Deviasi

Deviasi
#part 22


__ADS_3

Reina mengernyit melihat mobil mewah terparkir di halaman samping villa.


Apalagi tampak beberapa pria bule yang tampak berjaga di depan pintu masuk utama.


Setelah puas mengobrol bersama Dena, Reina memutuskan untuk kembali ke villa utama, mulai mencari petunjuk yang mengarah dimana keberadaan orangtuanya.


"siapa kalian?" tanya Reina bingung.


Apa mungkin Kenzo menambah pengawal untuk memenjarakan kebebasannya?


Para pengawal bule itu tak bergeming dengan pertanyaan Reina.


"hai kakak ipar..."


Reina yang memandang geram ke arah pengawal mengalihkan perhatiannya.


"kamu?!" seru Reina melihat Edward, adik Kenzo, berdiri di depan pintu, tersenyum ramah padanya.


Senyum yang amat sangat berbeda dengan kakaknya.


"aku ingin bertemu kakakku," sambung Edward


"dia tidak ada disini..." kata Reina masih saja terkesima dengan senyum menawan Edward.


"Ooh...apakah kamu tahu kemana perginya?"


"aku tidak pernah tahu kemana kakakmu pergi, lagipula aku juga tidak mau tahu," jawab Reina jujur, membuat Edward mengangkat alisnya terkejut.


Apa mereka bertengkar? baru juga kemarin menikah? batin Edward


"apa kamu mau masuk?" tawar Reina tersenyum


"apa aku boleh masuk?" tanya Edward


Edward sangat tahu sifat kakaknya yang possesif, dan tertutup, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke tempat pribadinya.


"tentu saja boleh, kenapa tidak boleh?"


Edward tersenyum, sungguh kakak iparnya ini, wanita yang menarik!


"Tuan...." Willy memanggil Edward yang hendak masuk, mencoba mengingatkan akan sifat kakaknya yang mengerikan itu.


"kakak ipar sudah mengijinkan 'Will.." kata Edward melangkah masuk mengikuti Reina.


Reina mengajak Edward duduk di ruang tamu, dan menyuruh pelayan untuk menyiapkan minuman.


"aku hanya sebentar..." kata Edward menolak sopan minuman yang di sajikan pelayan.


"minumlah, tidak ada racun disini..." ketus Reina


Edward tersenyum, lagi2 membuat Reina terpesona.


"aku hanya ingin berpamitan, sore nanti aku akan kembali ke Jepang.."


"Ooh.."


"Apa kakak ipar tidak ingin mengunjungi negara kami?" tanya Edward


"jika negaramu Jepang, kenapa kamu seperti orang eropa?" tanya Reina menyelidik


"karena aku mirip ibuku..Ibuku orang Inggris asli, sementara Ayah orang Jepang asli.."


"karena itu kalian memiliki mata biru..." gumam Reina


"ya..kami memiliki yang terbaik dari kedua orangtua kami.." angguk Edward tersenyum


Cuma kamu yang dapat, bukan kakakmu, karena kakakmu dapat yang terjelek, geli Reina dalam hati


Dan obrolan ringan pun mengalir, dengan sesekali Reina mengajukan pertanyaan untuk mencari informasi.


"well... ada tamu rupanya,"

__ADS_1


Edward dan Reina yang sedang tertawa bersama karena lelucon lucu serentak menoleh ke arah pintu masuk.


"kakak," Edward langsung berdiri dari duduknya


"apa yang kau lakukan disini?" tanya Kenzo dingin


"tadi aku mencarimu, untuk berpamitan karena sore nanti aku bertolak ke Jepang.."


Kenzo menatap adiknya dingin, berganti menatap istrinya yang masih terduduk di sofa dengan tajam.


"kamu sudah berpamitan, segera pergi dari sini.."


Edward menatap kakaknya tak percaya dirinya di usir dihadapan orang lain.


"baik, aku mengerti..." angguk Edward tersenyum kecut.


"sampai jumpa kakak ipar, terima kasih atas minumannya.." pamit Edward tersenyum


"sampai jumpa Eddy, terimakasih sudah menemaniku mengobrol..."


Edward hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya hormat pada Kenzo.


"aku pergi dulu kak," pamit Edward


Kenzo tak menjawab, masih saja menatap tajam istrinya.


"selamat jalan, Tuan Edward.." kata Akira membungkukkan badannya hormat.


Edward tak menyahut, hanya tersenyum, lalu pergi diikuti Willy.


Kenzo berjalan mendekati Reina, dan duduk di sampingnya.


"saya permisi Tuan..." pamit Akira


Bergegas ia keluar karena tahu akan kemarahan Tuannya yang siap meledak.


