Deviasi

Deviasi
#part 10


__ADS_3

Kenzo terus menggandeng tangan Reina selama berjalan menuju ruangan CEO.


Begitu juga dengan orang2 yang terus memandang penuh tanya karena yang mereka tahu, CEO mereka adalah pria anti perempuan.


Mereka pun sampai dilantai teratas gedung, Kenzo pun beranjak ke kursi pimpinan, sementara Reina memilih duduk di sofa tamu yang tersedia.


Akira memasuki ruangan sambil membawa setumpuk map ke arah meja Kenzo.


"ini laporan perkembangan perusahaan sebulan terakhir Tuan.." lapor Akira


"apa aku harus menunggu Tuanmu bekerja?" tanya Reina melihat Kenzo yang mulai mengambil map dan menekuninya.


"iya Nona.." angguk Akira tersenyum


"lalu apa yang harus kulakukan disini?"


"lihat aku bekerja!" tegas Kenzo


Reina membulatkan matanya dan mengerucutkan bibirnya, membayangkan seharian ini hanya duduk saja.


"aku pasti sangat bosan Tuan Besar.." geleng Reina


Bahkan ponselku hilang kemana tak tahu rimbanya, batin Reina.


"apa aku boleh berjalan2 berkeliling disini?"


"tidak!" geleng Kenzo tanpa mengalihkan perhatian pada map dibawahnya.


Reina menghembuskan napasnya, menyandarkan tubuhnya duduk bersedekap di sofa.


Ditatapnya Akira yang juga menatapnya, dan Akira menggelengkan kepalanya pelan, memberi kode untuk Reina supaya diam dan duduk manis.


"isshhh menyebalkan!" gerutu Reina


"mungkin anda ingin menonton televisi?" tawar Akira, kemudian menyalakan tv besar yang menempel didinding berhadapan dengan Reina.


Suara ketukan terdengar di pintu, dan Akira pun beranjak untuk membukanya.


Reina mengalihkan perhatiannya dari tv, dan betapa terkejutnya melihat Sinta masuk ke ruangan membawa baki minuman.


"silahkan Tuan," ucap Sinta pelan


Kenzo duduk bersandar, menatap pemandangan dihadapannya.Reina dan Sinta sama2 tertegun.


Terutama Sinta yang berwajah pucat menatap Reina yang duduk di sofa.


Reina yang sekarang benar2 berubah.Reina yang sekarang menjelma menjadi wanita kelas atas dengan segala kemewahan.


Rasa iri terselip dalam hati Sinta, melihat semua yang melekat pada tubuh Reina.Gaun yang mahal, tas branded, sepatu cantik, dan juga perhiasan berlian yang menghias leher dan telinga Reina.


Bekerja 10 tahun disini pun masih belum bisa untuk membelinya, batin Sinta.


"apa benar nama anda Sinta?" tanya Akira


"iya Tuan, saya Sinta.." angguk Sinta


"saya mendengar anda akan segera menikah?"


"i-iya Tuan..." angguk Sinta lagi menunduk, tidak berani membalas tatapan Reina.


Rasa bersalah menyerbu dirinya.


"selamat Nona Sinta untuk pernikahannya..."


"terimakasih Tuan..." angguk Sinta lagi


Reina menatap nanar Sinta yang terus saja mengangguk2kan kepalanya.


"selamat Nona Sinta, semoga bahagia dengan buah hatinya!" kata Reina yang langsung membuat Sinta mendongak kaget menatap Reina.


"maaf?" Sinta menelan saliva nya.


"aku menunggu undangannya, dan aku pastikan akan datang ke resepsi pernikahanmu yang pasti sangat mewah....iya' kan sayang?"


Reina tersenyum, memalingkan wajahnya ke arah Kenzo yang memandang mereka.


"iya sayang, kita akan datang," angguk Kenzo


Sinta menelan saliva nya lagi dengan takut.

__ADS_1


"terimakasih Tuan dan No-Nona..saya sangat menantikan kehadiran anda berdua.." getir Sinta


"kamu boleh pergi," ucap Reina dengan senyuman, sungguh puas dirinya menatap Sinta yang berwajah pucat sambil menganggukkan kepalanya.


"apa kamu senang sayang?" tanya Kenzo menatap Reina yang duduk bersandar disofa menyilangkan kakinya.


"sungguh senang sekali sayangku.." kata Reina tersenyum manis dan melirik tajam Kenzo.


"kemarilah,"


Kenzo menepuk pahanya, meminta Reina untuk duduk dipangkuannya.Reina menurut.


"saya permisi Tuan.." pamit Akira dan keluar ruangan.


Reina menimbang sejenak saat sampai di dekat Kenzo, bisa saja seseorang masuk dan pasti sangat memalukan jika melihatnya duduk dipangkuan Kenzo, yang sudah pasti bukan hanya duduk berpangkuan.


"kamu puas kan bisa balas dendam?" bisik Kenzo diceruk leher Reina saat berhasil menarik Reina hingga duduk dipangkuannya.


"tidak juga.." geleng Reina geli saat Kenzo menciumi lehernya.


Kenzo mengalihkan ciumannya ke bibir Reina, lembut, dan berubah panas saat Reina membuka bibirnya.


Mereka berciuman lama,hingga tak sadar saat seseorang mengetuk pintu.


"maafkan saya Tuan,"


Reina gelagapan mendengar suara seseorang, buru2 ia berdiri merapikan gaunnya.


Kenzo tersenyum melihat Reina sibuk merapikan diri dengan pipi yang memerah.


"apa itu laporan accounting yang asistenku pinta?"


