
Reina menatap pintu yang terbuka, dan ia pun langsung sumringah melihat Dena yang masuk sambil mendorong kereta berisi alat2 kebersihan.
"kemana saja kamu selama ini?" tanya Reina
"aku piket diruangan lain beberapa hari ini," jawab Dena berbisik karena para pengawal yang terus mengawasinya dengan tajam.
"aku selalu menunggumu, apakah sudah ada cara membawaku keluar dari sini?" Reina duduk di sofa pura2 membaca majalah.
"terlalu beresiko, lihat saja para pengawal disini, seperti ingin memangsaku," bisik Dena
Reina menghembuskan napas berat.
"sebenarnya ada 1 cara," bisik Dena lagi
Reina langsung menatap Dena dengan berbinar.
"aku harus membawa kereta pengangkut sprei, kamu bisa bersembunyi ditumpukan sprei,"
Reina tersenyum, ide yang cemerlang!
"lalu kita bisa keluar lewat pintu belakang setelah sampai laundry,"
"kamu sangat cerdas Dena!" seru Reina dan menutup mulutnya dengan tangan saat para pengawal menatap Reina.
"ngomong2 dimana Tuan Kenzo dan asistennya?"
"mereka sedang di perusahaan XZ,"
"bukankah itu tempat bekerja mantanmu?"
"iya, Kenzo adalah pemiliknya.."
Dena terperangah tak percaya.
"ini kesempatanmu balas dendam..." kata Dena semangat
"apa maksudmu?"
"kamu bisa meminta Kenzo memecat mereka berdua," usul Dena jahat sekali.
"yang penting aku bisa keluar dari sini,"
"isshhh kamu nggak seru banget!" cebik Dena
Kedua gadis itu asyik berbisik dan sesekali tertawa terkikik pelan, tak sadar, apa yang mereka lakukan menjadi bahan laporan pengawal ke bos mereka.
*****
"sepertinya Nona Reina sangat bahagia bertemu dengan temannya.." kata Akira yang melihat video kiriman pengawal dari hotel.
Kenzo mengulurkan tangannya dan Akira pun menyerahkan ponselnya.
Kenzo melihat video itu, benar, Reina yang beberapa hari ini mendiamkannya tampak tertawa bahagia, entah apa yang mereka bicarakan.
Reina marah padanya sejak pulang dari perusahaan ekspor import, setelah terjadi insiden Reina menampar mantannya keras, seperti laporan para pengawal.
Meskipun Reina tetap menghangatkan ranjangnya, tapi sikapnya menjadi dingin begitu mereka berada diluar kamar.
"apa jadwalku setelah makan siang?" tanya Kenzo tak lepas dari video di ponsel Akira yang masih dipegangnya.
__ADS_1
"ada meeting dengan pihak accounting, Tuan.."
"batalkan saja, dan suruh mereka membuat laporan lewat email sebelum pulang,"
"baik Tuan,"
"aku ingin makan siang di hotel saja,"
"baik Tuan, "
Kenzo menyerahkan ponsel Akira dan kembali menekuni laporan2 di meja kerjanya.
*****
Reina terlonjak kaget saat melihat pintu kamar terbuka dan Kenzo muncul disana.
Reina yang hanya berselubung handuk sehabis mandi langsung mencengkeram handuknya kuat2.
Kenzo berjalan menuju sofa, dan duduk disana, mengawasi Reina yang masih berdiri.
"aku ingin makan siang bersamamu," kata Kenzo duduk bersandar dan menyilangkan kakinya yang panjang.
"aku tidak lapar," ketus Reina
"lihat aku makan!" hardik Kenzo keras
dasar pria gila ! umpat Reina dalam hati melirik Kenzo dengan jengkel.
"aku tidak minat," ketus Reina lagi, membuang muka dan berjalan melewati Kenzo menuju walk in closet.
Kenzo menarik tangan Reina hingga terpelanting jatuh ke pangkuannya.
Kenzo menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Reina.
"dari lahir memang aku tidak manis,"
Reina menggeliat berusaha turun dari pangkuan Kenzo.
"ayo bercinta," bisik Kenzo terengah saat melihat dada Reina yang menyembul dari handuknya yang longgar.
Reina memekik saat Kenzo menarik lepas handuknya, membenamkan wajahnya ke lekuk dada Reina yang membusung, menantang untuk dicium dan disesap.
"kamu puas kan aku seperti pelacur?" erang Reina saat Kenzo menyesap miliknya seperti bayi yang kehausan.
