Deviasi

Deviasi
#part 34


__ADS_3

Osaka, Jepang


"kamu ini terlalu gegabah! apa kamu lupa siapa putra mahkota klan Iwasaki??!"


Pria paruh baya yang rambutnya mulai memutih itu membanting semua barang yang dapat di jangkaunya.


Sementara seorang pria muda yang terbaring di sofa tampak meringis menahan nyeri bahu kanannya yang terkena timah panas.


Tak lama seorang pria berjas putih tampak tergopoh2 memasuki ruangan diikuti beberapa orang yang membawa tas2 berisi obat dan peralatan medis.


"Tuan Muda, mari saya obati!"


Pria yang tampaknya seorang dokter itu langsung memberikan pertolongan.


"aku tidak ingin terjadi hal seperti ini lagi, camkan itu!" desis si pria paruh baya dan pergi keluar.


"sial!" umpat si pria yang tertembak


"Tuan Muda, syukurlah..pelurunya tidak terlalu dalam, agak sedikit sakit, tapi aku akan cepat,"


"Lakukanlah.."


Pria muda bernama Kakei itupun tampak mengetatkan rahangnya, saat dokter memulai untuk mengeluarkan peluru dari bahunya.


Kakei, putra pewaris tahta klan Yamaguchi, terpaksa menelan kekalahan malam ini karena kedatangan si putra mahkota Iwasaki yang membantu adiknya saat hampir di bantai oleh Kakei dan anak buahnya saat transaksi senjata di perbatasan.


Dokter menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan rapi, kemudian membantu sang Tuan Muda memakai kemeja bersih yang diulurkan oleh pelayan, menutup tubuh telanjang atasnya dimana tato topeng oni menghias punggung kekarnya.


"baiklah, Tuan, pekerjaan saya sudah selesai, anda harus istirahat total 3 minggu untuk benar2 pulih,"


Kakei hanya mengangguk dan mengibaskan tangannya, isyarat ia ingin sendiri.


"kali ini aku kalah, tapi tidak untuk besok,," desisnya


*****


"Tuan Muda??"


Sakimoto tampak terkejut saat melihat kakak beradik putra Iwasaki datang di pagi buta.


"cepat panggil dokter, Eddy tertembak bahunya.."


titah Kenzo memapah Edward memasuki rumah utama.


Sakimoto langsung berjalan ke arah meja tempat telepon berada dan menghubungi dokter keluarga.


"berbaringlah," kata Kenzo membantu Edward berjalan menuju sofa


"aku duduk saja 'kak..." tolak Edward sambil meringis menahan sakit


Kenzo memandang Edward sedih, untung dia datang tepat waktu, jika tidak....


"jangan ceroboh lagi 'Ed...kakak tidak ingin kehilanganmu!" sentak Kenzo galak, meski dalam hatinya begitu khawatir.


Sudah cukup ia kehilangan ibunya, tidak untuk adiknya lagi.


"maaf 'kak...ini pelajaran untukku.." ringis Edward


"Tuan Muda, bagaimana keadaanmu? dokter akan datang sebentar lagi," Sakimoto tergopoh2 menghampiri Edward yang masih meringis kesakitan.


"tolong dulu para pengawal, mereka banyak yang terluka..."


"mereka bisa mengurus dirinya sendiri!" sentak Kenzo

__ADS_1


"tapi 'kak..."


"siapa ketua keamanan yang ikut transaksi?!"


Seorang pria berambut pirang maju ke depan, berusaha tampak tegap meski kedua lututnya gemetaran.


Siapa yang tidak kenal Kenzo? Siapa yang tidak tahu bagaimana seorang Kenzo jika sudah mengeluarkan tanduk amarahnya?


"saya, Tuan.."


Kenzo langsung menghampiri dan memukul wajah pria itu dengan keras, hingga jatuh terjengkang menabrak meja.


"apa kamu tahu kesalahanmu?!" teriak Kenzo menggelegar membuat semua orang langsung menunduk ketakutan


"maafkan saya,Tuan..semua kecerobohan saya.."


si pria langsung bersujud tak peduli bibirnya yang robek dan hidungnya yang mengeluarkan darah.


"kenapa adikku sampai tidak memakai rompi anti peluru??!"


"maafkan kelalaian saya, Tuan.." isak pria itu


Kenzo berjalan mendekatinya, menarik rambut pirang itu hingga kepalanya sampai mendongak ke atas.


Edward sampai melotot tak percaya, kakaknya bisa berubah bengis seperti iblis.


"kamu tahu aku tidak suka pengkhianat.." desis Kenzo, membuat si pria menelan saliva susah payah


"peng*gal kepalanya!" titah Kenzo sadis


"ampuni saya Tuan! ampuni saya!"


"kakak!" Edward begitu terkejut mendengarnya.


