
Reina dan Kanami serentak menoleh ke asal suara.
"bukan pemandangan indah jika 2 wanita cantik saling bertengkar!"
Kakei tampak tersenyum tampan, berdiri di hadapan Kanami dan Reina.
Kanami yang melihat orang asing di antara mereka pun bergegas memilih pergi, karena ia tak ingin reputasinya baik yang dibangunnya selama ini rusak.
Reina mencebikkan bibirnya melihat Kanami melarikan diri.
"anda baik2 saja?" tanya Kakei melihat Reina menunduk mengusap tangannya yang kemerahan bekas cengkeraman Kanami tadi.
"saya baik2 saja, Tuan..." jawab Reina tersenyum
Wanita ini benar2 cantik jika dilihat dari dekat, batin Kakei terpesona.
"maaf saya permisi, Tuan..."
"panggil saja aku Kakei..."
"Ooh...kalau begitu saya permisi, Tuan Kakei.."
Kakei tersenyum, membuat Reina terpesona dengan mata cokelat Kakei yang tampak berbinar.
"tidak perlu pakai Tuan...cukup nama saja.."
"baiklah Kakei...saya permisi..."
"siapa namamu?" tanya Kakei berani
"Reina...maaf aku harus segera pergi.."
Bahkan dengan berani Kakei meraih tangan Reina.
"kenapa kamu terburu2 sekali, Reina?"
Reina tampak terkejut karena Kakei meraih tangannya dan menggenggamnya.
Baru kali ini ada yang berani menyentuhnya.
"maaf, aku harus segera pergi!" kata Reina menarik tangannya
"kenapa kamu tampak takut? siapa yang menunggumu..?" tanya Kakei menyelidik
"suamiku sedang menungguku, permisi!"
Reina pun bergegas pergi meninggalkan Kakei.
Senyum jahat tersungging dibibir Kakei, melihat Reina yang berjalan menjauhinya, yang tak lama kemudian beberapa pria berpakaian hitam langsung menghampirinya.
Kakei pun mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
"hentikan mencari informasi, karena aku sudah tahu semuanya.."
Jadi benar dia istrimu, akan semakin mudah aku menghancurkanmu!
*****
Kenzo sudah tampak berdiri di depan pintu masuk menuju resto.
Tatapan mata biru itu membuat Reina menelan saliva takut saat berjalan mendekatinya.
"kenapa lama sekali?" tanya Kenzo tak melepas tatapan tajamnya.
"tadi, aku bertemu tunanganmu..." jawab Reina
"apa?" Kenzo menaikkan sebelah alisnya
"dia menghadangku saat keluar toilet....bisakah kita pulang sekarang?"
Kenzo hanya diam, memandang Reina, dan mengernyitkan dahinya yang bagus melihat tangan Reina yang membekas merah.
"kita pulang," titah Kenzo
Akira pun mengangguk, kemudian berjalan mengikuti Kenzo dan mensejajarkan langkahnya.
"ada apa Rei? dan kenapa tanganmu memerah?"
Dena yang berjalan disisi Reina pun tak kalah terkejutnya
"aku bertemu wanita itu di toilet,"
"siapa?"
__ADS_1
"tunangan Kenzo!" gerutu Reina
"apa?? lalu? dia melukaimu?"
"hampir,,"
"kamu melawannya kan??"
"tentu saja!" angguk Reina tersenyum
"bagus Rei! tunjukkan pada wanita gila itu siapa dan apa posisimu di sisi Kenzo!"
Reina tertawa kecil mendengarnya.
"sayang kamu tidak ikut!" ucap Reina geli
"isshhh pasti sudah aku jambak rambutnya!"
Reina dan Dena tertawa bersama, membuat Akira menoleh ke belakang, membuat 2 wanita itu langsung menutup mulut dengan tangan.
"nanti kita lanjut lagi," bisik Dena
Reina mengangguk sambil menutup mulutnya menahan tawa.
*****
"masuklah..." titah Kenzo sambil mengecup sekilas bibir Reina
"mau kemana?" tanya Reina bingung karena Kenzo tak bergeming dari tempatnya duduk
"aku ada perlu sebentar, masuklah.."
Reina menatap Kenzo bertanya.
"apa kamu akan pulang?" tanya Reina lagi penasaran
Kenzo tak menjawab hanya menatap Reina dengan kilatan aneh di mata birunya.
Pengawal sudah membukakan pintu mobil dan Reina masih menatap Kenzo bertanya.
"aku benci wanita yang banyak bertanya," bisik Kenzo sambil menyesap leher Reina hingga menimbulkan bekas kemerahan.
