Deviasi

Deviasi
#part 63


__ADS_3

Reina berjalan mengendap menuruni anak tangga satu per satu dengan perlahan.


Reina sengaja bertelanjang kaki supaya tidak menimbulkan suara.


Malam ini ia harus berhasil mengambil kunci cadangan pintu2 keluar yang disimpan diruang security.


Sesekali Reina menengok kanan kiri untuk memastikan keadaan telah aman.


Berjingkat pelan Reina menuju pintu samping mansion yang mengarah ke kebun yang terdapat jalan setapak yang akan tembus ke bagian belakang ruang security.


Hampir saja Reina meraih handel pintu dan kemudian semua lampu2 mansion menyala.


Arrghhhh siall!! Jerit Reina dalam hati


"apa yang kau lakukan 'nak?"


Reina langsung memutar tubuhnya.


"A-ayah?"


"sedang apa malam2 begini?"


Tuan Iwasaki menatap tajam dan penuh tanda tanya ke arah Reina.


"e..aku..aku mau mencari angin...."


"mencari angin?"


"rasanya gerah...aku ingin mencari angin.."


Kaki Reina terasa lumer seperti jelly saking gugupnya.


"apa pendingin udara dikamarmu rusak?"


"mu-mungkin..."


"kembalilah ke kamarmu, aku akan meminta Sakimoto mengeceknya.."


"iya Ayah..."


Dengan patuh Reina kembali melangkah menuju kamarnya.


Tuan Iwasaki meraih telepon rumah dan menghubungi Sakimoto yang berada di pavilliun belakang mansion utama.


Tak menunggu lama, Sakimoto muncul dihadapan Tuan Besarnya.


"ada apa, Tuan...?"


"cek kamar Kenzo, apa pendingin udaranya rusak sampai penghuninya harus mengendap2 membuka pintu untuk keluar!"


"sepertinya tidak ada laporan dari bagian teknisi,Tuan..."


Tuan Iwasaki mengerutkan dahinya.


"jangan2 dia mau kabur membawa cucuku!"


Berganti Sakimoto yang mengerutkan dahinya menatap Tuannya bingung.


"aku melihatnya mengendap2 hendak keluar lewat pintu samping!"


"Nyonya Muda?"


"kau pikir siapa lagi kalau bukan dia??!"


"tapi untuk apa, Tuan..."


"dia bilang merasa gerah, tapi aku tahu dia berbohong, karena sikapnya yang gugup!"


"awasi dia, aku merasa dia merencanakan sesuatu,Saki!"


Sakimoto semakin mengernyit.


"baik,Tuan..."


"beri pengawal juga yang berjaga didepan pintu kamarnya!"

__ADS_1


"apa itu tidak berlebihan,Tuan? Tuan Muda bisa marah besar..."


"aku tidak peduli, aku tidak mau wanita itu membawa kabur cucuku!"


Sakimoto menghembuskan napasnya berat.


"siagakan para pengawal disetiap sudut mansion, untuk berjaga 24jam sampai cucuku lahir dan rencana kita berhasil..."


"Tuan..."


"aku tidak menerima alasan apapun lagi,Saki, laksanakan saja perintahku!"


Sakimoto hanya membungkukkan badannya yang mulai dimakan usia itu dengan patuh.


Tuan Sakimoto pun berjalan pergi meninggalkan Sakimoto yang masih membungkuk hormat menuju ke kamar pribadinya sendiri.


semoga tidak ada perang karena sifat kerasnya, batin Sakimoto sambil bergegas naik ke lantai 2 menuju kamar Tuan Muda dan Nyonya Mudanya.


********


"ada apa ini?"


Reina yang terduduk di sofa menoleh ke asal suara.


Kenzo berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang masih rapi meski jas nya sudah dilepas.


"Tuan Saki sedang mengawasi teknisi membetulkan pendingin udara.." jawab Reina


"selamat malam,Tuan Muda...maaf mengganggu sebentar waktu istirahatnya.."


"kenapa tidak besok saja? Kamu pikir ini jam berapa?" omel Kenzo


Dan mulailah drama di malam hari.


"maaf,Tuan Muda...tapi Nyonya Muda merasa kepanasan.."


Kenzo langsung mengalihkan perhatiannya pada Reina yang sibuk mengelus2 perut buncitnya.


"apa aku salah?" tanya Reina dengan puppy eyes nya.


"tapi aku tidak mau,"


Kenzo menghembuskan napasnya kesal.


Sakimoto memgawasi pasangan muda suami istri itu.


Senyum samar tersungging dibibir Sakimoto yang mulai berkeriput.


"mungkin anda bisa membersihkan badan dulu, Tuan....seraya kami selesai membetulkannya..."


Kenzo mengalah pergi daripada ribut dengan istrinya, apalagi ada Sakimoto di kamarnya.


