
Kenzo berdiri di depan jendela ruangan tempat Akira di rawat intensif.
"kakak..."
Kenzo melirik sekilas kedatangan adiknya itu.
"apa yang sebenarnya terjadi..."
"Willy masih menyelidikinya, kak..."
Edward pun mengikuti sang kakak menatap Akira yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa alat medis terpasang ditubuhnya.
"kurasa ini sudah direncanakan..." kata Eddy
Kenzo mengetatkan rahangnya.
Memorinya kembali mencoba mengurutkan potongan2 kejadian yang di alaminya sejak tiba di negara K ini.
Hingga berakhir ia terjaga dari tidur lelapnya dengan Kanami yang terbaring di sebelahnya.
Sama2 polos tanpa busana ditubuh mereka!
Kenzo mengusap wajahnya kasar.
Sungguh, ia sangat khawatir jika sampai Reina mengetahui kejadian ini.
Seumur hidupnya, baru kali ini lah Kenzo benar2 ketakutan.
Kenzo tak bisa membayangkan jika Reina pergi membawa baby twinsnya!
"apa mungkin klan Yamaguchi yang melakukan penyerangan ini kak?"
Kenzo menarik napas.
"mungkin, tapi kita tidak bisa menuduh mereka saja....jangan kau lupa, musuh klan kita tersebar dimana2..."
"Willy berpikir ini hanyalah perampokan, tapi setelah diselidiki, tidak ada benda berharga yang hilang..."
"jika perampokan, para pengawal tidak akan tewas begitu saja...pengawal2 yang bersama Akira adalah pengawal2 terlatih..."
"berarti penyerang Akira adalah orang2 yang terlatih juga..."
"Ya...itu sudah pasti,"
Kenzo dan Edward sama2 terdiam dengan pikiran masing2.
"kapan kakak kembali?"
"begitu Akira pulih,"
"bagaimana dengan kakak ipar?"
"setidaknya dia aman di mansion utama...ada Satsuki dan Sakimoto disana, lagipula Ayah pasti sangat ketat menjaga cucu2nya..."
Edward menatap Kenzo dengan mata birunya.Mata yang sama dengan kakaknya, warisan ibunya.
Tapi entah kenapa perasaanku tidak enak, batin Edward.
"aku akan menghubungi Dena untuk menemani kakak ipar selama kita di sini..." usul Edward
Setidaknya Dena bisa memberikan informasi tentang Reina setiap waktu.
"apa kau berhubungan dengan gadis itu?"
Kenzo menatap adiknya yang sibuk dengan ponselnya.
Edward mengalihkan perhatiannya.
"kurasa dia gadis yang menarik, lagipula dia sahabat kakak ipar, pasti dia gadis yang baik.."
senyum Edward
Kenzo tersenyum, membuat Edward terperangah.
"kenapa?"
"apa kakak akan merestuiku jika meminangnya?"
__ADS_1
"aku selalu mendukung apapun keputusanmu, Ed, seharusnya kau bertanya pada orangtua keras kepala di mansion utama..." kekeh Kenzo
"mungkin aku akan menikah diam2 saja.."
"kenapa kau selalu mengikutiku?!"
"karena kau idolaku...cuma kakak yang berani menentang Ayah..."
Kenzo tertawa sambil mengacak rambut Edward.
"aku sudah pria dewasa kak!" protes Edward sambil merapikan rambutnya
"bagiku kau selalu adik kecil yang harus kulindungi..."
Kenzo memeluk bahu bidang Edward.
Cuma kamu keluarga yang bisa mengertiku, dan kini bersama Reina dan baby twins,, batin Kenzo
**********
"suster..."
"iya, Nyonya?"
"bolehkah aku melihat anak2ku..?"
Perawat tampak berpikir sejenak seraya membantu membersihkan tubuh Reina.
"saya akan ijin ke dokter dahulu, apakah Nyonya bisa menunggu?"
"iya..." angguk Reina tersenyum
"baiklah, kita selesaikan dulu mandinya, Nyonya..."
Perawat pun dengan cekatan membantu Reina mandi dan memakaikan gaun tak lupa perhiasan yang sudah dikirim oleh pengawal suruhan Tuan Iwasaki senior.
"aku tidak mau memakainya," tolak Reina saat perawat akan memasangkan kalung berlian ke lehernya.
"nanti Tuan akan marah, Nyonya..."
"Ayah mertuaku selalu marah, suster, tenang saja.." senyum Reina
"terimakasih.."
"saya akan menghubungi dokter, Nyonya silahkan sarapan dulu..."
Reina mengangguk.
