
"lama tidak bertemu, Tuan Iwasaki.."
"benar Tuan Ryujin, lama sekali..."
Kedua pria paruh baya itu saling berjabat tangan.
"ini Kanami, putriku.."
"selamat malam Tuan Iwasaki.."
"selamat malam 'nak..kamu cantik seperti ibumu.."
Mereka tertawa bersama, sementara Edward hanya terdiam menyaksikan basa basi di hadapanny itu.
"apakah ini putra bungsu Anda?"
Tuan Iwasaki langsung menoleh ke arah belakang, tempat dimana Edward berdiri.
"Ya, ini putra bungsuku, ia baru kembali dari studinya di Amerika.."
"selamat malam Tuan Ryujin.." sapa Edward sopan
"putra anda benar2 tampan dan gagah," puji Tuan Ryujin tak lepas menatap kagum ke arah Edward.
"Ya, dia dan kakaknya adalah putra kebanggaanku,"
"Ya..terlihat anda begitu bangga..dimana kakaknya..?"
"Kenzo sedang keluar negeri untuk memberesi hotel yang baru dibelinya.."
"wah, putra anda memiliki hotel?"
"Ya, dia ingin melebarkan sayap bisnisnya.."
"hebat sekali Tuan Iwasaki..putriku juga sedang belajar tentang bisnis, pasti kita bisa menjalin kerjasama dengan baik..."
Lagi2 dua pria paruh baya itu tertawa, diikuti tawa kecil si anak gadis.
Edward menatap gadis yang hendak dijodohkan dengan kakaknya itu, dan dengan berani si gadis membalas tatapan Edward.
Entah mengapa, ada rasa tak suka dalam diri Edward melihat tatapan gadis itu, yang seperti menyimpan sesuatu.
*****
"aduuuhhh aku kenyang sekaliii..."
Dena dan Reina tertawa puas setelah menghabiskan banyak makanan yang mereka pesan lewat jasa aplikasi online.
"Bisa tidur nyenyak kita malam ini.." kekeh Dena
Kedua gadis itu duduk bersandar di sofa, sambil mengelus perut mereka yang membuncit kekenyangan.
Tiiittiittiitt
"ponselmu bunyi tuh.." seru Reina melihat ponsel Dena yang tampak berkedip
"haloo.."
Dena beranjak dari duduknya dan berjalan keluar menuju balkon.
Reina menatap Dena yang tampak serius berbicara dengan ponselnya.
"Reina!" seru Dena berlari kembali menuju sofa
"apaan sih?" dumal Reina yang jengkel saat Dena mencubit kedua pipinya
"ayo kita pergi ke Bali !" seru Dena
"untuk apa ke sana? buang2 uang saja!"
"gratisss, ayahku menyuruh kita ke sana,"
"memang ada apa di sana?"
"peresmian resort yang dibangun ayahku!"
__ADS_1
"Oohh.."
"ayahku kan arsitek dan kontraktor yang membangun resort itu.."
"ayo kita segera berkemas, besok kita ikut penerbangan paling pagi!"
"heee...lalu bagaimana rencana kita mencari orangtuaku..?" protes Reina
"sambil menyelam kita minum air, kita cari orangtuamu sambil berlibur!"
"hadeeehhhh Denaaaa !"
******
"Tuan muda,"
"ada apa Saki?"
"Tuan Besar ingin anda pergi ke pulau Bali untuk peresmian resort besok..."
"kenapa Ayah tak bilang padaku?"
"Tuan Besar terlalu sibuk menjamu Tuan Ryujin tadi.."
"apa aku bisa bertemu kakakku disana?"
"mungkin, karena Tuan Kenzo juga memiliki saham di resort itu.."
Edward menatap keluar melalui dinding kaca di kamar pribadinya.
"jet pribadi anda siap nanti malam, mungkin anda bisa mulai berkemas saat ini.." jelas Sakimoto
"baiklah Saki, kau yang mengatur semuanya.."
"sudah menjadi tugas saya Tuan Muda..semua harus berjalan sesuai semestinya.."
*****
"hoooaaamm.." Reina dan Dena sama2 menguap saat tiba di bandara.
Pagi2 buta mereka berangkat dari tempat kost Dena, dan langsung naik pesawat penerbangan pertama, dan sampai lah mereka kini di pulau Dewata, Bali.
"Non Dena!" seru seseorang
"Pak Rudi!"
Dena menyeret Reina yang masih terkantuk2 menghampiri seorang pria paruh baya yang tampaknya orang suruhan ayahnya.