Bisa saja dia akan melapor ke Ayahnya, mengingat Sakimoto adalah salah satu orang kepercayaan Ayahnya selain Satsuki dan Hanami.


Tak berselang lama, teknisi pun selesai membetulkannya.


Sakimoto pun ijin mengundurkan diri setelah selesai menelpon pelayan untuk membuatkan teh hijau dan mengirimkannya ke kamar.


"terimakasih," senyum Reina


"sama2 Nyonya Muda, selamat malam dan beristirahat.."


Sakimoto menutup pintu kamar dan bergegas kembali ke pavilliun belakang mansion.


Kenzo keluar dari walk in closet dengan setelan piyama hitam.Rambutnya basah dan belum tersisir rapi.


Reina buru2 menuju ranjang melihat tatapan tajam suaminya itu.


Kenzo menyusul Reina naik ke atas ranjang, mengelus2 perut buncitnya dan mengecupinya.


"goodnight boys," kata Kenzo


Reina terkikik geli merasakan kecupan2 diperut buncitnya.


Ditariknya rambut Kenzo yang tebal.

__ADS_1


"jangan ulangi lagi, Mrs.Kenzo!"


"apa?"


Reina menatap mata biru Kenzo yang hanya berjarak tidak lebih 5 centi darinya.


"jangan pernah membawa masuk pria ke dalam kamar lagi!" ucap Kenzo possesif


"hah?"


"aku tidak suka melihatmu dalam satu ruangan bersama pria lain,"


"Ya Tuhan....mereka kan..."


"aku benci alasan,"


Kenzo mencium bibir istrinya itu dengan gemas.


Reina mencengkeram piyama Kenzo saat merasakan Kenzo semakin brutal menciumnya.


Kenzo membaringkan tubuh Reina ke ranjang tanpa melepas ciumannya.


Reina menghirup napas dalam2 saat Kenzo melepas ciumannya.


"aku ingin menengok anak2ku..." serak Kenzo


Diusapnya bibir Reina yang merah dan bengkak karena ciumannya.


Mata birunya mulai menggelap sarat dengan gai*rah, menatap wajah Reina yang tampak bersemu merah.


Kenzo kembali menunduk, mencium Reina dengan kasar, menciumi seluruh wajahnya dan mulai menuruni lehernya.


Dengan cepat menarik turun gaun tidur Reina,memperlihatkan aset kembar Reina yang bertambah besar karena kehamilannya.


Napas Kenzo memburu, dan segera saja ia menyesapnya seperti bayi kehausan.


"aahh...sakit..." erang Reina merasakan betapa buasnya Kenzo menyesapi miliknya dengan kasar secara bergantian.


Kenzo pun berhenti merasakan cengkeraman Reina di rambutnya semakin keras.


Diraihnya tangan Reina dan mengecupinya.


Puas mengecupi tangan Reina, Kenzo pun beranjak bangun untuk melepas piyamanya sendiri tanpa melepaskan tatapan laparnya pada Reina yang terbaring pasrah di ranjang.


Gaun tidurnya sudah melorot memperlihatkan aset kembarnya yang terbuka, bagian bawah gaunnya sudah tersingkap ke atas, memamerkan kaki jenjangnya yang telanjang.


Kenzo menyentak lepas pertahanan Reina yang terakhir.


Kenzo kembali ******* bibir istrinya, membungkam suara Reina saat pusat tubuhnya yang menegang mulai menyeruak memasuki milik Reina yang hangat.


Kenzo bergerak pelan dengan penuh tekanan, perut buncit istrinya tak menghalangi nya untuk terus menghunjam possesif, memiliki tubuh istrinya yang selalu membuatnya candu.


Kenzo menyerukkan wajahnya ke leher Reina, menghirup wangi sabun beraroma jeruk yang menjadi favorit Reina sejak hamil.


"kenapa aku bisa tergila2 padamu, Mrs.Kenzo.."


lirih Kenzo terengah.


Napasnya semakin memburu.


Reina menggigit bibirnya, menahan rasa kenikmatan yang perlahan menguasainya.


"kamu suka kan aku terus memilikimu seperti ini..?"


Kenzo menyeringai menatap istrinya yang berusaha setengah mati menahan desah kenikmatan yang dibuatnya.


Kenzo berhenti menghunjam, menarik tubuh Reina untuk berdiri di depan meja rias dengan cerminnya yang besar.


Kenzo berdiri menjulang dibelakang Reina, memintanya membungkuk dan mulai memiliki istrinya itu.


Reina menatap adegan suami istri itu melalui cermin riasnya.


Kenzo yang tampan dan tampak berantakan itu mulai kehilangan kendali mencari pelepasannya.


"aku mencintaimu, istriku,Reina Iwasaki..."

__ADS_1


********


__ADS_2