"apa yang kalian lakukan?" tanya Kenzo


"hanya mengobrol, adikmu sangat menyenangkan untuk diajak mengobrol," jawab Reina santai


Reina tak pernah tertawa seperti itu saat bersamanya, dan saat bersama adiknya? Kenzo benar2 murka!


"ini terakhir kalinya aku melihatmu bersama pria lain!" desis Kenzo


"tapi dia adikmu...."


PRANG!


Kenzo membanting gelas hingga pecah berhamburan di lantai.


Reina terlonjak kaget, menatap Kenzo tak percaya.


"turuti perintahku, atau aku akan membuatmu hancur berkeping2 seperti gelas itu!" teriak Kenzo


Pria ini gila ! Dan yang lebih gilanya, aku menikah dengannya! pekik Reina dalam hati.


Cerita Dena yang diancam akan dibunuh, berkelebat dalam kepala Reina, membuatnya menelan saliva takut.


"apa kau mendengarku?!"


Reina mengangguk pelan.


Kenzo beranjak berdiri, meninggalkan istrinya yang tertegun menatap pecahan gelas yang berserakan di lantai.


*****


"apakah anda ingin minum Tuan?"


Willy mendekati Edward yang masih melamun memandang keluar lewat jendela pesawat jet pribadi milik Ayahnya.


"tidak, aku tidak haus.." tolak Edward

__ADS_1


Willy mengangguk, dan meninggalkan Edward sendiri.


Edward mengingat kembali kebersamaannya tadi bersama Reina.Hatinya terasa menghangat.


*****


Tokyo, Jepang


"kamu harus bisa menaklukkan hati putra mahkota klan Iwasaki,"


"tapi aku mendengar selentingan jika Kenzo tipe orang yang sangat dingin papa.."


Ryujin menatap putri kesayangannya dan tersenyum.


"pria mana yang tak jatuh cinta denganmu 'nak? kamu cantik, pintar, dari keluarga terpandang..Iwasaki ingin kau menjadi bagian dari klannya..."


"aku tak yakin pa...bisa menaklukkan Kenzo..."


"kamu belum mencobanya 'nak...kenapa kamu pesimis? Ayahnya saja menyukaimu...Kenzo pasti menuruti titah ayahnya..."


"papa yakin sekali ! bagaimana kalau dia menolakku?" Kanami mencebik manja


"banyak jalan menuju Roma..."


Ryujin tersenyum licik.


Suatu kesempatan besar menambah pundi2 kekayaannya jika anaknya bisa masuk ke klan Iwasaki yang tersohor.


Kekayaan Ryujin cuma seujung kuku dibanding kekayaan klan Iwasaki yang dunia pun tahu, tidak ada bandingnya.


Klan Iwasaki menguasai semua faktor bisnis di dunia.


Dengan memanfaatkan hubungan pertemanan masa lalu dan nama besar "mantan perdana menteri" , Ryujin maju untuk menawarkan perjodohan dengan putra mahkota klan Iwasaki.


"papa akan membantumu, tenang saja..."


*****


Reina terbangun dan langsung terduduk dengan nafas tersengal.


Reina mimpi buruk.Dia bermimpi Kenzo tertembak timah panas dihadapannya.


Reina menoleh ke samping, Kenzo masih tertidur pulas di sampingnya.Wajahnya tenang, nafasnya berhembus teratur.


"aarrgghhh kenapa aku mimpi aneh! seharusnya aku senang jika dia mati karena aku akan bebas, tapi kenapa aku malah ketakutan dia meninggalkanku!" batin Reina tak lepas memandangi wajah damai Kenzo yang lelap.


Reina kembali berbaring, menghadap Kenzo.


"kalau tidur begini dia tampan sekali..." gumam Reina, menyentuh hidung mancung Kenzo.


Dibelainya alis tebal Kenzo dan rahang kokohnya.


"aku benci mata birunya yang mengintimidasiku,"


Reina berbicara sendiri sambil terus membelai tiap sudut wajah suaminya itu.


"sudah selesai?" suara parau Kenzo mengagetkannya.


Reina menarik tangannya dengan tersipu malu, ketahuan si pemilik wajah tampan.


Dengan cepat ia berbalik membelakangi Kenzo yang langsung menarik tubuh polosnya mendekat.


Kenzo tak menyukai Reina berpakaian saat tidur, karena itu akan mengurangi kesenangannya.


"kenapa kau bangun?" tanya Kenzo membalik tubuh Reina menghadapnya kembali


"aku bermimpi buruk..." kata Reina tak berani menatap mata biru milik Kenzo.


"mimpi apa?"


"aku bermimpi kau mati..."

__ADS_1


"apa?"


*****


__ADS_2