Deviasi

Deviasi
#part 7


__ADS_3

Reina terjaga, merasakan dinginnya pendingin udara menerpa tubuh polosnya.


Perlahan dibukanya matanya, sayup2 mulai terlihat jelas ruangan dimana ia berada.


Dan matanya langsung membulat besar, menyadari ia berada ditempat asing.


"dimana ini??" Reina terduduk dan langsung meringis merasakan kepalanya yang terasa berat.


Ia kembali terjatuh berbaring di ranjang yang super empuk.


Selimut putih tampak berantakan membungkus tubuhnya, bantal2 pun berserakan.


Reina memegangi kepalanya, mencoba mengingat2 lagi apa yang dilaluinya kemarin.


Reina mengingat semalam pergi bersama Dena ke Club, berjoget bersama setelah menghabiskan minuman yang memabukkan sebanyak 2 gelas.


Dan tiba2 sebuah tangan menariknya kasar keluar dari kerumunan orang2 yang bergoyang menikmati musik.


Reina terduduk dan memekik histeris mengingat kelakuannya semalam yang mirip wanita ja*ang.


"Ya Tuhaaann apa yang sudah kulakukan!"


Reina meremas rambutnya yang kusut, dan terperangah menatap bayangan dirinya lewat cermin besar dihadapannya.


Rambutnya berantakan, bibirnya bengkak dan merah, dan entah kenapa wajahnya terlihat berseri.


"aku pasti sudah gila!!" pekik Reina menatap tubuhnya yang penuh bekas kepemilikan.


Nyeri tak terperi dibagian inti tubuhnya saat Reina beringsut turun dari ranjang membuatnya meringis kesakitan.


Reina menutup mulutnya melihat bercak2 darah di sprei yang berwarna putih bersih.


Reina mencengkeram selimut yang membelit tubuhnya erat2 mendengar suara2 percakapan orang dewasa dari luar kamar.


"aku harus segera membersihkan diri dan pergi dari sini !" gumam Reina dan menuju kamar mandi.


*****


Reina keluar dari bathroom mengenakan bathrobe dan rambut yang terbungkus handuk.


Mengendap2 mengumpulkan pakaiannya yang berserakan.


"aahhhh pakaian dalamku.." lirih Reina melihat pakaian dalamnya yang sudah robek dan tak bisa dipakai lagi.


"aku akan menggantinya,"


Reina jatuh terjengkang saking terkejutnya.


Seorang pria tampan berdiri dibelakangnya.


"maaf...Tuan..." gagap Reina menunduk, tak berani menatap mata biru itu.


Kenzo mendekati Reina dan berjongkok dihadapannya.Diraihnya dagu gadis itu supaya mendongak menatapnya.


"berapa?" tanya Kenzo kaku dalam bahasa Indonesia


Reina memandang bingung.


"berapa aku harus membayarmu untuk semalam?"


Reina terperangah, tangannya melayang tanpa sadar menampar pipi pria dihadapannya.


"aku bukan pela*ur!" teriak Reina marah.


Kenzo menyeringai sambil mengelus pipinya yang merah.


Ditariknya tubuh Reina berdiri dan menghempaskannya ke ranjang yang masih berantakan.


Reina kelabakan bathrobe nya tersingkap, memamerkan tubuh polosnya.

__ADS_1


"apa yang kau lakukan??" pekik Reina melihat Kenzo melepas jasnya dan mulai melepas dasi serta kancing2 kemejanya.


"aku akan membayarmu mahal,"


Reina membulatkan matanya.


Kini Kenzo bertelanjang dada, memamerkan tato naga yang menutupi tubuh atasnya.


Reina merangkak menuju ujung ranjang saat melihat Kenzo mulai melepas ikat pinggang dan kancing celananya.


aku harus segera kabur, batin Reina dan berlari menuju pintu kamar.


"arrgghh siaalll!" teriak Reina menyadari pintu yang terkunci.


Kenzo meraih tubuh Reina dan memeluknya dari belakang.


"puaskan aku dan aku akan memberikan semua keinginanmu.."


Tubuh Reina menegang, merasakan hembusan napas yang hangat disisi lehernya.


"tolong, lepaskan saya Tuan...saya tidak ingin apapun..." isak Reina ketakutan merasakan tangan yang memeluknya mulai menyelinap ke dalam bathrobe nya, menggenggam buah dadanya posesif.


"kamu milikku, aku tidak akan melepasmu!"


Dengan kasar Kenzo memutar tubuh Reina menghadapnya dan mencium bibirnya brutal.