BRUK!
Reina yang berjalan setengah sadar karena mengantuk menabrak seseorang yang melintas didepannya.
"i'm sorry Mister..." gagap Reina membantu memunguti barang2 pria yang ditabraknya.
"it's okay Miss...it's okay..."
Reina menatap pria dihadapannya.Lelaki bule,dengan rambut pirang dan bermata biru, sama seperti...
Lelaki itu tersenyum, ramah dan wajahnya tampan sekali, seperti...
"are you okay Sir?"
Beberapa pria berjas hitam menghampiri, tampaknya mereka adalah pengawal dari lelaki bule ini.
Si pria bule hanya mengangguk dan tersenyum, mengibaskan tangannya tanda semua baik2 saja.
"what's your name?" tanya Reina gila
"Edward, call me Eddy..." jawab pria bule ramah
"see you young lady.. be carefull.."
Masih saja Reina terpana dengan keramahan dan ketampanan si pria bule.
"memang seleramu cowok2 bule ya??" dumal Dena yang sejak tadi mengawasi Reina.
__ADS_1
"rejeki pagi2 buta ketemu cowok cakep Den..."
"isshhh dasar ganjen lu," omel Dena kembali menarik Reina bergegas keluar bandara, menghampiri Pak Rudi yang sudah menunggu di mobil.
Perjalanan menuju penginapan yang sudah disiapkan oleh ayah Dena benar2 memanjakan mata kedua gadis itu.
Pemandangan laut, pantai dengan pasir putih menemani perjalanan mereka.
"aku ingin main di pantai..." seru Dena, merasa takjub dengan apa yang di lihatnya.
Kantuknya langsung hilang begitu melihat pemandangan di luar jendela mobil.
"aku ingin tidur..." gumam Reina
Perjalanan selama hampir 1 jam pun tak terasa, mobil sudah memasuki pelataran sebuah penginapan.
"di dalam ada Bik Asih, kalau ada apa2 bisa minta tolong padanya, " jelas Pak Rudi
"Pak Rudi mau kemana?" tanya Dena beranjak keluar dari mobil
"mau jemput Bapak Non,"
"okelah kalau begitu.." angguk Dena
Reina pun keluar dari mobil, sambil menyeret koper kedua gadis itu pun memasuki penginapan.
"Non Dena..." seru wanita paruh baya berlari kecil menyambut Dena dan Reina.
"hai Bik...lama nggak ketemu.."
"aduuuhh...Non kemana saja! kok sekarang kurus begini sih??"
"ini ramping Bik, bukan kurus!" dumal Dena membuat Bik Asih memukul lengannya
"kenalkan, ini Bik Asih yang merawatku sejak kecil, Bik Asih, ini Reina, sahabatku yang malang..."
"isshhh apaan sih!" gemas Reina mencubit lengan Dena, membuatnya berteriak kesakitan.
Bik Asih tertawa, senang melihat keakraban kedua gadis itu yang seperti saudara.
"sudah2...ayo istirahat dulu,.." lerai Bik Asih
Reina dan Dena menghentikan aksi saling cubit mereka.
Bergegas mereka menuju kamar yang sudah di siapkan oleh Bik Asih.
"waaahhhh kereeennnn.." pekik Dena dan Reina saat melihat pemandangan pantai melalui jendela besar kamar mereka.
Dena membuka pintu menuju balkon dan mereka berteriak histeris karena senang.
"ayo cepat ganti baju, kita main ke pantai !"
"okkkaaaayyyy!!"
******
Edward berdiri di sisi jendela besar ruang Presidential Suite tempatnya menginap selama 3 hari ke depan.
"Tuan Muda, acara akan diadakan nanti pukul 3, dilanjutkan dengan makan malam.."
"Ya, aku mengerti.."
"ada yang anda butuhkan lagi Tuan?"
"Tidak terima kasih, aku akan berjalan2 ke pantai sebentar sebelum makan siang.."
"baik Tuan, saya akan siapkan mobilnya.."
Willy, asisten sekaligus tangan kanan Edward mengundurkan diri dengan hormat.
Dia adalah anak laki2 yatim piatu, orang Amerika asli yang di tolong Edward lepas dari kehidupan preman jalanan.
Usianya masih 19 tahun, tapi sikap dan pola pikirnya sudah seperti orang dewasa.
Edward menyukainya, kesetiaannya tak perlu di ragukan lagi.
__ADS_1
Edward kembali menatap keluar dan berharap ia akan bertemu kakaknya nanti.
*****