DEMI CINTA

DEMI CINTA
Berlatih


__ADS_3

Hari ini Maria terpasang wajah bahagia, ia tersenyum saat ia terbangun dari tidurnya,ia bersemangat bangun malam untuk masak dan menyiapkan sarapan keluarganya,ia memandikan adik-adiknya.


"Kakak berangkat sekolah dulu ya,"ucap Maria pada Yunus.


"Nih buat kamu,"ucap ibu Maria memberikan uang 50Rb kepada Maria.


"Inii,"ucap Maria terhenti


"Buat daftar sekolah,kamu lakukan sendiri usahakan bisa masuk,"perintah ibu Maria.


"Baik bu,"Maria mengangguk dan berpamitan pergi ke sekolah.


"Apa cukup uang segini,aku coba tanya ke wali kelas aja ,"batinMaria


Didepan jalan sudah ada Atikah berdiri menunggu Maria.


"Tumben aku nunggu tidak lama?"ucap Atikah.


"Hehhe aku lanjut sekolah,"ucap Maria tersenyum pada Atikah.


"Lalu ibumu sudah mendaftar sekarang?"tanya Atikah.


"Hmm enggak ibu ke kebun ,"ucap Maria.


"Terus daftarnya bagaimana kamu?"tanya Atikah.


"Liat nanti saja,pasti ada jalan,"ucap Maria.


Sampai di gerbang sekolah Maria melihat Nana disana.


"Apa kalian gak pacaran?"tanya Atikah.


"Tidak,"acuh Maria.


"Tapi lihat dia seperti sedang menunggu kekasihnya,"ucap Atikah kembali.


"Ya mungkin lagi menunggu orang lain,"jawab Maria.


"Hai girls,"sapa Nana.


"Sedang menunggu siapa?"tanya Maria.


"Sedang menunggu cewek galak,"bisik Nana pada Maria.


Maria terkejut dan menginjak kaki Nana.


"Awww tuhkan galaknya kambuh,"ucap Nana.


"Sakit?"tanya Maria.


"Iya.."Jawab Nana manja.


"Bagus kalo begitu tidak aku injak lagi,"ucap Maria pergi duluan.


"Mariaaaa kenapa galak begitu siih,"ucap Nana mengikuti Maria.


"Udah tahu galak masih ngikutin mulu,"cetus Maria.


"Tapi aku suka jahilin kamu,"ucap Nana tersenyum.


Maria berhenti dan mengangkat kakinya kembali.


"Eeett jangan jangan,aku bercanda galak amat sih nanti cantiknya ilang,"ucap Nana memohon.


"Dasar gila,"ucap Maria pergi ke kelasnya.


Maria kini sedang duduk menghadap wali kelasnya.


"Bagaimana pak, saya bisa masuk gak ya,mendaftar sendiri?"tanya Maria.


"Emang orangtuamu kemana?"tanya pak Nasum.


"Mereka sibuk di kebun pak, kebunnya jauh jadi kalo pulang untuk hanya mendaftarkan saya mereka gak sempet,"jelas Maria.


"Memang mereka berkebun bukan untuk pendidikan anaknya ya?"ucap pak Nasum kembali.


"Pak tolong yaa,"Maria memohon.


Pak Nasum berpikir sejenak hingga ia berbicara kembali.


"Kamu akan bapak daftarkan masuk ke sekolah lanjut tapi dengan satu syarat,"ucap pak Nasum.


"Apa itu pak?"tanya Maria bahagia.


"Kamu ikut perlombaan voli putri,"ucap pak Nasum.


"Baik pak saya setuju,"jawab Maria cepat.


"Baiklah kamu harus persiapkan kemampuanmu dua hari kedepan karna tiga hari lagi perlombaan di mulai,"tegas pak Nasum.


Maria mengangguk tersenyum ia pamit keluar dari ruangan wali kelasnya.


Wali kelas yang melihatnya ia tersenyum.


"Sangat jarang anak yang berjuang ingin melanjutkan sekolahnya, sungguh beruntung orangtua Maria,"gumam pak Nasum.


Saat istirahat Maria berada di tengah lapangan voli sedang bermain dan berlatih,ia tampak bersemangat di pandu oleh guru olahraganya.


Nana yang menunggu kedatangan Maria di belakang sekolah, tapi Maria tidak kunjung datang,Nana mendengar sorakan teman-temanya yang nyaring.


Nana melihat ketiga teman-temanya sedang menonton acara main voli antar kelasnya.


