendengar ucapan ku itu akhir nya meredakan emosi nya dan ia lalu mendunduk sedih atas keluhan wajah nya itu."
"lalu setelah itu? apa yang kalian obrolkan lagi???" tanya Rehan semakin penasaran.
__ADS_1
"aku katakan kepada Dewi, bahwa aku akan menolong nya untuk membiayai pengobatan operasi kulit wajah nya itu. awal nya Dewi ragu tak percaya akan ucapan ku, tetapi ketika aku bilang bukan aku saja yang akan membantu nya dan bos Rehan pun akan ikut membantu juga. Dewi akhir nya percaya juga, apa dia mengira aku ini laki-laki tak beduit ya bos..???"
"hahaha, mungkin saja begitu. lain kali jika bekerja ke kantor bawa mobil sport mu itu, jangan naik taksi terus maka nya.
"wah kalau setiap hari aku bawa mobil ku, bisa tekor biaya bayar parkir nya bos."
"lah apa beda nya dengan baik taksi? sama-sama mengeluarkan uang kan???"
"memang bos, tapi biaya bayar parkir lebih mahal menurut ku."
"ah kau ini. terserah kau sajalah, yang jelas sekarang Dewi sudah menjadi milik mu dan sudah tak menganggu kehidupan ku lagi. nanti jika Dewi berkata ingin segera melakukan operasi kulit wajah nya, katakan saja padaku ya Don."
"siap bos dengan senang hati." ujar Doni, lalu ia bertanya kepada Rehan.
"ngomong-ngomong, mbak Karina kemana bos? sejak tadi aku tak mendengar suara nya???"
"Karina sedang pergi ke rumah paman nya. ia kata nya ingin menginap disana karena sudah lama tak berkumpul bersama keluarga nya lagi."
"oh begitu, pantas bos Rehan tumben menghubungi ku malam-malam begini. tak tahu nya karena sedang kesepian toh.'' ujar Doni dan Rehan berkata lagi.
"ya begitulah, baru kali ini aku merasakan kehilangan terhadap seorang perempuan. padahal ketika aku masih berpacaran dengan Nikita, tak ada perasaan kesepian seperti ini. malah ketika aku memutuskan hubungan ku dengan nya, tak ada lagi penyesalan atas keputusan ku itu."
"hmm berarti bos Doni sekarang sudah menemukan perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping hidup bos Rehan. semoga bos Rehan dan mbak Karina selalu bersama dalam suka dan duka."
"amiiin Don, kau juga dengan Dewi semoga hubungan kaliab berlanjut sampai ke jenjang pernikahan ya."
__ADS_1
"amiin bos terima kasih banyak." ujar Doni dan kini mereka lanjut mengobrol lagi dengan membahas masalah pekerjaan.
Di dalam rumah paman Wahyu, para pengisi rumah semua nya sudah tertidur di dalam kamar nya masing-masing. Karina tidur sekamar bersama ibu nya, sudah lama ia tak tidur bersama ibu nya lagi semenjak Karina pergi ke kota. Karina dan ibu nya masih belum tertidur, karena pada saat itu mereka sedang terbaring dan mengobrol membahas hubungan Karina dan Rehan.