Deviasi

Deviasi
#part 56


__ADS_3

Edward berjalan menuruni tangga.


Selama ini ia tinggal di mansion Kenzo untuk menjaga Dena, selain itu, juga untuk membantu Kenzo di bisnis dunia bawah tanah bersama anak buahnya.


Kenzo meminta Edward untuk tinggal di mansionnya selama ia tinggal di mansion utama.


Kenzo masih sulit untuk mempercayai Tuan Iwasaki senior yang tampak melunak dengan kehamilan Reina.


Kenzo yakin, Ayahnya memiliki suatu rencana, yang pasti akan membuat masalah di suatu hari nanti.


Karena itulah ia meminta Edward untuk tinggal dimansionnya jika suatu waktu apa yang di yakininya selama ini benar terjadi.


"ayo kita makan siang,"


Dena menyambut Edward di ruang makan.


Meja sudah tertata rapi dengan beberapa hidangan.


"tampaknya enak," kata Edward


Edward pria tampan yang ramah.


Dena tersenyum.


"dimana Willy? Kita makan siang bersama saja..." ajak Dena , celingukan mencari keberadaan orang kepercayaan Edward itu.


"Willy sedang ku utus keluar untuk membereskan sesuatu hal..." ucap Edward


"apakah lama?"


"mungkin...kita makan siang saja, Willy pasti juga sudah makan siang di luar sana,"


Dena menganggukkan kepala dan mengikuti Edward untuk duduk di salah satu kursi meja makan.


Fuji pun dengan sigap memerintah para pelayan untuk menyajikan makanan di piring Edward dan Dena.


"aku rindu sekali dengan Reina..." kata Dena


"aku pun begitu, akses ke mansion utama sekarang diperketat sejak kakak ipar di sana.."


Dena menghembuskan napasnya berat.

__ADS_1


"Ayah begitu ketat menjaga calon pewarisnya.."


imbuh Edward


"apakah tidak bisa walau hanya bertemu sebentar saja?" tanya Dena masih berharap


Sungguh, ia benar2 rindu dengan sahabatnya itu.


Meskipun ada anak buah Edward yang selalu mengirim foto Reina padanya, tapi itu tidaklah cukup.


Dena ingin sekali bertemu Reina.


Mendengar suaranya, memeluknya dengan hangat, karena hanya Reina lah orang terdekatnya di negara asing ini.


"aku akan mencoba menghubungi kakak, siapa tahu dia bisa membantu untuk bertemu kakak ipar..." kata Edward mencoba menghibur Dena.


"benarkah?" Dena tersenyum senang mendengarnya.


"semoga saja kakak bisa membantu..." angguk Edward dengan senyum tampannya yang hangat.


"semoga..."


*******


Sepasang kaki jenjangnya yang terbalut celana denim itu diangkat ke atas meja kerjanya yang tampak berserakan beberapa dokumen.


Sesekali ia melirik ke arah figura foto yang berada diatas meja kerja.


Foto Reina yang diambil candid oleh mata2nya.


Kakei benar2 sudah jatuh hati dengan Reina.


Bukan hanya untuk ajang balas dendam menghancurkan klan Iwasaki.


Kakei sudah bermain dengan hatinya.


"kapan aku bisa bertemu lagi denganmu, Reina...ternyata menahan perasaan lebih menyakitkan daripada luka tembakan peluru.."


Kakei, putera mahkota klan Yamaguchi tampak bermonolog dengan dirinya sendiri.


BRAK!

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka dengan kerasnya.


Tuan Yamaguchi senior memasuki ruang kerja putra satu2nya itu.


"Ayah?!"


Kakei langsung terlonjak bangun dari duduknya.


"ternyata kau cuma duduk2 dan bermalas2an saja, anak sialan!"


Tuan Yamaguchi senior menarik kemeja Kakei kasar.


"Kenapa Ayah datang kesini??" tanya Kakei sambil menyentak lepas cengkeraman tangan Ayahnya.


Kakei merapikan meja kerjanya yang kusut.


"tentu saja mengecek perusahaan! Kau pikir dengan bermalas2an bisa mengalahkan klan Iwasaki!" semprot Tuan Yamaguchi marah


Kakei hanya menggelengkan kepalanya, masih belum bisa terbiasa dengan emosi Ayahnya yang labil seperti remaja sekolah menengah.


Tuan Yamaguchi pun memilih duduk dikursi kerja Kakei.


Seketika pandangannya pun tertuju ke sebuah figura foto seorang wanita yang berada di atas meja kerja.


"siapa dia?"


"Reina..."


"aku sudah tahu dia Reina!!"


"Ayah tadi bertanya!" teriak Kakei emosi


"untuk apa kau memajang fotonya!! Dia itu istri putra Iwasaki!!"


"karena aku menyukainya, Ayah!"


"apa?" Tuan Yamaguchi langsung membola


"aku menyukainya, dan akan merebutnya! kupastikan dia menjadi milikku!"


"apa?!"

__ADS_1


*********


__ADS_2