"Sini bro ada pemain baru yang cool abis keren bro,"ucap Iwan kepada Nana


"Siapa?"tanya Nana malas.


Nana tak bergegas melihatnya ia malah terpikirkan gadis yang tidak ia temui tadi.


Nana mendengar teriakan nama Maria di kerumunan teman-temanya.


"Sepertinya namanya Maria bro,"teriak Iwan pada Nana.


Nana terkejut dan melihat ke arah para pemain,ternyata benar Maria sedang melakukan servicball disana hingga membuat Nana terkejut dan akhirnya ia tersenyum.


Maria yang rambutnya di ikat kuncir kuda,wajahnya dan matanya yang mengkerut karna trik matahari , ia tampak cerah bersinar.


"Dia terlihat cantik dan keren,"batin Nana tersenyum.


"Kenapa bro?"tanyaIwan


"Dia teman gw"ucap Nana tersenyum.


"Astaga dia cewek yang lo ceritain itu Na,gila tajam juga selera loh,"ucap Iwan.


Di lain tempat yang tak jauh dari Nana dan temanya ada sorot mata tajam, melihat ke arah Nana dan temannya tadi,ia mendengar ucapan Nana dan tampak kesal.

__ADS_1


Maria yang sedang bermain dengan baik,ia bahkan melakukan dengan kerja tim walau baru kali ini ia akan mengikuti perlombaan, wali kelasnya tau bahwa Maria menyukai permainan itu bahkan setiap olahraga Maria selalu memainkan Servisball sendiri.


Sejak saat itu pak Nasum mencari cara agar ia selalu ikut perlombaan tapi Maria selalu menolaknya.


Maria kini terduduk di bawah pohon ia berteduh karna permainnan sudah istirahat dan di lanjutkan nanti sore.


"Nih,"ucap Nana memberikan minuman pada Maria.


Maria mendongakan kepalanya ia melihat Nana yang sedang berdiri memberikanya minum.


"Tidak mau nanti di kira ciuman lagi,"ucap Maria.


"Hahaha lihatlah itu masih di segel," ucap Nana tersenyum.


Maria melihatnya dan mengambil minumanya.


Nana duduk di samping Maria,ia melihat Maria yang berkeringat.


"Nih usap keringat baumu itu,"ucap Nana memberikan sapu tanganya.


"Hah apa sebau itu tubuhku?"tanya Maria mengendus tubuhnya malu.


"Hahaha tidak aku hanya bercanda kenapa galak begitu sih?"ucap Nana.


"Huh dasar kamu ini,"ucap Maria.


Maria meminum minumanya dan juga mengusap keringatnya.


Nana melihat Maria yang sedang minum kelelahan.


"Pantas aku tadi ke belakang kamu tidak ada?"ucap Nana.


"Uuuh iya aku lupa kamu tidak marahkan?"ucap Maria.


"Aku sempat marah tapi apa aku bisa marah sama cewek galak ?"ucap Nana tersenyum.


"Huh udah tau galak malah mau bertemann,"cetus Maria.


"Kenapa ikut main?"tanya Nana.


"Aku di suruh Wali kelasku," Jawab Maria.


"Tpi aku tidak pernah melihatmu berlatih?"tanya Nana.


"Dari hari ini aku ikut berlatih,"jawab Maria.


"Kau harus datang tepat jam dua nanti," ucap Nana.


"Aku usahakan,"ucap Maria.


Nana bercanda dengan Maria di bawah pohon rindang,disana lebih banyak Nana yang tersenyum ia tampak senang berbicara dengan Maria.


Maria sudah kembali dari sekolah ia bergegas mencuci sekaligus masak nasi bersamaan ia mencuci di rumah.


"Sedang apa ?"tanya Amran.


"Jam dua nanti aku ada latihan voli ka jadi aku menyelesaikanya secepatnya,"jawab Maria.


"Baiklah kau nyuci di rumah saja nanti biar kakak ngambil air lagi,"ucap Amran.


Maria mencoba menyelesaikan semuanya dengan cepat.


Maria bersiap untuk pergi ke sekolah kembali untuk berlatih team.


"Mau kemana kamu?"tanya ibu Maria.


"Kamu tuh cukup sekolah saja belajar yang bener pake acara lomba segala, masak nyuci kamu ini kaya anak orang kaya saja so ikut-ikutan perlombaan,"teriak ibu Maria.