Perawat pun keluar ruangan tempat Reina dirawat.
Sudah 2 hari Reina di sini dan Kenzo seperti hilang kabarnya.
Reina pun tak diberi fasilitas telepon.
Seperti sengaja Reina di asingkan.
Reina tak menikmati sarapannya sambil menatap penjara mewahnya ini.
"Kenzo...kamu dimana..." gumam Reina susah payah menelan makanan yang masuk tenggorokannya.
"bahkan Eddy dan Dena pun seperti hilang,aku sendiri..." gumam Reina sedih
Tak berselang lama, Perawat kembali ke ruangan.
"Dokter sudah memberi ijin, kita tunggu petugas membawakan kursi roda untuk Anda.."
Senyum Reina mengembang.
"apa Nyonya menikmati sarapannya?"
"iya, suster..."
"bagus, setelah selesai sarapan, kita bisa menengok putra2 anda yang tampan, Nyonya..."
"aku tidak sabar, suster..."
"putra2 anda sudah menjadi idola semua orang disini ,Nyonya..." riang perawat menceritakan bagaimana tampan dan menggemaskannya putra kembar Reina.
__ADS_1
"apakah anak2ku sehat dan sempurna?"
"tentu saja Nyonya,...putra2 anda bayi tertampan yang pernah saya temui, mereka memiliki mata biru yang indah..."
Reina terperangah mendengarnya.
Jadi baby twins memiliki mata biru Ayahnya.
"ayo suster, aku tidak sabar melihat mereka," ajak Reina bersamaan dengan petugas yang datang membawa kursi roda.
"baik,Nyonya, mari saya bantu..."
Reina pun beralih duduk di kursi roda dibantu perawat dan seorang petugas.
Perawat meletakkan selimut tipis dipangkuan Reina, dan mulai mendorong kursi rodanya menuju ke ruangan bayi2 berada.
Dengan berdebar2 Reina mulai memasuki ruang bayi.
Perawat membawanya menuju 2 boks bayi yang bersebelahan dengan kelambu berwarna biru.
Kenzi Iwasaki dan Kenji Iwasaki.
Nama putra kembarnya.
Nama Ayahnya dan marga keluarga Ayahnya.
"Yang mana kakaknya?" tanya Reina
" kakaknya Kenzi, dan ini Kenji adiknya..."
Reina menutup mulutnya terharu melihat baby twinsnya.
Bayi2 mungil itu memakai baju bayi berwarna biru dan hitam, kedua tangan dan kakinya berkaus tangan dan kaki.
Si kakak tampak tidur tenang, sementara sang adik asik menggerakkan tangan dan kakinya seolah mengerti sang ibu berada di dekatnya.
"apa Nyonya ingin menggendongnya?"
"tentu.. Tentu aku mau..."
Reina mengangguk dengan penuh antusias.
Perawat pun mengambil Kenji, si bayi yang tampan dan aktif itu, dan membawanya ke pelukan Reina.
Kepalanya bergerak2 dan bibir mungilnya tampak bergerak2 mencari sesuatu dengan tak sabar.
"sepertinya dia ingin minum ASI," kekeh Perawat
Reina pun membuka gaunnya yang berkancing depan dan melepaskan penutupnya.
Kenji si bayi mungil langsung melahap sumber air kehidupannya, menghisap dengan rakus dan tak sabar, membuat Reina meringis menahan nyeri.
"Tuan Muda kecil benar2 lapar sepertinya,"
Perawat sampai tertawa geli melihatnya.
Reina menatap bayinya, yang perlahan membuka mata, ikut menatapnya.
Mata biru milik Kenzo!
"Mommy yang mengandungmu, membawamu kemana2 9 bulan, kenapa kau seperti Daddymu?"
Dan Kenji berhenti mengisap, senyum kecil tersemat di bibir mungilnya, seolah mengerti protes ibunya.
Reina mengamati wajah putranya yang lebih cenderung seperti orang barat daripada orang jepang.
"apa karena Mommy suka melihat uncle Edward ya? Untung saja rambut kalian hitam,meski wajah kalian seperti orang bule..." geli Reina.
Sang kakak pun menggeliatkan tubuhnya dan merengek.
Tak lama tangis kencang pun membahana.
"akhirnya bangun juga baby Kenzi,"
Hari itu Reina begitu menikmati perannya sebagai ibu baby twins.
Menyusui mereka dan belajar mengganti baju setelah dimandikan oleh perawat.
__ADS_1
Aku akan melindungi kalian, tidak akan kubiarkan kakek kalian memisahkan kita, sayang...
********