
"Tuan,"
Akira memanggil Kenzo untuk kesekian kalinya.
Kenzo mengalihkan pandangannya dari jendela pesawat menatap Akira yang duduk di seberangnya.
"ada apa?"
"apakah ada yang mengganggu pikiran anda, Tuan?"
"aku memikirkan Reina, entah kenapa perasaanku tidak enak..." jujur Kenzo
"apakah saya perlu menghubungi Tuan Sakimoto,Tuan?" tawar Akira melihat wajah Tuannya itu tampak tidak baik2 saja
"tidak perlu, aku akan menghubunginya nanti saat kita mendarat.." tolak Kenzo
Akira menganggukkan kepalanya patuh.
Hari ini mereka terbang ke negara K untuk mengurus masalah di anak perusahaan klan Iwasaki yang bergerak dibidang tekstil.
Akira yang menawarkan diri untuk mengurus sendiri ditolak oleh Kenzo.
Kenzo menargetkan akan menyelesaikan masalah dalam 2 hari, karena hari kelahiran baby twinsnya yang sudah tinggal hitungan hari.
"hubungi direktur keuangan, aku ingin semua laporan data2 keuangan sudah siap saat aku sampai di bandara," titah Kenzo
"baik, Tuan.."
"atur rapat direksi pukul 10,"
Akira mengangguk sambil mencatat semua permintaan Kenzo di tab miliknya.
Pesawat jet pribadi klan Iwasaki pun mendarat di bandara tepat pukul 9 pagi.
Beberapa mobil sudah berderet menyambut kedatangan Kenzo, sang putera mahkota pewaris tahta klan Iwasaki.
Pintu pesawat terbuka, orang2 yang berbaris membungkukkan badannya dengan hormat begitu Kenzo keluar dari pesawat dan menuruni tangga diikuti oleh Akira dan beberapa pengawal.
"selamat datang, Tuan Muda.."
__ADS_1
"tak perlu basa basi, segera pergi ke gedung utama, aku ingin melihat siapa yang berani bermain2 denganku,"
Beberapa orang langsung menelan saliva nya takut.
Sudah bukan rahasia lagi bagaimana kejamnya seorang Kenzo Iwasaki,jika ada yang berani berkhianat padanya.
Kenzo masuk ke dalam mobil diikuti Akira.
Bergegas mobil pun melaju ke gedung utama, pusat bisnis tekstil, salah satu anak perusahaan jaringan bisnis klan Iwasaki.
******
PRANG!
"Nyonya! Anda tidak apa2??"
Rika bergegas berlari mendekati Reina diikuti beberapa pelayan.
"aku tidak apa2..." kata Reina berusaha untuk merunduk ke arah pecahan gelas.
"Aucch.." pekik Reina saat jarinya terluka terkena serpihan pecahan gelas.
"cepat ambilkan kotak P3k!"
Rika membantu Reina untuk berpindah ke arah ruang keluarga.
Dibantunya Reina untuk duduk di sofa.
Seorang pelayan membuka kotak P3k dan Rika pun bergegas membersihkan luka Reina, memeriksanya jika ada serpihan kaca dari gelas yang tertinggal, kemudian menempelkan plester antiseptik untuk luka.
"apa saya perlu memanggil dokter?"
"kau ini berlebihan, Rika, aku tidak akan mati dengan luka kecil ini..."
"tapi, Nyonya, saya takut akan infeksi..."
Reina menarik napas dan menghembuskan napasnya kesal.
"tak perlu berlebihan!" gemas Reina
__ADS_1
"saya takut Tuan akan marah, Nyonya..."
"aiiisshhh, kenapa kalian semua menyebalkan.."
geleng Reina semakin tak mengerti dengan tingkah laku para pelayan di mansion utama.
Reina perlahan beranjak berdiri dari sofa dan melangkah meninggalkan Rika yang masih saja berceloteh.
"aku mau ke kamar, jangan ganggu aku!"
Rika terdiam, memandang Reina yang berjalan pelan2 sambil mengusap2 punggungnya yang terasa pegal.
"Oohh Tuhan, aku rindu kehidupanku yang menjadi orang biasa..." gumam Reina
*******
Kota K,
BRAKK!
Semua peserta rapat terlonjak kaget saat Kenzo menggebrak meja dengan kerasnya.
"aku menunggu keberanian kalian untuk mengakui kesalahan sendiri tanpa harus aku yang mencari siapa dalang dari semua masalah ini!" sembur Kenzo dengan amarah yang sudah diubun2.
Murka nya sang Tuan Muda berarti kiamat bagi semua anggota dewan direksi.
Kenzo yang sudah emosi karena mengetahui beberapa orang yang menduduki kursi direksi menyelewengkan uang perusahaan semakin bertambah emosi saat salah seorang pengawal yang bertugas melaporkan Reina terluka karena pecahan gelas.
"aku akan menunggu di ruanganku! Semoga tidak jatuh korban!"
Kenzo beranjak berdiri setelah memandang para dewan direksi yang sibuk menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan.
Akira pun bergegas mengikuti Kenzo yang berjalan ke arah pintu keluar ruang rapat.
Pintu tertutup dengan suara keras diiringi desah putus asa anggota rapat direksi.
"habislah kita..."
********
__ADS_1