"iya Tuan, silahkan.."


Reina berhenti merapikan gaunnya mendengar suara pria itu dan berbalik.


Reina membulatkan matanya, dan benar saja, Dimas sedang berdiri meletakkan map dimeja Kenzo.


Pipi Reina terasa panas, karena ketahuan sedang bercumbu, apalagi Dimas lah yang memergokinya.


"kamu boleh pergi.." titah Kenzo


"bukan kamu sayang.." ucap Kenzo menarik tangan Reina saat Reina hendak menjauh dari mejanya.


"tapi dia yang akan pergi keluar ruangan ini bukan begitu Dimas?"


"iya Tuan..permisi.." angguk Dimas menunduk hormat dan bergegas pergi.


"sepertinya ini bukan suatu kebetulan.." ucap Reina menatap tajam Kenzo.


"duduklah, aku harus menyelesaikan ini,"


Reina masih menatap Kenzo saat sudah kembali menuju sofa tempat duduknya.


Akira masuk ke dalam ruangan, dan mengernyit saat Reina memandang tajam ke arahnya.


"pasti ini akal2an si muka datar," batin Reina gemas


*****


Kenzo menghentikan pekerjaannya saat melihat arlojinya menunjuk waktu makan siang.


"sudah waktunya makan siang Tuan.." ucap Akira


Kenzo mengangguk dan berdiri, mengancingkan jasnya sebelum berjalan mendekati Reina yang sudah terkantuk2 duduk bersandar di sofa.


"mau makan apa Nona muda?" tanya Kenzo menarik Reina berdiri


"aku ingin pulang..." ucap Reina menguap.


Kenzo tertawa, membuat Akira terheran.Sesuatu yang langka terjadi dihadapannya.Seorang Kenzo tertawa!


"bagaimana kalau kita makan dikantin perusahaan saja?" tawar Kenzo membuat kantuk Reina langsung hilang seketika.


apa lagi yang kau rencanakan pria gila! umpat Reina dalam hati curiga.


"Akira, tolong siapkan meja khusus untuk Nona muda," titah Kenzo


"baik Tuan.."

__ADS_1


Kenzo pun kembali menggandeng Reina, mengikuti Akira keluar ruangan.


Kembali banyak mata memandang ke arah Kenzo dan Reina yang berjalan bersisian sambil bergandengan tangan.


Kantin tampak penuh dengan para karyawan yang sedang makan siang.


Suasana yang riuh langsung hening seketika saat Kenzo dan Reina masuk ke dalam kantin diikuti para pengawal.


Akira menunjuk salah satu meja di sudut yang telah dikosongkan untuk Kenzo.


"terimakasih," senyum Reina saat Akira menarik salahsatu kursi untuk duduknya.


Dan sudah diduga Reina sebelumnya, Dimas dan Sinta menyusul tak lama kemudian, duduk di meja tak jauh dari Reina.


Ingin rasanya kucakar wajah pria ini! dumal Reina dalam hati melihat Kenzo yang menyeringai, menyadari kekesalan Reina yang melihat kebersamaan Dimas dan Sinta.


"aku mau ke toilet," ucap Reina


Melihat Reina yang berdiri dan berjalan keluar kantin, membuat para pengawal dengan sigap mengikuti.


"Lihat Akira, sungguh lucu gadis liar itu,"


Kenzo tersenyum melihat Reina yang melotot marah ke arah Kenzo saat diikuti para pengawal.


Anda tampak bahagia sekali Tuan, seperti bukan diri Anda yang selama ini, batin Akira.


"apa kalian juga mau masuk ke toilet perempuan?!"


omel Reina melihat para pengawal tak berhenti mengikutinya.


"keselamatan Anda adalah tugas kami,"


Ingin rasanya Reina berteriak, hidupnya jadi seperti tahanan yang selalu di awasi.


Reina menutup pintu dengan membantingnya marah.


*****


"ternyata selama ini aku salah menilaimu,"


Reina yang hendak menuju kantin kembali menghentikan langkahnya.


Dimas bersandar di dinding sambil bersedekap, menatap Reina dari atas ke bawah dengan sorot tak senonoh.


"ternyata kamu bukan gadis baik2!" sarkas Dimas lagi.


"lalu menurutmu apa Sinta lebih baik dariku?"


balas Reina berkacak pinggang menantang Dimas.


"setidaknya Sinta bukan pelacur!" umpat Dimas


"aku baru tahu, wanita yang mau dihamili kekasih sahabatnya bukan pelacur,.." maki Reina


"apa kau bilang?!"


" aku tidak suka mengulangi kata2ku,"


"dengar Reina, meskipun saat ini kau menjadi pelacur kelas atas bukan berarti kau boleh menghina calon istri.."


PLAK! Reina menampar Dimas sebelum ucapannya selesai.


"kamu salah memilih lawan!" desis Reina


Tubuhnya gemetar menahan amarah.


Para pengawal langsung maju ke depan Reina, menahan Dimas yang hendak membalas Reina.


Reina berlalu pergi dengan mengepalkan tangannya emosi.


Reina tak kembali ke kantin, tapi melangkah keluar menuju arah lobi.


Para pengawal pun mengikuti Reina, dengan salah satu dari mereka tampak sibuk menelepon Akira.


Reina terus melangkah tak peduli dengan tatapan orang2, saat sampai di lobi, mobil Kenzo pun langsung menghampiri dan berhenti di depan Reina.


Reina langsung masuk ke dalamnya, dan mobil pun melaju pergi, diiringi mobil pengawal.


Aku benci kalian semua! pekik Reina dalam hati.

__ADS_1


******


__ADS_2