"Ooh...aku tidak akan bertanya2 lagi, maaf, cuma simpanan!" ketus Reina dan beringsut keluar mobil yang langsung di sambut oleh Fuji dan Dena yang sudah berdiri bersama.
Kenzo menatap Reina yang berlari kecil menaiki tangga dan memasuki mansion.
"cari informasi, siapa pria yang menyentuh istriku di depan toilet tadi!"
"baik, Tuan..." angguk Akira dan menyuruh sopir untuk menjalankan mobil keluar mansion
"kita pulang ke markas utama,"
"ya Tuan!"
*****
Kakei menatap keluar halaman luas mansion dari atas balkon ruang pribadinya.
Seuntai senyum menghias bibirnya, pandangannya beralih ke telapak tangannya.
Masih teringat jelas saat ia menggenggam tangan Reina yang halus.
Entah kenapa, ada rasa hangat menyusup ke dalam relung hatinya yang semula dingin dan membeku.
"Reina....kamu harus jadi milikku!" gumam Kakei tersenyum menyeringai.
*****
Pagi hari yang cerah, Reina terjaga dari tidurnya yang tak nyenyak semalaman.
Reina beringsut bangun dan terduduk bersandar di headboard ranjang.
"selamat pagi, Nyonya..." sapa Fuji masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan Reina masuk
"selamat pagi...apa itu?" Reina menatap buket bunga mawar putih besar yang dibawa Fuji masuk ke kamar.
"Tuan Kenzo mengirim bunga2 ini untuk Nyonya.."
Huh, dia mau merayu! batin Reina gemas
"apakah anda ingin sarapan di kamar?"
"aku akan turun nanti, terimakasih,Tuan Fuji.."
__ADS_1
Fuji tersenyum sambil meletakkan bunga di atas meja kemudian membungkuk pamit keluar.
Reina turun dari ranjang dan menghampiri meja, dilihatnya sebuah amplop kecil terselip di dalam buket.
"i love you, my beautiful queen ❤"
Reina ingin tertawa keras membaca kartu kecil didalam amplop.
Dasar ! batin Reina senang, perlahan Kenzo menjadi pria yang hangat, tidak sedingin dulu saat pertama kali mereka bertemu.
Bergegas, Reina mandi dan mengenakan gaun yang cantik, bersenandung riang saat menuju ke bawah untuk sarapan.
"baru dapat lotere?" tanya Dena yang sudah duduk di meja makan
"hari ini senang saja rasanya,"
"karena dapat bunga ya?"
"salahsatunya..." angguk Reina dan tersenyum lebar.
"ayo sarapan, lalu kita pergi ke kebun,"
"okee.."
******
"Nona Kanami?"
Kanami yang baru keluar dari salon menatap bingung seorang pria yang berdiri dihadapannya.
"ya?"
"bisa ikut saya? Tuan saya ingin bertemu dengan anda," kata pria yang merupakan anak buah Kenzo
"siapa Tuanmu??" tanya Kanami bingung
"Tuan Kenzo..."
Kanami terkejut mendengarnya.Kenzo ingin mengajak bertemu? sejuta tanya menyergap Kanami yang membuatnya sedikit bahagia.
"silahkan ikut mobil kami,"
Kanami hanya mengangguk menuruti kemana pria itu akan membawanya pergi menemui Kenzo.
"apakah mungkin ia mau menerima pertunangan?"
Kanami terus bertanya2 selama perjalanan.
*****
"apa aku bisa meminta mobil?"
"untuk apa Nyonya?"
Fuji yang menghentikan kegiatannya memasukkan buah lemon ke dalam keranjang dan menatap Reina bingung.
"Aku ingin membeli kebutuhan bulananku,"
Sejenak Fuji mengernyit, kemudian tersenyum saat mengerti arah pembicaraan Reina.
"biar saya menyuruh pelayan wanita untuk membelinya, Nyonya..." usul Fuji
"tidak! aku mau beli sendiri!" tolak Reina
"tapi, Nyonya...Tuan bisa..."
"aku akan meneleponnya!" sergah Reina
Fuji masih menatapnya tak percaya.
"kamu tak percaya padaku??" tanya Reina tajam
"maaf Nyonya...saya hanya menjalankan perintah Tuan..." tunduk Fuji
"pengawal bisa mengikutiku kalau kamu tak percaya!" kata Reina lagi
Fuji menimbang sejenak kemudian mengangguk,
"baiklah Nyonya, pengawal akan mengikuti anda.."
"dari jarak jauh, aku tidak mau jadi perhatian!"
"baik Nyonya...."
__ADS_1
Reina tersenyum senang melihat Fuji yang menuruti perintahnya.
*****