Para pengawal pun dengan sigap menyeret si pria berambut pirang keluar dari ruangan.


"kenapa 'kak...kamu kejam sekali..'' lirih Edward


"kita tidak akan memiliki semua ini kalau kita lemah, Eddy!" geram Kenzo


Sakimoto hanya terdiam melihat semuanya, karena kemarahan sang putra mahkota lebih menakutkan daripada Ayahnya sendiri.


Sakimoto tahu, kemarahan Kenzo masih ditahannya, karena ada Edward.


"untung tidak langsung ditebas dengan samurai seperti biasanya,.." batin Sakimoto


"siapa yang terluka??"


Suzuki, dokter keluarga Iwasaki datang tergopoh2.


"Tuan Edward, Tuan Suzuki silahkan..."


Suzuki langsung beranjak ke sofa dimana Edward berada.


"untunglah, tidak terlalu dalam lukanya..." kata Suzuki saat membuka baju Edward dan melihat luka di bahunya.


"segera obati dia," titah Kenzo membawa langkahnya ke sofa tunggal yang berada di dekat jendela besar yang menghadap taman.


"Untunglah Tuan Besar berada di luar negeri,.." kata Sakimoto lega, karena pasti akan terjadi perang jika Tuan Besarnya itu tahu.


*****


Reina terlonjak kaget saat sepasang tangan memeluk pinggangnya erat.

__ADS_1


"apa yang kamu lakukan?" kecupan singkat mendarat dilehernya yang jenjang karena Reina mengikat rambutnya asal ke atas, Kenzo meletakkan dagunya ke pundak Reina.


"mengagetkan saja," dumal Reina sambil terus memotong2 buah yang baru saja di ambilnya bersama Tuan Fuji dan Dena.


Entah kenapa Dena menghilang begitu saja, padahal baru saja ia berkata akan membantu Reina membuat salad buah.


"siapa yang menyuruhmu memasak?"


"aku tidak memasak, Tuan..tapi membuat salad buah.." kata Reina dengan berani.


Kenapa sih dia pulang, padahal aku sudah sangat senang 3 hari dia tidak pulang! batin Reina


Tangan Kenzo merambat naik, menyusup masuk ke dalam kaos longgar Reina.


Ya, sore ini yang lumayan terasa panas, Reina memakai kaos longgar dipadu celana jeans super pendek yang memamerkan kaki jenjangnya.


"lepas!" desis Reina saat Kenzo menangkup buah ranum milik Reina yang menjadi favoritnya.


"aku rindu sekali..." bisik Kenzo mengecup telinga Reina, hembusan napasnya terasa hangat dan berat.


Bahaya! batin Reina, selama tinggal bersama Kenzo, ia sangat tahu tanda Kenzo sedang bergairah.


"mandilah....a-aku buatkan lemon dingin?"


Kenzo memutar tubuh Reina menghadapnya.


"bagaimana kalau kita mandi bersama?" bisik Kenzo mengecup lembut bibir Reina


"tidak mau..." tolak Reina terengah saat Kenzo menciumi lehernya.


kemana para pelayan? sialann, gerutu Reina melihat ke sekeliling yang tampak sepi.


Hanya deru napas Kenzo yang terdengar memburu.


"atau kita bercinta di sini saja?" parau Kenzo


Reina menatap mata biru Kenzo yang mulai berkabut gairah.


Kenzo mengangkat tubuh Reina dan mendudukkannya di meja dapur.


"nanti ada orang yang melihat !!" bentak Reina galak saat Kenzo meraih kancing celananya dan melepasnya.


"tidak ada orang disini!"


Sekali sentak celana Reina terlepas, membuat napas, Kenzo semakin memburu.


Kenzo mencium Reina dengan keras, membuat Reina sampai kehabisan napas.


Kenzo kembali memasukkan tangannya ke dalam kaos longgar Reina, menyentak lepas kait bra yang berada di depan.


"hen-hentikan!" erang Reina saat Kenzo membungkuk dan menyesap buah Reina seperti bayi kehausan.


Kenzo kembali mencium Reina, sambil mendekatkan tubuhnya.


Masih berpakaian lengkap, hanya ikat pinggang yang terlepas dan resleting yang terbuka, Kenzo menyatukan tubuh inti mereka.


"kamu gila!" pekik Reina merasakan hunjaman Kenzo yang tak sabar mencari pelepasan.


"iya sayang...aku tergila2 padamu!" desah Kenzo


Reina mengalungkan lengannya ke leher Kenzo, saat merasa tubuhnya akan meledak karena mendekat dengan pelepasan.


Kenzo menyentak Reina hingga titik terdalamnya, membuat mereka mendesah mencapai puncak pelepasan bersama.

__ADS_1


****


__ADS_2