
Kenzo duduk bersandar, menatap langit yang biru melalui dinding kaca besar di ruang kerjanya.
Senyum tak lekang dari wajah tampannya, mengingat apa yang di laluinya dari pagi buta hingga 1 jam yang lalu sejak kedatangannya ke perusahaan.
Ingin rasanya Kenzo tertawa keras mengingat tingkah laku agresif istrinya yang sedang hamil muda itu.
Pagi2 buta, Kenzo terjaga dari tidurnya karena merasakan sesuatu yang lembut dan hangat sedang memanjakan juniornya hingga tegak menantang.
Kenzo membuka mata saat sesuatu menindih tubuhnya, dan betapa terkejutnya melihat istrinya sedang menyatukan tubuh mereka dan mulai bergerak penuh irama.
Dan lagi2 , kedua suami istri itu bertarung panas di ranjang yang masih berantakan.
Seluruh area kamar di jelajahi mereka hingga berakhir di bawah shower.
Kenzo sampai kewalahan melayani hasr*t sang istri yang mendadak hyper.
"Tu-tuan...."
Akira bergidik ngeri melihat Tuan Mudanya yang terus saja mengumbar senyum.
Kenzo menoleh ke arah Akira , dengan wajah mode dinginnya lagi.
"Hmm?"
"meeting dimulai 10 menit lagi,Tuan..."
Kenzo hanya mengangguk.
"baru saja Fuji menelepon, Nyonya Muda ingin datang kemari nanti siang..."
Dan wajah Kenzo semakin sumringah mendengar istrinya hendak datang.
"kirim pasukan markas bawah untuk mengantar Nyonya mu,"
"baik Tuan," angguk Akira.
*****
"astaga!" Dena terperangah menatap leher Reina yang penuh dengan bekas2 kepemilikan yang kini tampak mulai membiru.
"kenapa?" Reina menatap bingung
"lehermu, Rei....dasar!" dumal Dena sambil menggelengkan kepala.
Dena memilih duduk di sofa yang berada di sisi balkon kamar Reina.
Siang ini, Reina mengajak Dena menuju perusahaan Kenzo.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi pada diri Reina, rasanya ingin selalu dekat dengan Kenzo, padahal kemarin mereka terlibat perang dingin.
Reina meraih gaun rajut terusan yang berleher tinggi menutupi lehernya.
"kamu ini...apa tidak ingat sedang hamidun?"
"ingat...tapi rasanya aku tak pernah puas memiliki Kenzo, apa ini bawaan bayi?"
Dena mengangkat kedua tangannya sambil mengedikkan bahunya.
"apa kamu mulai menikmati kehidupan pernikahanmu?" tanya Dena penasaran.
"aku juga tidak mengerti...aku ingin pergi dari sini, tapi aku juga tak ingin anakku terpisah dengan ayahnya...." Reina terduduk di tepi ranjang sambil memandang cincin pemberian Kenzo di jari manisnya.
Dena terdiam memandang sahabatnya itu.
"mungkin seiring berjalannya waktu, akan menjawab kebimbanganmu..."
Reina menatap Dena yang tersenyum.
"ayo...sebentar lagi jam makan siang..." ajak Dena mengulurkan tangannya.
Reina pun tersenyum dan meraih tangan Dena, bergandengan tangan kedua sahabat itu melangkah keluar kamar.
******
"aku ingin bertemu Kenzo,"
"apa aku perlu membuat janji dengan tunanganku sendiri??" Kanami mulai marah.
"maaf, Nona...saya hanya menjalankan perintah.."
Kanami langsung beranjak pergi menuju lift tanpa mempedulikan resepsionis yang mencoba mengejarnya.
Lift pun berhenti di lantai teratas, dimana ruangan Kenzo berada.
Dengan langkah bak model sosialita Kanami berjalan menuju ke arah pintu ruangan Kenzo.
"maaf Nona, Tuan Kenzo memerintah saya untuk..." Rumi tampak tergesa mengejar Kanami yang tak peduli dengannya.
Kenzo menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan muncul Kanami di sana.
Berpakaian ketat yang membungkus tubuh langsingnya.
"maafkan saya, Tuan...Nona ini ..."
Kenzo mengangkat tangannya menghentikan Rumi berbicara.
__ADS_1
"kembalilah bekerja," titah Kenzo
"baik, Tuan..." angguk Reina dan menutup pintu ruangan Kenzo.
"well...?" Kenzo menatap tajam ke arah Kanami yang berjalan mendekatinya.
"aku ingin meminta maaf atas kejadian tempo hari..." ucap Kanami lembut
Kenzo menaikkan sebelah alisnya saat Kanami sudah berada di hadapannya.
"minta maaflah pada istriku," kata Kenzo dingin sambil beranjak dari kursinya.
Mengancingkan kancing jasnya dan berjalan ke arah sofa.
"maafkan aku..." Kanami meraih lengan Kenzo dan menabrakkan dirinya ke tubuh Kenzo.
Kenzo pun terkejut dengan apa yang dilakukan dengan Kanami yang tiba2 saja meraih lehernya untuk mengecup bibirnya.
"apa yang kau..."
"apa yang kalian lakukan??"
Kenzo menoleh ke arah pintu ruangannya yang kembali terbuka, dan Reina sudah berdiri di sana, bersama Dena dan Akira yang tampak baru saja tiba dilihat dari napasnya yang tersengal.
"sayang...jangan salah paham..."
Kenzo mencoba mendorong tubuh Kanami menjauh, tapi dengan tidak tahu malunya, Kanami malah mengetatkan tangannya di leher Kenzo.
Reina berjalan mendekat dengan tatapan tajam.Kilat amarah menghias bola mata hitamnya yang membola.
Kanami memejamkan matanya saat Reina mengangkat tangannya.
PLAK!
Wajah Kenzo sampai berpaling karena tamparan keras Reina di pipinya.
Akira sampai melotot melihatnya.Tuan Mudanya yang begitu disegani dan ditakuti, mendapat tamparan begitu kerasnya hingga sudut bibirnya berdarah.
"Nyonya...!" seru Akira berlari mendekat.
"ayo Dena kita pergi, aku sudah muak disini!"
Reina pun memutar tubuhnya meninggalkan Kenzo yang masih terdiam.
"Rei...." seru Dena tergesa mengikuti Reina.
Kanami tampak tersenyum puas.
__ADS_1
Ternyata, sebuah pesan masuk dari nomer asing di ponselnya, benar2 berhasil membuat masalah antara Kenzo dan Reina.
******