"Tapi bu Maria sudah masak dan nyuci juga sudah membereskan rumah,"ucap Maria.


"Sudah berani menjawab kamu ya,"teriak ibu Maria.


"Sudahlah bu daripada Maria harus main,"ucap Amran datang dari arah belakang Maria.


"Huh sana pergilah awas kalo pulang sore,"ucap ibu Maria cetus.


"Makasih kak,"bisik Maria pada Kakaknya.


Nana yang sudah di lapangan berlatih Kini ia sedang terduduk, ia berpikir dengan dalam sampai menopang dagunya dengan tanganya.


"Sudah ku duga dia tidak mungkin datangkan,"batin Nana.


Saat Nana sedang bergelut dengan pikiranya,Maria sampai dengan nafas yang tersenggal-senggal.


"Kenapa jam segini baru datang?"teriak pelatih.


"Maaf pak saya bertugas dulu,"ucap Maria ia sampai jam tiga sore.


Nana yang mendengar suara Maria, ia berdiri menghampiri Maria yang sedang di ceramahi.


"Jika masih disini akan tidak sempat berlatih nanti pak,"ucap Nana dari arah belakang pelatih.


"Huh cepatlah gabung,"ucap pelatih.


Maria dan team berlomba dengan team pria yang ada Nana juga.


Mereka berlatih dengan gembira banyak tertawa dan teriak,saat bermain,begitu pula Maria dan Nana.


Nana tampak bersemangat melihat tawa Maria.


"Kau bersemangat sekali bro,"ucap Iwan.


"Hmmm lanjutkan mainya,"ucap Nana malas.


Satu jam berlatih dan bermain, kini mereka istirahat duduk di bawah pohon berteduh.


Nana duduk dengan Maria,ia tampak tersenyum senang melihat Maria yang sudah mau berbaur dengan yang lain dan lebih dekat denganya.


"Apa cape?"tanya Nana.


"Lebih cape jawab nanti," cetus Maria.


Karna Maria tomboy ia memang selalu tegas dalam bicara.


"Iyaaa gak tanya lagi,apa mau minum?"ucap Nana tersenyum ia menggoda Maria.


"Kamu ini ada banyak mata menyeramkan melihatku jika kamu ngasih minum lagi padaku,"ucap Maria.


"Siapa mereka biar aku usir,"ucap Nana tersenyum melihat Maria.


"Dasar bodoh,ada banyak yang mengejarmu malah mau berteman denganku,"cetus Maria.


"Karena kamu keren,"bisik Nana.


"Hahahaha,kamu lucu Nana,"ucap Maria tertawa.

__ADS_1


Nana tersenyum bahagia ketika Maria tertawa dan menyebut namanya dengan benar,selama ini Maria tidak pernah menyebut namanya.


Nana mencubit pipi Maria gemas, membuat Maria terkejut dan diam.


Nana masih tersenyum pada Maria, ia melihat pipi Maria yang memerah bekas cubitanya karna kulitnya putih.


"Sakit tau,"teriak Maria menepis tangan Nana ia memajukan bibirnya.


"Hahahaaha pipimu merah sekali seperti habis di gebukin,"ucap Nana tertwa.


Maria teringat sesuatu saat mendengar di gebukin,ia berdiri.


"Aku pulang dulu ya masih ada tugas rumah yang belum aku kerjakan ni,"ucap Maria.


"Tugas apa bukanya sudah tidak belajar lagi?"tanya Nana heran.


"Tugasku banyak di rumah,baiklah latihanya sudah selesaikan aku pulang ya by Nana,"teriak Maria melambaikan tanganya pada Nana.


Nana yang melihat Maria yang berlari pergi,tapi kali ini Nana tersenyum bahagia seperti ada ucapan Maria yang membuatnya senang hari ini.


"Dia dua kali memanggil namaku juga berpamitan padaku,"gumam Nana.


"Benarkah sungguh wanita yang langka,"ucap Iwan tiba-tiba.


"Sialan lu dia keren,"ucap Nana.


"Seleramu unik bro,dari banyaknya gadis cantik yang mengejarmu kamu malah mendekati gadis tomboy dan juga miskin,"ucap Iwan.


"Apa maksudmu,tidak ada kata memilih dalam berteman,ingat lu juga bukan orang yang banyak duit,"tegas Nana ia meninggalkan Iwan dengan kesal.


"Dia beneran suka gadis itu,"batin Iwan.


Maria berlari untuk sampai ke rumahnya tepat waktu.