Siang itu, di kamar Presidential Suite, Kenzo kembali memiliki Reina.


*****


"Tuan.."


Akira berdiri melihat Tuan Mudanya keluar dari kamar.


"apa kamu sudah dapat informasi tentangnya?"


"iya Tuan," Akira mengangguk seraya meletakkan sebuah map berisi informasi tentang Reina.


"buat surat pengunduran dirinya,"


"baik Tuan,"


"dia tidak boleh keluar dari ruangan ini,"


Akira menatap Tuannya bingung.


"aku tidak mau milikku dilihat orang lain,"


Akira menelan saliva nya takut melihat wajah dingin Tuan Mudanya itu.


"tapi Tuan, kita tidak boleh sembarangan di negara ini...orangtuanya bisa menuntut kita..."


"siapa yang berani melawanku?" desis Kenzo


"maaf Tuan..saya hanya mengingatkan kita dinegara orang.."


Kenzo mendengus kesal.


"mungkin kita harus menemui orangtuanya,Tuan.."


Kenzo menatap tangan kanannya itu tajam.


"kita bisa berbicara.meminta putri mereka secara baik2 Tuan.." usul Akira


"bagaimana jika mereka tidak mau?"


Akira menatap wajah Tuannya.


"kita berikan banyak hadiah, mungkin juga banyak uang, melihat informasi bahwa mereka bukan orang yang memiliki banyak harta..."

__ADS_1


"kita bunuh saja mereka,"


Akira terkesiap.


"jangan sampai gadis itu tahu identitas asli kita Tuan..dia bisa ketakutan dan melarikan diri.."


Kenzo menyilangkan kedua kakinya dan bersedekap.


"kita temui dulu orangtuanya Tuan...jangan sampai ada berita buruk tentang kita, apalagi kita baru memulai bisnis di negara ini.."


"baiklah, kamu atur semuanya.." angguk Kenzo


"baik Tuan.." Akira menundukkan kepalanya hormat


Kenzo berdiri dan berjalan memasuki kamarnya lagi.


Akira menghembuskan napasnya berat.


*****


"sudahlah bu, jangan menangis, aku akan pergi ke hotel tempat kerja putrimu..."


Ayah Reina mencoba menghibur istrinya yang terus saja menangis karena sudah 2 hari Reina tidak pulang ke rumah.


"aku khawatir Pak..." isak ibu Reina


Tok tok tok


Ayah dan Ibu Reina berpandangan mendengar suara pintu rumah yang diketuk.


"mungkin itu Reina,"


Ayah Reina pun bergegas untuk membuka pintu, dan betapa kagetnya saat melihat beberapa pria berjas hitam berdiri diluar rumahnya.


"selamat pagi Tuan,"


sapa pria yang berdiri paling depan.Wajahnya tampan, matanya agak sipit, kulitnya putih.Ia trsenyum, memamerkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"anda siapa?" tanya Ayah Reina bingung


"nama saya Akira, bisakah kita bicara di dalam saja?" jawab Akira menawar.


Ayah Reina hanya mengangguk, dan mempersilahkan orang2 itu masuk ke dalam rumahnya yang sempit.


Ibu Reina memandang bingung ruang tamunya penuh dengan pria2 berjas hitam yang tampak menakutkan.


"maaf Tuan, anda semua siapa? rasanya kita tidak pernah bertemu sebelumnya.."


"nama saya Akira, saya adalah asisten Tuan Kenzo, maksud saya kesini untuk meminta secara resmi putri anda, Tuan.."


"Reina? apa Reina bersama kalian??"


"benar Tuan, putri anda bersama Tuan Kenzo, karena itulah saya mewakili Tuan Kenzo untuk meminta putri anda.."


"putriku bukan barang!!" Ayah Reina pun emosi


"saya tahu Tuan,.. lebih baik anda bekerja sama dengan kami.." angguk Akira tersenyum tenang


"kenapa tidak Tuanmu sendiri yang kesini? sehebat apa Tuanmu meminta anak orang seenaknya?!"


"Tuan saya memang orang yang hebat Tuan, anda tidak akan rugi jika bekerjasama dengan kami soal nona Reina.."


Ayah Reina semakin naik pitam.Pria muda dihadapannya ini benar2 tenang.


Seorang pria berjas maju ke depan dan meletakkan koper di atas meja, membukanya, membuat Ayah dan Ibu Reina terperangah.Uang sekoper penuh.


"uang ini milik anda dan nona Reina menjadi milik Tuan kami.."


Ayah Reina membulatkan matanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2