Kenzo berhenti, ditatapnya Reina dengan mata birunya yang berkabut oleh gairah.
Kenzo membopong tubuh Reina ke ranjang, mengkungkungnya dibawah tubuhnya.
Menatap tubuh polos Reina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"aku tak salah memilih pelacur," sadis Kenzo membuat Reina murka, tangannya terulur menampar wajah Kenzo yang putih hingga memerah.
Kenzo mencengkeram rahang Reina hingga mendongak menatapnya.Reina meringis kesakitan.
"dasar gadis liar!" umpat Kenzo, menunduk mencium Reina dengan brutal.
Kenzo menikmati setiap rintihan Reina, saat merasakan tubuh gemetar Reina karena hunjamannya membuat Kenzo merasakan suatu kepuasan tersendiri.
"hentikan!" jerit Reina merasakan dorongan Kenzo yang kasar diinti tubuhnya.Rasa nyeri tak terperi membuatnya berontak, memukuli dada Kenzo yang basah oleh peluh.
__ADS_1
Kenzo menyeringai melihat Reina menjerit kesakitan.
Dicekalnya tangan Reina di kedua sisi tubuhnya, Kenzo benar2 menikmati tubuh Reina yang memberontak, dadanya yang indah bergerak naik turun karena hunjamannya.Bibir yang merah dan bengkak itu terus memaki dirinya, yang entah mengapa membuat Reina semakin cantik dimata Kenzo.
Kenzo membenamkan wajahnya ke ceruk leher Reina yang lembab, menghirup aroma tubuh gadis itu.
Kenzo sudah hilang kendali mencari pelepasannya.
Kenzo mengerang, menggigit leher Reina saat merasakan suatu ledakan yang nikmat dalam tubuhnya.
Reina terisak saat Kenzo ambruk diatas tubuhnya.
Napas mereka tersengal karena percintaan Kenzo yang benar2 liar.
"aku harus segera menikahimu.." serak Kenzo
"aku tidak sudi!" teriak Reina, ia sudah tak peduli lagi jika yang lain mendengar kegaduhan mereka dikamar.
Didorongnya tubuh Kenzo yang masih bertahan diatasnya, menyatu dengannya.
"aku ingin kamu hamil anakku.." desah Kenzo merasakan gairahnya bangkit kembali karena tubuh Reina yang terus menggeliat mencoba bebas dari himpitan tubuhnya, membangunkan dirinya yang masih terbenam dalam kehangatan milik Reina.
Reina membulatkan matanya saat milik Kenzo terasa kembali membesar dalam dirinya.
"jangan...kumohon..." erang Reina saat Kenzo kembali menyesap miliknya mencari pemuasan.
Reina mengiba, airmata mengalir membasahi bantalnya.
Kenzo kembali menyentak dirinya dalam2, dan mulai bergerak perlahan mencari pelepasan lagi.
*****
Kenzo menarik selimut menutupi tubuh Reina yang polos, gadis itu meringkuk kelelahan dan kini tertidur pulas.
Kenzo tersenyum, sambil mengusap bibirnya yang sedikit terluka oleh gigitan Reina yang marah karena ciumannya membuatnya tak bisa bernapas.
Kenzo memakai celana piyama hitamnya tanpa atasan.
Bersama Reina, waktu tak terasa berlalu dengan cepatnya.
Kini hari sudah menggelap, entah berapa lama mereka bertempur diranjang yang kini berantakan.
"Tuan..." Akira langsung berdiri melihat Kenzo keluar dari kamar karena sejak siang hingga hampir petang ,Tuannya itu tak keluar.
Apalagi melihat Tuannya yang hanya bercelana piyama tanpa atasan, memamerkan tubuh gagahnya dengan tato naga yang menutupi tubuh atasnya.
"apa anda ingin makan malam Tuan?" tanya Akira hendak meraih telepon untuk menghubungi pihak hotel supaya bersiap menyiapkan makan malam.
"aku sudah kenyang memakan gadis liar itu,"
Akira bergidik ngeri melihat seringai Tuannya itu, dan membuatnya penasaran dengan keadaan Reina di dalam kamar sana.
"aku berpikir untuk memiliki Reina secara utuh.."
"maksud Tuan?" Akira mengernyit bingung menatap Kenzo yang sedang menyesap wine nya.
"aku berpikir untuk menikahinya.."
"apa?" Akira membulatkan matanya.
__ADS_1
*****