Maria melihat ibunya sedang marah-marah disana ia kesal dengan Maria yang tidak masak lauk untuk makan malam yang hanya masak nasi saja.


Jadi ibu Maria yang harus memasaknya kali ini.


"Nah kenapa masih pulang hah, sebaiknya jangan pulang saja ,"teriak ibu Maria.


Maria tidak menjawab ia bergegas ke dapur dan melanjutkan masaknya.


Saat Maria mencoba mengambil alih masakan ibunya.


Ibu Maria menyenggol tubuh Maria hingga Maria tersungkur dan mengenai panci berisi air panas tangan Maria tercelup ke air panci.


"Uuuuh,"ringis Maria memegang tanganya ia bergegas mencelupkan tanganya ke bak air dingin.


"Kamu bodoh hah itu air jadi kotor kalo tanganmu di masukan ke sana, kamu harus mengganti airnya dengan yang baru,"teriak ibu Maria.


Maria mengangguk,ia merendam tanganya yang memerah karna terkena air mendidih tadi.


"Sedang apa Ia?"tanya Amran.


"Maaf ya kak airnya jadi kotor nih,"ucap Maria.


"Kenapa?"tanya Amran.


"Tangan Maria tadi kena panci air panas kak jadi Maria reflek memasukanya ke bak air,"ucap Maria sendu.


"Tidak apa-apa,nanti kakak ganti airnya kakak mau ke sumur,"ucap Amran.


Maria mengangguk ia melihat tanganya yang sudah tidak terlalu panas,hanya tanganya memerah.


Maria membungkus tanganya dengan sapu tangan yang Nana berikan saat itu.


"Aku lupa mengembalikanya,aku pakai saja dulu biar adem tanganku,"ucap Maria.


Makan malam semua makan.


"Tanganmu kenapa?"tanya ayah Maria.


"Kena cipratan air panas tadi saat mengangkat panci,"jawab Maria.


"Apa melepuh?"tanya ayahnya lagi.


"Tidak hanya merah saja pak,"ucap Maria.


"Huh manja,"cetus ibu Maria.


Maria yang mendengar itu, Ia terdiam dan melanjutkan makannya kembali.


Pagi ini Maria di sibukan dengan, masak yang banyak karna di kebun ada yang bekerja karna sedang memanen padi di kebun orang tuanya.


Maria bangun dari pagi,hingga semua selesai ,Maria bersiap untuk ke sekolah.


"Bu mana uang jajanku?"tanya Amran.


Ibu Maria memberikanya pada Amran 20 ribu.


"Bu saya, "ucap Maria


"Kemarinkan lima ribu udah itu buat tiga hari,"bentak ibu Maria.


Maria hanya diam dan ia berpamitan pada ibunya,di saat perjalanan Amran menunggu Maria.


"Nih,"ucap Amran memberikan uang lima ribu pada Maria.


"Waaaahterimakasih kak,"teriak Maria.


"Suuuutt jangan keras-keras nanti ibu dengar,"bisik Amran.


"Uuum makasih kak aku sayang kakak,"ucap Maria memeluk dan mencium punggung tangan kakaknya.


Maria bergegas ke sekolah,dengan tangan yang di balut,juga hati bahagia karna kakaknya.


"Kamu gila ya,"tanya Anikah.


"Aku senang punya kakaku,"ucap Maria tersenyum bahagia.


"Bukanya senang karna uangnya?"ucap Atikah.


"Uang tidak terlalu penting yang terpenting kakaku peduli padaku,"ucap Maria senang.


"Aku juga perduli padamu nih Uang jajanku untukmu,tanganmu kenapa?"ucap Atikah memberikan uang lima ribu.


"Tidak perlu kau jadi sahabatku dan selalu ada untuku itu sudah sangat cukup,ini terkena air mendidih kemarin,"ucap Maria.


"Kenapa seceroboh itu kamu ini,"teriak Atikah cemas.


"Tidak apa tidak melepuh kok, sudah aku balut dengan kain,"ucap Maria.


"Apa sudah pakai salep?"tanya Atikah.


"Tidak perlu ini tidak apa-apa,"teriak Maria.

__ADS_1


Kini Maria berjalan kesekolah dengan Atikàh yang cuek bebek ia menggelengkan kepalanya dengan tingkah sahabatnya Maria.


Maria tampak berseri hari ini ia lebih banyak tertawa sepanjang perjalanan kesekolah.


__ADS_2